Saturday, May 20, 2017

Hodgkin Lymphoma

Berkenalan dengan Hodgkin Lymphoma -


APA ITU HODGKIN LIMFOMA ?

HODGKIN LIMFOMA ADALAH ...


Bismillah …
Hodgkin Limfoma, sederhananya adalah penyakit berupa kanker yang menyerang kelenjar tiroid. Tempat kelenjar tiroid juga tidak hanya berada di area selangkang atau paha dalam, sekitar mata kaki, ketiak, bahkan di leher pun ada. Hal kecil yang sering terjadi pada beberapa orang adalah di leher, jika mengalami tanda-tanda ingin sakit demam, flu, atau yang berkaitan dengan imun tubuh menurun, maka tiroid akan membengkak hingga sakit yang diderita sembuh, maka tiroid pun akan mengepis dengan sendirinya. Berbeda dengan Hodgkin, tiroid akan terus membengkak tanpa rasa sakit jika ditekan, bisa beranak hingga menjalar di area leher dan tulang selangka.

Sedikit pengalaman saya di bawah ini semoga bisa membantu teman-teman yang mungkin mengalami kebingungan bagaimana cara menghadapi dan menanganinya.

September 2015

Satu hari setelah menikah (Agustus), suami saya bercerita bahwa beberapa minggu sebelum menikah, dia merasakan ada benjolan sekecil kelereng di area tulang selangka. Hingga akhirnya saya memaksakan beliau untuk memeriksakan ke rumah sakit swasta terbaik di daerah Bontang Utara, sebut saja RSP (September). Suami saya mengunjungi poli umum di klinik sesuai faskes di BPJS nya saat itu, meminta rujukan ke spesialis internis RSP agar bisa mendapatkan tindakan medis lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan dr internis, suami tidak diminta untuk tes darah, hanya tes lendir/liur di lab dan pemeriksaan fisik dengan cara ditekan bagian yang membenjol seperti kelereng. Keesokannya suami diminta untuk mengunjungi dr patologi yang jadwalnya saat itu hanya pada hari Sabtu. Di ruang patologi, suami saya disuntikkan dengan alat yang agak besar ke benjolannya untuk diambil sedikit isi/sampel dari benjolannya untuk dianalisa. Kesimpulannya adalah suami saya didiagnosa terkena KELENJAR TBC.

Oia, yang membaca lebih lanjut hasil analisanya adalah dokter internis, dari beliau suami dibekali obat TBC yang dikonsumsinya tidak boleh putus setiap pagi dalam keadaan perut kosong. Jika telat sehari tidak mengonsumsi maka harus mengulang dari awal.
Apa reaksi kami? Reaksi kami hanya memaklumi, karena suami bukan perokok dan tempat kerjanya juga di laboratorium tambang, teman-temannya juga banyak yang perokok, belum lagi kalau habis main futsal, saat imun tubuh lagi turun, dia terpaksa menghirup udara yang tidak baik, ditambah dengan udara yang kurang baik di laboratoriumnya jika sedang menganalisa material tambang.


MARET 2016
Hampir TUJUH bulan suami saya mengonsumsi obat TBC tapi tidak kunjung sembuh. Suami saya juga rajin mengonsumsi herbal-herbal ini itu tapi tidak mempan. Rentang September 2015 menuju awal maret 2016 suami saya sering mengalami demam tinggi hingga 45 derajat dengan segala bengkak di lehernya yang semakin membesar, kadang hilang, ternyata akan menggembung di sisi lain lehernya. Menderita. Belum lagi keadaannya saya saat itu sedang hamil muda, kayaknya masuk 3 bulan yang juga lagi butuh care nya suami, tapi ternyata kita diminta Allah untuk saling care dengan komposisi yang sama besarnya. Saya sering menangis tiba-tiba, sedih lihat keadaan suami, kami yang berpacaran selama enam tahun yang terbiasa melihat fisiknya yang bagus, jarang sakit, ganteng (haha), aktif futsal dan sepakbola lapangan, bener-bener sehatlah menurut saya tiba-tiba jatuh sakit yang penyebabnya juga sebenarnya kami masih meraba-raba, ya mungkin lagi kena musibah saja. Berbagai cara ditempuh oleh kedua orang tua dan mertua saya, mulai dari mertua yang menyarankan alternative ini dan itu, sampai ada yang tindakannya di luar nalar yang sangat sangat saya tentang, tapi saya lagi-lagi bisa apa, saya Cuma seorang menantu, takut berkata ini itu karena takut menyinggung hati beliau. Sampai akhirnya saya memberanikan diri bercerita kepada beberapa guru (teman mengajar) di sekolah tempat saya mengajar, dengan niat semoga saya bisa mendapatkan solusi, apalagi sebagian besar di tempat ngajar saya, lebih banyak guru senior yang pasti sudah punya cerita dan pengalaman. Akhirnya solusi ini dan itu saya mendapatkan satu pesan, sebelum  akhirnya memutuskan untuk mencari second opinion ke rumah sakit AW SJAHRANIE di Samarinda (AWS).

“HERBAL ITU TIDAK AKAN BERFUNSGI JIKA DIKONSUMSI SAAT PENYAKIT BERUPA TUMOR ATAU KANKER SUDAH POSITIF MENEMPEL DI TUBUH KITA. HERBAL HANYA BERMANFAAT UNTUK MENCEGAH, MENGHINDARI DAN DALAM PROSES PENYEMBUHAN.”

Ada juga yang seperti ini …

“KANKER DAN TUMOR HANYA BISA DISEMBUHKAN OLEH BAHAN KIMIA, OBAT-OBATAN ANJURAN DOKTER, BUKAN DUKUN, BUKAN JUGA ORANG YANG SELALU MENYARANKAN MENCAMPURKAN BAHAN ALAMI INI DAN ITU.”

Atau yang seperti ini …

“SAYA, BAPAK A, BAPAK D, IBU C, IBU B, DULU PERNAH KENA PENYAKT KANKER, MEREKA MELAKSANAKAN TINDAKAN MEDIS YANG DISARANKAN DOKTER, DAN SEKARANG, SEHAT BUGAR, SEGER.”

