Thursday, October 5, 2017

DRAMA UDARA 2

> DRAMA UDARA, DARAT, LAUT, DAN GIGI (2)



MENUJU MAMUJU 2
Kamis, 30 Agustus 2017

05.30 Kami sudah tiba di bandara, sudah mengantri untuk check-in, tiket yang kami pegang pun tertulis keberangkatan pukul 06.20. Kisah tidak sempat kami mandikan sewaktu di hotel, karena takut ada drama yang malah menghambat perjalanan kami. Jadi, Inisiatif saya sama mamak adalah malamnya itu, sebelum Kisah tidur, kami kenakan pakaian bagus supaya ketika besoknya berangkat ke bandara, tidak perlu mandi, cukup cuci muka langsung masuk gendongan dan bersepatu, tinggal angkut, gak repot.

Kisah sedang tumbuh gigi ke-4 nya. Dua hari sebelum kami berangkat, dia sempat demam tinggi. Tapi Alhamdulillah malam sebelum kami berangkat, demamnya turun. Sempat di pesawat juga uring-uringan karena merasa posisinya saat saya nenenkan mungkin bikin dia gak nyaman, maklum, spasinya agak syimpiiitt, jadi gak leluasa suguhin Kisah.

Karena pesawat yang kami tumpangi adalah anaknya singa, maka insting kewaspadaan pun muncul. Gate 11 jauuhh ada di ujung banget, waktunya mengeluarkan stroller, kisah saya letakkan di stroller, ternyata gak butuh lama dia masih mau melanjutkan tidurnya.
Nah, begitu melewati gate 5, jadwal keberangkatan BPN-MJU dengan kode penerbangan kami tertera di layar gate 5. Saya singgah menanyakan kepada petugas, lalu petugas mengonfirmasi kepada staf Wings air, maka kesimpulan dari petugas di gate 5 adalah, “Mbak tunggu di sini saja, karena nanti penumpang yang sudah di gate 11 akan di-announce untuk menuju ke gate 5.” Sayangnya, saya masih ragu, mama juga kelihatan ragu. Ada sekitar 5 menit kami menunggu announce, kami memutuskan untuk ke gate 11 saja sembari berjalan menunggu announce yang dijanjikan petugas di gate 5 tadi. Tak terasa sudah sampai di gate 11, announce yang ditunggu pun tak terdengar.

Sekitar pukul 05.50, saya bersama penumpang lainnya mulai berjalan menuju bis bandara untuk boarding. Ada 10 menit kami stuck di bis karena harus menunggu beberapa penumpang yang lelet.
Daaann… ternyata bis mengantar kami ke seberang gate 5!!! Tuh kaaannn, tau gitu tadi tetep aja di gate 5, biar gak naik bis, gak kelamaan nunggu penumpang lelet di bis, tinggal jalan kaki aja ke pesawatnya kalau tunggu di gate 5. Yaelaahh wings, wiiings!

Saat boarding, pesawat masih menunggu satu lagi penumpang yang belum juga masuk pesawat, tapi temannya ngotot suruh mbak-mbak pramugarinya nunggu. Kan lawak! Ngelawak banget itu masnya. Mana suaranya ngotot lagi. Duh. Ngototnya dia sampe ngomong gini nih,
“Mbak, ini kan di tiket jam 06.20, tunggu dulu teman saya mbak, ini belum jam 06.20, masih lama mba, tadi saya gatau dia kemana waktu saya lagi di musholla, begitu kembali dia sudah gak ada mbak!” dengan logat Makassar tuh ngomong gitu. Kan saya serem kalo tiba-tiba dia ngacungin badik di pesawat terus gila jadi nebas-nebas leher orang, :P
Kebetulan, di pesawat itu ada satu orang yang merupakan anggota DPRD Balikpapan, kalau kata penumpang depan saya sih, saya juga lupa namanya siapa, beliau mencoba menengahi si mas tadi dengan mbak pramugari. Keluarlah kalimat seperti ini,
“Masnya mau berangkat atau tunggu temannya? Kalau mas mau tunggu temannya, silakan turun dari pesawat ini. Karena ini kepentingan orang banyak, bukan masnya saja.”
Akhirnya masnya itu kembali ke seat nya lagi. Ikhlas kali ya sudah.

06.20 seingat saya, pesawat sudah naik di atas, tepat banget waktunya sesuai jadwal pada tiket. Di penerbangan wings air menuju Mamuju ini, Kisah gak dapat Infant seatbelt, saya juga gak minta sih. Tapi mungkin mbak-mbak pramugarinya lupa kali ya gegara sempat adu argument sama penumpang tadi.

Padahal nih ya, mungkin bagi teman-teman yang belum paham. Keterangan waktu pada tiket, itu maksudnya hanya ada dua, yaitu Memulai take off atau Sudah berada di udara. Bukan lagi keterangan waktu untuk boarding. Bukan. Jika waktu pada tiket tsb untuk batas waktu boarding, maka akan menimbulkan ketidakdisiplinan maskapai dalam mengatur waktu untuk meninggalkan landasan.




BANDARA TAMPA PADANG MAMUJU
Yeayy!! Setelah lima tahun saya tidak menginjak Sulawesi Barat, akhirnya hari ini saya kembali dengan membawa sebuah KISAH! Saya tidak punya ekspektasi apa-apa mengenai megahnya gedung bandara tampa padang. Karena pasti bangunannya tidak jauh beda dengan bandara perusahaan yang ada di kota saya. Jangan cari trolly saat di bandara ini, belum ada. Makanya bener-bener harus pakai kurir atau keluarga yang menjemput. Jarak bandara dengan parkiran memang tidak jauh, tapi bandaranya lumayan ramai, jadi agak susah berbolak-balik di sekitar lobi kecil tsb.

Bandara Tampa Padang Mamuju dengan rute Balikpapan-Mamuju sebenarnya masih baru. Dimulai pada bulan Juni 2017 mendekati riweuh mudik lebaran idul fitri. Sebelumya, terakhir kali saya ke Mamuju pada bulan 2012, bandara saat itu masih tahap pembangunan. Maka, akses pesawatnya masih sangat jauh, dari Balikpapan ke Mamuju, ya harus ke Makassar dulu. Dari Makassar ke Mamuju memakan waktu sekitar 13 jam perjalanan darat. Langganan, saya selalu mabuk saat itu, jalanannya kayak ular. Meliuk-liuk, tambah lagi kalau masuk angin. Lalu ketika bandara Tampa Padang sudah aktif, belum juga ada akses langsung Balikpapan menuju Mamuju saat itu. Aksesnya harus transit di Makassar dulu baru bisa terbang ke Mamuju. Beruntung sekarang sudah ada, jadi kurang dari 50 menit, saya sudah bisa ke Mamuju. Gak ada lagi alasan, susah pulang kampung karena jalanannya. Kalau alasan gada duit ya ga papa, dimaapkeun.

Saya membutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit untuk sampai ke TAPALANG dari daerah Kalukku, tempat di mana bandara tampa padang berada, lagipula jarak bandara ke pusat kota Mamuju saja harus memakan waktu sekitar 30 menit, dan beberapa waktu kami gunakan saat melewati jalur kota menuju perbatasan, akhirnya sekitar 50 menit kami pun sampai di Tapalang.

Jadi untuk teman-teman yang