Dan akhirnya, setelah saya menceritakan tentang apa yang saya terima di sekolah kepada suami, beliau akhirnya mantap ke samarinda untuk menemui dokter internis di sana. Dari dr internis akhirnya keesokan harinya suami dirujuk ke poli bedah, dan berujung dengan tindakan BIOPSI ; Pembedahan/operasi kecil untuk mengambil sampel kelenjar yang membengkak. Tindakannya ya harus bermalam di ruang rawat inap dan berpuasa, seperti pasien operasi lainnya.

Hasilnya,
ternyata suami saya positif HODGKIN LIMFOMA dan HARUS KEMOTERAPI.

Kemoterapi. Mendengarnya saja saya sudah ketakutan. Takut suami saya umurnya tidak panjang. Karena cerita-cerita dari banyak orang, kemo itu sudah seperti orang yang setengah hidup. Tapi bersyukurnya saya dikelilingi oleh orang-orang yang kaya ilmu dan pendidikan medis, dan saya juga banyak melihat orang-orang yang saya kenal (beberapa guru tempat mengajar) banyak yang pernah menjalankan kemo, tapi searang kondisinya sudah kembali fit, segar sehat. Walaupun selama rentang kemo itu, pasien akan banyak kehilangan rambut, bulu alis, kulit menghitam, kuku menguning, muka kusam, dll. Tapi ternyata itu semua tergantung hati, pikiran, dan sugesti si pasien sendiri. Ada juga pasien kemo tapi tidak terlalu berdampak kekurangannya karena sugesti dia selalu positif akan sembuh dan “ENJOY” dalam menjalani pengobatanya.

Asumsi kami, berarti dokter sebelumnya yang memvonis suami saya kelenjar TB, salah? Tapi lagi-lagi kami berpikir positif untuk tidak mengarah ke kejadian sebelumnya. Karena saya takut jadi tersugesti untuk terus berpikir negative terhadap dokter yang menangani suami saya sebelumnya. Pantes saja segala obat yang diresepkan tdak pernah berdampak apa-apa bagi suami saya. Setidaknya saya bersyukur, suami saya tidak terkena penyakit atau mengalami efek samping lain yang lebih parah karena salah mengonsumsi obat selama hamper TUJUH BULAN. Sedih saya waktu itu. Sedih sekali. Hancur hati, karena melihat suami saya yang berjuang dengan mengonsumsi obat-obatan itu tapi ternyata bukan itu obat yang harus dia terima.

Kenapa saya tidak mencoba rumah sakit lain yang ada di Bontang saat suami saya tidak juga kuntuk masuk di tubuh. Beberapa kali kemo awal, suami saya hanya menjalankan kemo selama ENAM JAM.

Begitu kemo ke-8 kalau tidak salah salah, obat kemonya pun ditambah, maka waktunya selama kemo pun akan semakin lama, sudah naik darnjung sembuh? Sederhana, karena kota Bontang ini sangat kecil. Dokternya juga pasti tidak akan jauh berbeda dari segi penalaran dan pengalamannya. Makanya kami langsung mencari second opinion ke rumah sakit AWS yang memang sudah sangat terpercaya pelayanan dan fasilitasnya lebih lengkap, juga di sana banyak dokter spesialis yang bertugfas.

April 2016
Suami saya memulai kemo bulan April 2016.
Pertama hingga ke-4 kalinya, tidak berdampak apa-apa, karena suami saya susah payah mengatur sugesti positif salama kemo berlangsung. Walaupun awalnya suami muntah-muntah, kata dokter, itu penyesuaian obatnya u
i enam jam menjadi 12 jam. Tersiksa. Saya memang tidak menemani, tapi saya bisa merasakan sakitnya bagaimana. Saya banyak terima kasih kepada kedua mertua dan adik ipar saya yang siap menjaga suami, menemani, mendampingi setiap suami berangkat kemo di samarinda. Kondisinya saya yang sedang hamil, lagi-lagi menjadi alasan untuk tidak mendampingi suami.

Agustus 2016
23 Agustus 2016, anak saya akhirnya lahir dengan sehat selamat. Walaupun selama kehamilan saya selalu control tiap bulan dengan dokter kandungan di RSP juga, dokter kandungan saya sangat care , mengawasi dan memantau apakah saya dan si adek bayi ini aman, apakah tidak mengalami sakit yang sama dengan suami. Alhamdulilah saya tidak memiliki dampak apapun terhadap kesehatan dan fisik, hanya ada dampak sakit hati dan jiwa melihat suami saya menderita sakit seperti itu. Gak tega, gak percaya kenapa suami saya diberikan sakit seperti itu. Lagi-lagi segala sakit, duka, suka, dan apapun itu merupakan ujian Allah untuk selalu menguatkan dan menguji iman HambaNYA. Suami memang tidak menemani saya di ruang lahiran malam itu. Suami hanya menemani hingga bukaan 4 karena memang kondisi fisiknya sedang tidak baik, demam dan pusing, efek penyakitnya saat itu. Mungkin dia kaget juga melihat saya mengerang kesakitan menunggu bukaan demi bukaan saat itu. Namanya juga emak-emak mau lahiran, udah kayak kesurupan haha.
Sayangnya, suami hanya bisa melihat si bayi ini dari dia lahir hingga besok paginya saja, karena keesokan paginya suami harus berangkat ke samarinda lagi untuk menjalankan kemoterapi lagi.
Sedih saya. Sedih lagi mertua dan orang tua saya. Pokoknya kami sedih, hati kami hancur gak sanggup meihat keadaan suami. Walaupun suami saya fisiknya masih segar padahal sudah berkali-kali kemo.

Desember 2016
“Yang, rambutku kayaknya rontok.”
Langsung lari ke kamar mandi, mandi guyuran sambil nangis biar gak didenger sama suami. Hancur hancur sehancurnya hati saya melihat rontokan rambut suami di Kasur, di ambal, di lantai, di manapun. Saya kemarin berpikir itu rambut anak saya yang pelan-pelan rontok, anak saya saat itu berumur empat bulan. Kemoterapi menjelang akhir memang obatnya bisa dikatakan yang sudah sangat keras sehingga mual muntah suami yang biasanya hanya sehari, ini bisa sampai dua – tiga hari gak nafsu makan. Hanya minta es buah dan makanan yang berkuah untuk penawar mualnya setelah kemo.

Akhirnya, mas minta dicukurkan rambutnya sampai gundul. Modal kerokan jenggot yang murah itu, saya kerok, saya susah payah nahan air mata supaya gak nangis. Abis itu saya ke kamar mandi lagi, pura-pura cuci muka padahal di situ lagi nangis sejadi-jadinya. Setelah suami saya cukur, anak bayi ini saya cukur juga, jadi dua-duanya gundul.

Kedukaan kami tertutupi oleh satu kebahagiaan kami diberikan anak bayi lucu gemesin, dan kami beri nama RENJANA. Saya pernah Bahas tentang nama anak saya sebagai doa di post sebelumnya.


Februari 2017
Bukan main bahagianya saya ketika suami mengatakan bahwa kemoterapinya sudah selesai. Tiroid yang membengkak itupun memang sudah sejak akhir 2016 perlahan menghilang dan mengempis, suami tidak lagi pernah demam, pusing, dan lain-lain.  Sudah mulai berani kembali futsal.
Rambut perlahan muncul perhelai. Walaupun memang kulitnya agak menggelap dan kusam.
Total suami menjalankan 12 kali kemo.

Suami hanya disarankan untuk control dan tidak rutin juga tidak apa-apa. Tapi tetap harus memantau sendiri jika nanti siapa tahu ada benjolan lagi harus segera di cek. Sel kanker siapa yang tahu, dia tetap akan bisa tumbuh lagi tergantung si pasien memakan apa, gaya hidupnya sehat atau tidak, itu semua berpengaruh terhadap munculnya sel kanker.

Mei 2017
Rambut suami saya sudah tumbuh lebat, seneng rasanya!
Sudah mulai rutin futsal lagi. Dan tetep konsisten maunya makan masakan rumah sendiri, bukan masakan bulek2 warung. Berhenti konsumsi makan yang ga sehat. Karena kemarin pernah Tanya, dulu suka makan apa kok bisa sampe sakit kayak begini. Jawabannya suami : MIE INSTAN.
Oke, berhenti konsumsi yang instan2 kalau begitu. Selama suami kena sakit dari segala sakit yang salah diagnose itu, kami sudah berhenti  mengonsumsi masako, royco, ajinomoto dan lai-lain. Kami hanya menggunakan garam dan gula tok. Karena kami sangat menghindari penyakit gara-gara apa yang kami konsumsi. Agak capek memang saya rasa selalu masak dan masak. Tapi demi suami dan keuangan rumah tangga, harus dibisakan. Dan pasti segala kebaikan yang kita kerjakan pasti hasilnya akan kita tuai indah. Saya juga jadi terlatih masak ini itu dengan segala bumbu dan resep.

^^^
^^^
^^^

Sekian cerita saya. Semoga bisa membantu teman-teman yang saat ini sedang bertanya-tanya tentang penyakit yang berkaitan dengan kanker tiroid. Saran saya, ikuti saran dokter dengan BISMILLAH. Jangan suudzon, gunakan akal dan nalar temen-temen untuk tidak berobat ke dukun. Karena saya sudah pernah melihat kejadian, kanker tapi ngotot diobati ke orang pintar, dukun, dan hanya modal bahan alami, akhirnya nyerah tambah parah baru mau kemo, sayangnya hanya sekali-dua kali kemo, beliau meninggal. Usaha boleh, usaha wajib, tapi gunakan nalar. Kanker dan tumor hanya bisa disembuhkan dengan tindakan medis dari dokter. Itu keyakinan saya.

 Oia, jika ada yang bertanya kapan fase terberat saya ketika mendampinginya selama hampir dua tahun pernikahan dengan status suami saya yang menderita kanker HL, saya masih selalu menjawab dengan menahan airmata :
saat suami saya pasang muka cengengesan

"Yang rambutku udah mulai rontok, bulu kaki juga, alis ini juga kayaknya yang, tuh di lantai kayaknya rambutku semua."

hati saya mendadak sesak saat itu, tapi hanya saya bales ketawa hampa. Ujung-ujungnya saya pura-pura BAK di kamar mandi, padahal saat itu saya nahan air mata sekuat hati dan tenaga saya. 

BUT ITS OVER NOW. HE HEALED BY HIS FEELS. THANKS GOD.
   
Terima kasih, semoga bisa diberikan saran dan kritik. Bagi pembaca yang berlatarbelakang ahli medis, mohon maaf jika ada pernyataan saya yang kurang tepat. Salam sehat!!!


Alhamduillaahh…



^^^ 

Friday, March 17, 2017

TES MANTOX

TES MANTOX


http://www.klinikvaksinasi.com/vaksin/tes-mantoux/ 

Weww, tiga bulan enggak blogging lagi rasanya bingung mau mulai dari mana ceritanya. hehee. Mulai dari cerita tes mantox aja lah ya. Bagi temen-temen kalangan dokter, temen-temen yang udah pernah tau, atau udah pernah melakukan, mohon sayanya dikoreksi jika ada kesalahan. 

Info tes mantox ini saya dapat dari salah satu temen yang profesinya perawat, sebut saja April :D . Kebetulan ketemu di acara wedding temen sekolah kami, saya ada curhat dikit tentang bb kisah (anak saya) naiknya gak signifikan seperti bayi yang montok pada umumnya. Ketakutan saya tentang penyakit flek paru, TB, dll .Si April saran ke saya untuk segera tes mantox.  Sedikit penjelasan tentang tes mantox,


Alasan saya akhirnya minat banget mau tes mantox karena :

1. 2015 silam, suami saya pernah salah didiagnosa terkena kelenjar TB di area leher, tulang selangka. 6 bulan pengobatan enggak sembuh-sembuh, kami cari second opinion ke rumah sakit AWS Samarinda, ternyata suami saya positif Hodgkin Limfoma.

2. Lingkungan kota kami, diapit dua pabrik besar, PKT dan PT.Badak yang mengakibatkan tercemarnya udara yang tidak baik bagi kondisi paru-paru warganya.

3. Kami di rumah full menggunakan ac dan kipas.

4. Kisah sering kami ajak bepergian menggunakan motor

5. BB kisah di usianya 6 bulan ini tidak signifikan, dari usia 5 bulan menuju 6 bulan hanya naik 2 kg. Walaupun kata temen-temen dan keluarga saya, Kisah memanjang, enggak menyamping, hahaa. Btw, anak saya memang sedikit agak tinggi untuk usia dia saat ini 

6. Suami saya bukan perokok tapi karena bekerja di laboratorium maka udara yang biasa dihirup kurang baik, itupun sempat didiagnosa kelanjar TB dan ternyata salah diagnosa.

7. TB tidak hanya disebabkan oleh asap rokok, bisa juga terjadi karena udara yang tidak baik. HARUS DIPAHAMI BAHWA ASAP ROKOK MEMANG BISA MENJADI SUMBER UTAMA TAPI UDARA YANG KURANG BAIK BISA MENJADI PENYEBAB SEGALA PENYAKIT PARU.

Bukan bermaksud berlebihan, tapi saya sangat aware dengan segala gejala yang merupakan sumber dari segala sakit. Iya, sakit memang takdirNYA, tapi jika sedari dini bisa kita deteksi, maka penyembuhannya semakin cepat dan efektif. 

Alur awalnya, kami ke Klinik Satelit 1 saat itu karena kami tanggungan BPJS maka harus ke Faskes 1 dulu untuk bisa dirujuk ke Dsa rumah sakit. Konsultasi dengan dokter umum, dan ternyata alhamdulillah dapet dokter yang peka banget, kami banyak ngobrol di dalam, kisah juga dapat rujukan langsung ke dokter spesialis anak terkenal di Bontang, dr Made di RSIB YABIS. Padahal kami pikir bakal dirujuk ke dsa di rumah sakit PKT, karena kami dari dulu selalu berobat di rumah sakit pkt. 

Besoknya kami ke RSIB YABIS untuk pertama kalinya, bertemu dengan dr Made dengan melalui segala rintangan antrean pasiennya yang membludak, takjub banget sama keadaan ruangan beliau. Asistennya ada tiga, ruangannya penuh balon, selain dipenuhi dengan boneka pada umumnya. 

Kami sempat ditegur kenapa baru sekarang memutuskan tes mantox dengan segala riwayat penyakit suami saya yang akhirnya sudah selesai masa kemoterapi dari hodgkin limfoma. Alasan dan siapa yang menginfokan mengenai tes mantox pun gak luput dari pertanyaan dr made. Saya jelaskan alasan saya seperti di atas kepada dr made, yaa saya dapat acungan jempol, yeay! Ternyata menurut dr made, alasan saya sangat tepat, jadilah kami lama ngobrol di dalam, ya tentang penyebab penyakit anak jika tinggal di lingkungan pabrik seperti kota kami. 

Sebelum masuk di tes mantox, kisah diarahkan untuk tes darah dan foto rontgen paru. 
Untuk tes mantox, ternyata gak bisa langsung individu gitu, harus nunggu panggilan lagi di hari lain (terjadwal), jadi harus sesuai quota yang tersedia, mungkin obat yang dimasukkan agak sayang kali ya kalau hanya untuk satu orang dan akan banyak yang tersisa nanti cairan obatnya.

Dua hari berikutnya kami datang kembali untuk melihat hasil tes rontgen paru dan tes darah, Alhamdulillah KISAH NORMAL, SEHAT! Untuk bb kisah, alhamdulillah mencapai ideal, dan lagi-lagi dijelaskan, anak gemuk bukan selalu pertanda dia sehat, anak sehat semua ada penilaian dari dsa, mulai dari keaktifan yang dinilai dari motorik kasar dan halusnya, bb, lingkar kepala, dan panjang badan. 

Tiga hari berlalu, kami akhirnya dihubungi untuk hadir tes mantox, tapi akhirnya kami tidak hadir, karena saat itu saya ada kegiatan akreditasi sekolah selama seminggu yang tidak bisa ditinggal sama sekali, huhuu. Suami juga ada kerjaan yang bener-bener gak bisa ditinggal. Kami akhirnya memilih enggak terlalu bela-belain akan tes mantox ketika hasil tes darah dan rontgen paru juga penilain individu dari dsa telah menunjukkan bahwa kisah sehat, kisah enggak ada masalah apapun. Mengingat, cerita dari temen, bahwa tes mantox itu sekecil atau seringan apapun penyakitnya akan terlihat, contohnya alergi makanan, maka akan terlihat, saya tidak meremehkan, hanya saja saya sudah cukup puas dengan pembuktian tes darah dan rontgen. 

Sebelumnya juga kami sudah banyak mencari tahu mengenai tes mantox setelah temen saya menyarankan itu. Yang penting saya sudah paham mengenai tes mantox, saya lega ternyata anak saya enggak kenapa-kenapa.

Tentang suami saya yang kemarin mengidap kanker hodgkin limfoma, itu TIDAK MENULAR dan kecenderungannya kecil untuk diturunkan kepada anak cucunya nanti. Yang paling penting adalah, menjaga asupan gizi dan lingkungan anak. 

Besok-besok saya akan cerita tentang penyakit suami saya yang menggerogotinya di usia Ayah muda, hahaa..

BYE! SALAM SEHAT SELALU!


Wednesday, December 7, 2016

Mamak-Mamak Masa Kini


KKA, BUKU ANTI PANIK, KMS


Bismillahi …

Akhirnya bisa sempatkan waktu untuk bisa berbagi cerita lagi.
Semoga tidak dimaknai pamer atau sok paling tau ya hehee.

Di page ini sedikit mau berbagi mengenai KKA (Kartu Kembang Anak) yang saya dapat dari ibu saya yang juga seorang Kader Posyandu di RT sekitar rumahnya. KKA yang dikeluarkan oleh BKKBN ternyata tidak dimiliki semua orang, hanya beberapa saja, salah satunya mereka yang sudah mengikuti pelatihan sebagai Kader Posyandu. Lalu, ada juga beberapa rangkaian tugas yang biasanya dilakukan oleh petugas TPA, saya dapat copy’annya dari posyandu. Berguna banget buat kita pelajari di rumah.

Dalam mendidik anak mengenai sopan santun, budi pekerti, saya panutannya tetep ke ibu dan bapak saya sendiri, saya juga rajin baca-baca KKA dan Buku Pink ibu dan anak, sama BUKU ANTI PANIK 0-3 TAHUN karya TIGA GENERASI. Bukunya saya rekomendasikan banget pokoknya. Sesuai dengan isinya KKA.

KKA hampir sama dengan KMS.
KKA berisi mengenai tabel yang bertuliskan tugas antara ibu dan anak untuk memantau dan mendukung perkembangan anak yang berkaitan dengan motorik kasar, motorik halus, kemampuan sosial, dll. KKA juga berisi grafik mengenai pertumbuhan dan jadwal vaksin anak.

Sedangkan KMS hanya berisi mengenai grafik pertumbuhan dan jadwal vaksin anak.

KKA bener-bener sangat penting bagi ibu-ibu yang sangat aware dengan perkembangan anak. KKA juga bisa bikin kita gak baper dan gak asal ceplos kalau ketemu dengan anak-anak lainnya. Dalam KKA sudah tercantum di usia berapa anak biasanya sudah bisa merangkak, duduk sendiri, dan berjalan. Semua dicantumkan dalam KKA hingga usia anak tersebut sampai di usia 5 tahun lebih (66 bulan).

Kalau ada yang pernah mendengar istilah DDTKA (Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak), mungkin paham mengenai apa saja tugas Ibu dan anak untuk mencapai perkembangan yang seharusnya di usia mereka. KKA berguna untuk mendeteksi tumbuh kembang anak apakah perkembangan motoriknya sudah tepat pada usianya saat itu.

Jadi, KKA itu kertasnya sedikit lebar daripada KMS yang menyebar sekarang, bahan kertasnya juga lebih sedikit kaku dibanding KMS. Cara membacanya saya ajarin ya kalau ada yang belum tau tentang KKA. Kalau sudah ada yang tau, cukup close aja kalau gitu hahaa..



*Grafik dan keterangan tugas ibu dan anak dari usia 0 – 36 bulan

Cara membacanya seperti ini :

Keterangan kiri itu adalah pencapaian kemampuan alamiah anak setiap bulannya
Keterangan kanan adalah tugas dari ibu agar si anak mampu mencapai perkembangannya sesuai dengan usianya tiap bulan
Terdapat keterangan berupa KP, TS, GK, KA, GH, MD, KP, dll merupakan singkatan dari manfaat kegiatan tersebut dilakukan setiap bulannya. (Ada di halaman keterangan pencapaian di usia 39 bulan – 66 bulan).

Contoh :
(Lihat tabel kiri) Anak pada usia 4 bulan dipastikan sudah mampu miring sendiri atau tengkurap.
Tetapi jika anak hingga usia mendekati atau sudah masuk 4 bulan belum juga mampu miring sendiri atau tengkurap, Ibu bertugas untuk memancing anak dengan rajin berbicara atau menyanyi di depan bayi (lihat tabel kanan sejajar usia 4 bulan kiri ke kanan).

Nah, di keterangan tsb ada singkatan GK  (Gerak Kasar/ Motorik kasar). Berarti kegiatan miring sendiri atau tengkurap berguna untuk melatih gerak kasar anak.
Begitu seterusnya mengikuti usia anak di tiap bulannya.



*Kiri : halaman pertama atau cover dari KKA …
Kanan : Grafik dan keterangan tugas ibu dan anak pada usia 39 bulan hingga 66 bulan




*Tugas tambahan yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Lampiran di atas umumnya digunakan di TPA.


Oia, jangan juga beranggapan bahwa anak yang masih usia 2 bulan lebih itu hebat jika sudah mampu tengkurap atau miring sendiri. Jangan baper ibu-ibuk. Kebetulan anak saya ketika usia 2 bulan 3 minggu, sudah mampu tengkurap sendiri. Saya seneng, tapi takut. Takut si anak ini jika terlalu cepat kemampuannya maka akan semakin banyak membutuhkan asupan ASI, takut juga saya kalau si anak tidak tercukupi banget rutinitas ngASInya, bisa-bisa sakit dia. Apalagi saya juga bekerja di luar rumah.

Apakah di usia 4 bulan harus bisa tengkurap?
Sekali lagi, selincah-lincahnya kita memancing perkembangan anak, tetap semua kuasa Allah yang memberikan kemampuan yang ALAMIAH bagi anak.

Tapi kenapa ada yang sudah cepet ya perkembangannya?
Patokan bisa tengkurap memang maksimalnya di usia 4 bulan. Apabila lewat dari 4 bulan belum bisa tengkurap, nah sudah ada tugas yang menanti ibu (keterangan tabel kanan).
Begitupun seterusnya.

Mengapa KKA berisi tugas ibu dan anak hanya sampai di usia 66 bulan?
Nah, Usia 0 – 3 Tahun atau 0 – 60 bulan merupakan USIA EMAS anak-anak kita lhoo. Makanya kenapa diciptakan KKA dan DDTKA dari tim kesehatan atau BKKBN ya supaya ibu-ibu terbantu untuk mencerdaskan anak.

Mengapa KKA tidak membahas mengenai keagamaan dan nilai-nilai moral atau budi pekerti?
Urusan agama, dan juga sopan santun pasti semua ibu sama. Semua urusan masing-masing ibu untuk membesarkan anak dengan MENDIDIK menanamkan nilai-nilai agama. KKA hanya bertugas untuk membantu ibu dan anak mengembangkan kreatifitas anak melalui motoric kasar dan halus agar besarnya nanti, dia tidak kaku dalam bersosialisasi, kerja kelompok, dan mengikuti kegiatan olahraga.

LOH? Kok kegiatan olahraga?

Kita pernah sekolah ya, nah waktu sekolah itu coba deh ingat lagi siapa temen-temen kita yang saat olahraga waktu ada materi berlari atau atletik, mereka larinya guya guyu kayak gak punya tulang belakang? Nah, itu salah satunya manfaat dari aktifnya motorik kasar sejak kecil. Sumber saya dapatkan dari temen-temen ibu saya yang bekerja di BKKBN dan seorang bidan juga dr anak.
Coba ingat juga deh temen-temen kita dulu, siapa yang paling suka menutup diri di kelas sehingga masuk dalam kalangan minoritas dan kurang menonjol di angkatan kita? Nah, silakan beri kesimpulan sendiri ya.

Yang sudah tinggal sendiri tidak seatap lagi dengan orang tua, saran saya tahan dulu untuk membeli sofa, meja makan, atau lemari-lemari hias yang banyak. KENAPA? Supaya si anak ketika mampu berjalan sendiri dengan tertatih-tatih dia bisa sepuasnya mengeksplor rumah sebebas-bebasnya tanpa ada halangan guci-guci, lemari, sofa, dll. Kapan lagi anak bisa merasakan lari-larian bebas dalam rumah, sepedaan roda tiga dalam rumah muter-muter ruang tamu tanpa dihalangi sofa dan meja. Lucu bayanginnya. Itu juga bisa bantu melatih motorik kasarnya loh. Kemarin juga dapat saran dari beberapa temen di kantor untuk seperti itu.

Saya belajar dari Kakak sepupu saya yang sekarang anaknya sudah masuk kelas 1 SD. Keponakan saya itu dulu juga masih ngontrak rumah, sofa tidak punya, meja makan juga tidak punya. Anaknya bebas merayap dan sepedaan kemana-mana gak ada yang halangin di dalam rumah. Besarnya, dia bener-bener aktif, bisa diajak kerjasama ketika melakukan hal-hal yang sedikit membutuhkan tenaganya.

Jangan takut jika anak belum mampu mencapai perkembangan yang seharusnya di tiap bulannnya. Santai aja. Kemampuan anak saat masih bayi semua sudah alamiah. Jangan pernah banding-bandingkan anak anda dengan anak orang lain, begitupun sebaliknya. Jangan pernah mengajari jika tidak ditanya pendapatnya, karena fenomena ibu-ibu muda jaman sekarang mudah tersinggung dan merasa paling banyak tau sampai-sampai yang ibu-ibu hamil anak ketiga aja diceramahin karena ada pandangan yang berbeda mengenai mengurus anak. HALO? Itu ibu-ibu anaknya udah mau tiga, lah kita yang baru punya anak satu aja kenapa malah sok-sokan. Gitu loh kasarnya.

Jangan capek mengajarkan dan mendidik anak dengan nilai-nilai kebaikan, ajarkan sebanyak-banyaknya, besar nanti mereka akan tumbuh dengan banyaknya kebaikan yang sudah kita tanam sejak dini. Saya juga masih belajar, Belajar usilin anak saya hahaa. Oia, jangan lupa setiap detik pun kalau kita lagi sama anak, harus diajak ngobrol. Walaupun menurut kita, mereka gak paham dengan apa yang kita bicarakan, Ajakin nyanyi. Ubah lagu jaman kita kecil juga kan gak ada salahnya kan special untuk anak. Saya, kalau kelonin anak kadang suka nyanyiin nina bobo. Tapi saya ganti jadi Kisah Bobo (KISAH itu nama anak saya). Jadi kalau sudah ada liriknya yang begini …

Kalau tidak bobo, digigit nyamuk “ saya ganti, Kalau Kisah bobo, disayang Ayah…”

Lagi-lagi saya beruntung punya ibu yang kader posyandu sekaligus Guru Paud. Saya disuruh ganti lirik lagunya itu, katanya liriknya agak ngancam, mana boleh ngancam anak-anak begitu. Lah. Salah lagi lagu anak nasional sepanjang masa ini hahaa.

Terus, kalau lagi berdua sama anak di rumah, saya suka dudukkan dia di bouncer, saya hadapkan ke dapur atau ke tempat saya lagi cuci pakaian. Sambil saya ajakin ngobrol dan tunjukkan apa yang saya pegang. “Kisah, ibu lagi nyuci baju kerjanya Ayah, nih bajunya, ayah kalo kerja pake baju ini.”
Gak salah kalau kita mau sedikit kayak orang gila demi respon anak, gak apa-apa. Jangan pernah ajak ngomong anak pake bahasa cadel, “cudah matan beyum?” (Sudah makan belum) atau, “cini cini ibu gendong, cini tium ibu duyu.” Kasihan nanti jika sudah di usia 5 tahun bicaranya masih cadel begitu, padahal itu termasuk “masalah” bagi anak dalam bersosialisasi. *Diajarin ibu saya gitu soalnya.


SUMANGAT BUK IBUUKK!

*Sumber : Buku Anti Panik, KKA, Ibu saya, Bidan, dr Anak. 

Rumah Sakit Atau Posyandu


RUMAH SAKIT atau POSYANDU ?



Ada yang menarik dari pengalaman saya selama hampir 4 bulan ini mengantar anak untuk vaksin di posyandu. Jadi, semua bayi sama ya alur vaksinnya. Kisah (nama anak saya) itu vaksin pertama kali adalah hepatitis B, beberapa menit setelah lahir. Seminggu kemudian, dia vaksin polio 1 di Rumah sakit tempat dia lahir. Sebulan kemudian, dia polio 2 sekaligus suntik BCG di lengan kiri. Dua bulan kemudian, dia suntik DPT 1 di paha dan polio 3 sampai sempat demam. Di tiga bulannya ini dia suntik DPT 2 dan polio 4, Alhamdulillah hanya hangat sebentar, karena dapat saran dari temen lagi, sebelum disuntik, nenenin anak terus sampe dia kenyang insyaAllah bisa bantu tidak demam.

Vaksin saat usianya satu hingga 3 bulan, kami lakukan di posyandu di RT rumah ibu saya. Kenapa? Karena kami pasien BPJS, Kalau ke rumah sakit, pasti bayar cash. Sedangkan di posyandu, vaksin apapun itu sudah gratis. Dulunya saya pikir posyandu itu tidak berkompeten dibandingkan dengan rumah sakit pro di deket rumah ibu saya. Nyatanya, saya salah besar. Semuanya sama. Fasilitas yang diberikan mengenai vaksin anak, semua sama. Saya gak akan permasalahkan mengapa vaksin di rumah sakit tidak mengakibatkan demam, sedangkan vaksin di posyandu atau puskesmas pasti menyebaban demam. Saya baca di BUKU ANTI PANIK, ada kutipan seperti ini …

“Setelah vaksin, bayi pasti akan demam. Sebagai tanda bahwa vaksin sedang bekerja membentuk antibodi untuk melawan bakteri penyebab sakit pada bayi. Karena sejatinya demam pada anak maupun orang dewasa, termasuk alarm bahwa tubuh sedang bekerja melawan serangan bakteri penyebab sakit apapun”

Jadi, silakan menyimpulkan sendiri ya. J

Sampai saat ini saya mulai menyukai situasi posyandu. Bukan berarti saya gak membutuhkan rumah sakit. Saya ke rumah sakit jika bener-bener anak saya harus saya bawa ke rumah sakit dan butuh penanganan dokter. Tapi mengenai vaksin rutin, saya bersemangat untuk ke posyandu. Bukan juga karena gratis, tapi karena suasana kelompok terbuka dan bisa bebas ngobrol dengan ibu-ibu lainnya, juga bisa menyimak konsultasi ibu-ibu lain dengan petugas puskesmas dan juga seorang dokter yang saat itu tidak dibatasi dengan sekat dan secara langsung bisa belajar dari ibu lainnya.

Senin kemarin, saya bawa Kisah ke posyandu untuk vaksin DPT 2. Sambil menunggu antrian, saya ngobrol sama ibu-ibu lain yang anaknya sudah berusia 5 tahun. Banyak bayi, batita, dan balita yang datang saat itu, tapi pada sibuk main dengan balok-balok kecil berwarna-warni, ada yang sepedaan, ada yang lompat-lompat, lari-lari, ada yang nangis gak mau lepas dari gendongan ibunya, ada yang banting-banting mainan, wesss kayak dalam ruangan playgroup. MERIAH.

Dari situ saya pasang mata lebih awas. Saya perhatikan, begitu nanti konsultasi dengan petugas puskesmas, saya simak dari kejauhan, saya ngangguk, seakan paham bahwa permasalahan si ibu dan anak di depan saya itu apa, saya ingat, akan saya jadikan pembelajaran.

Ada satu anak laki-laki yang menarik perhatian saya, umurnya 4 tahun. Ekspresinya agak cool tapi aktif banget, pinter. Sambil cemil wafer coklat, dia tertarik dengan mainan rumah balok yang punya jendela berupa bolongan angka, yang jika dimasukkan balok angka, maka sempurnalah bentuk rumahnya. Ya saya belum paham itu nama mainannya apa, haha. Diam-diam saya perhatikan, eeehh hebat!!! Dia berhasil memilih-milih tumpukan balok angka mini yang pas untuk melengkapi susunan rumah balok di depan kami. Reflek, saya langsung tepuk tangan kecil “heebaattnyaa”. Eeh dibalesnya sama si anak itu pake muka “cool”.

Dia pergi nyamperin mamanya, tiba-tiba lari ke saya sambil ngasi wafer coklat yang masih terbungkus sambil negur, “eh, eh.” Manggil saya maksudnya. Ya ampun, nih anak pinter banget. Tampangnya “cool” tapi pinter banget! Dan ternyata, si anak punya masalah. Di umurnya yang 4 tahun, berbicaranya masih belum lancar, masih cadel. Padahal seharusnya cara berbicaranya sudah sempurna menyebutkan tiap huruf di umurnya itu. Bahkan ternyata si anak “cool” ini suka salah menyebutkan kegiatan yang dia lakukan. Mainannya terjatuh, dia malah nyebut “jujuh.” Agak sama sih kedengerannya dengan “jatuh” tapi ternyata tetap disalahkan oleh bidan saat itu, sampai ibunya dipesankan, “bu, kalau anaknya salah menyebutkan, dibetulkan ya.”
Wah, tugas seorang ibu ternyata lebih banyak dibanndingkan tugas kerjaan saya sebagai guru. Gimana ibu-ibu gak suka baper kalau ternyata tugas membesarkan anak juga harus ada ilmunya.

Selain bisa ikutan nimbrung perhatikan tingkah anak-anak yang lucu, ada juga ibu-ibu yang umurnya kurang lebih sama umur saya, anaknya baru usia satu bulan, tapi sudah nenteng dot. Dikira bidannya, itu asi perah, begitu ditanya ternyata sufor. Melototlah mata si bidan dan dokter yang bertugas waktu itu. Sudah ya, gak mau komentar lebih panjang mengenai ASI dan SUFOR. Bye.

Kesimpulannya, saya prefer posyandu karena suasananya yang ramai dan lebih bebas berkonsultasi tanpa harus memikirkan antrian yang panjang di belakang kita. Tapi akan tetap ke rumah sakit jika memang sakitnya anak saya harus ditangani dokter. Jangan pernah minder jika level anda mungkin berbeda dengan posyandu. Semua sama. Semua ditangani dengan baik. Banyak bertanya, banyak belajar, banyak ilmu. Karena banyak ilmu harusnya bisa melatih diri agar selalu “tunduk” dan tidak mudah menghakimi satu sama lain.


SUMANGAT IBUK!

Tuesday, September 6, 2016

Kisah 2 Minggu

KISAH 14 HARI



Gak terasa sudah di 14 harinya Kisah. 
Sudah masuk September, keinget HPL Kisah jatuh di 9 September 2016 akhirnya sirna, Alhamdulillah maju 3 minggu dari HPL. Kata orang, mungkin dedeknya sering diajakin ngobrol supaya cepet keluar. Sebenarnya iya, ada ngomong gitu sambil elus-elus perut kemarin waktu udah masuk di 9 bulan. Entah ngaruh atau enggak, tapi aku yakin, Allah memberikan segala sesuatu itu tepat pada waktunya. 

Mengawali 1 September, Kamis kemarin si Kisah sempat masuk rawat inap di rumah sakit karena sakit kuningnya mencapai 14 mg, sudah seluruh badan dan harus diberi bantuan alat sinar biru untuk mempercepat proses penyembuhannya. 

Dari hari Kamis jam 5 sore, Kisah sudah mulai masuk di rawat inap, sudah mulai disinar juga sampai 48 jam di hari Sabtu, 3 September 2016. Alat sinar ini bukan semacam box inkubator, bentuknya seperti lampu belajar yang gede tapi hangat. Mata Kisah ditutupi dengan lapisan kain kasa yang dibentuk pita lucu, hanya ber-pampers, kaos tangan dan kaki. Aku pikir nantinya bakal gak bisa nyusuin Kisah. Ternyata tetep masih bisa nyusuin Kisah, dengan cara berbaring atau duduk. Kalau menyususi Kisah sambil berbaring yaitu yang agak repot. 

Dengan kondisi ranjang yang sempit, badan juga harus tetap masuk di bawah alat sinar sambil nyususin Kisah, itu agak sulit, karena hangat banget sampe bikin aku keringatan. Kalau menyususi dengan duduk pun yang sedikit agak mudah karena alatnya masih bisa ditinggikan dan Kisah tetap berada di bawah sinar biru. Menyususi anak sambil disinar itu posisi si ibu harus ngikutin letak bayi. Bayi tidak boleh dibawa keluar dari alat sinar, tapi ibu yang harus masuk setengah badan untuk menyusui si bayi. Pun kalau mau menyendawakan Kisah setelah menyusui, saya bisa dudukkan dia di paha atau sambil berbaring menyamping saya tepuk-tepuk bahu belakangnya. Hanya saja lebih nyaman menyususi dengan posisi berbaring, karena posisi duduk saat itu masih agak bikin nyeri jahitan, sedangkan Kisah kalau nyusu suka lama banget.

Sabtu malam, akhirnya Kisah boleh pulang setelah 48 jam disinar. Dan selama disinar, beolnya si Kisah juga berwarna gelap kayak rawon. Kata dokter dan bidan yang merawat Kisah, anak sakit kuning itu akan mengeluarkan penyakitnya melalui tinja dan urin, serta harus kuat nyusu. Jika tinjanya berwarna gelap maka pengobatan dengan disinar berhasil. Alhamdulillah selama disinar dan setelah Kisah sudah dirawat di rumah, beolnya masih hitam. 2 hari setelah rawat sinar di rumah sakit, warna beolnya kembali normal.





Seninnya, alhamdulillah bisa melangsungkan acara aqiqah untuk Kisah. Karena Kisah cucu pertama dari keluargaku dan suami, jadi acara aqiqahnya minta didekor sama salon kak santi, putri violetta. Dekorasi yang gak begitu ramai, cuma minta dua warna aja, putih dan ungu. Kenapa bukan pink? kan cewek. Ah pink udah terlalu mainstream. sekali-sekali nuansa ungu kan jarang yaa. Hehee..
Sekalian aku pakai jasa fotografer Sony Selawe lagi untuk dokumentasi acara Kisah. Alhamdulillah selalu terpuaskan sama cara kerja mereka. Karena acaranya senin, tamu nonstop di jam istirahat siang orang-orang kerja. Rejeki buat Kisah banyak banget alhamdulillah. Tamu yang diundang pun hampir seluruhnya hadir. Banyak yang mendoakan Kisah, bahagia sekali masih bisa bersilaturahmi dengan teman-teman dan saudara. Aqiqahan Kisah ini kebetulan hanya mengundang temen-temen dekat dan beberapa teman yang waktu acara nikahan kemarin kelupaan diundang atau gak sempet hadir jadi bisa hadir di aqiqahan Kisah hehee..


Terima kasih Kisah, ibu menggendut, ayah juga bb nya naik balapan sama bb ibu


Banyak hal baru yang aku rasakan selama dua minggu menjadi seorang ibu. Yang membanggakan adalah Aku sudah berani memandikan Kisah hahaa.. Mungkin karena mamak sengaja membiarkan anakku tidak dimandikan lagi jadi aku juga agak tumbuh rasa sungkan meminta tolong terus sama mamak untuk memandikan Kisah, sedangkan selama keluar dari rumah sakit, mamak kelihatan keteteran harus nyucikan pakaian, bedong, dan popok kain Kisah. Sudah dicuci, dijemurkan, dan berakhir dengan setrikaan. Mamak selalu mengingatkan, pakaian anak nanti jangan dimasukkan mesin cuci, cukup direndam, kucek pelan, bilas sampai gak begitu berasa licin deterjen, dijemur lalu DISETRIKA. HARUS DISETRIKA! Supaya kuman-kumannya mati. Karena mamak cerita, dulu selalu rajin nyetrikain pakaian aku dan adek waktu masih bayi sampai SD. Bahkan sampai celana dalam dan kaos dalam pun disetrikakan sama mamak. Malu kalau gak bisa mencontoh mamak yang ulet begitu. 

Pasca persalinan pun menjadi seorang ibu harus tahan hati dan kuping dari omongan orang lain, orang tua bahkan mertua sekalipun. Masing-masing ibu di dunia ini mempunyai cara sendiri untuk membesarkan dan merawat anak-anaknya. Kalau kita bisa konsisten, tegas dan cukup diam tapi bekerja dengan baik merawat anak, mungkin akan membendung segala omomngan yang bikin nyesek di hati. Satu kuncinya adalah selalu berkoordinasi dengan suami. Kalau suami juga sejalan dengan cara berpikir kita merawat anak, maka cukup tutup kuping. Jika ada omongan atau pesan yang agak gak masuk akal atau berbeda, cukup didengar, sabar dan istighfar supaya gak kepancing emosi dan hindari perdebatan.

Sebenarnya mudah saja kalau ada yang menasihati atau berbeda pendapat dengan kita mengenai bagaimana cara merawat anak, cukup liat anak-anak mereka yang kita kenal atau tau, lihat apakah cara merawatnya si ibu itu menurut kita sesuai apa enggak, kalo enggak sesuai tapi si ibu itu agak ngotot dan sering memancing perdebatan, cukup tertawakan dalam hati saja. Misal, si ibu itu punya anak, yang kita tau, anaknya dari bayi sampe dia agak gedean seumuran SD, suka sakit-sakitan dan penampilannya agak jorok, tapi si Ibu itu suka membangga-banggakan bagaimana dia merawat anaknya "dengan baik" versi si ibu itu. Kenyataannya? liat aja contoh anaknya si ibu itu. Jadi gak perlu berdebat maslaah merawat anak. Selagi ilmu merawat anak yang kita dapat dasarnya bersumber dari bidan atau orang-orang yang sudah terbukti merawat anaknya dengan sehat dan baik, itu saja yang dicontoh. 
Iya toh? Hehee..


Anak itu titipan dari Allah SWT. Amanah terbesar dalam hidup seorang ibu.
Media pengumpul pahala dan pengendali dosa
Pengingat limit kedurhakaan terhadap ibu kandung sendiri


Btw, Di sela-sela ngetik, sempat kebelet pipis. Masih suka hati-hati kalau nyebok, takut bekas jahitannya sobek. Eh alhamdulillah tali simpul jahitan tadi udah copot sendiri. Udah gak takut lagi sobek, berarti benang jahitannya udah jadi daging di dalam situ. Udah bisa aktifitas kemana-mana jalan jauh berarti ya.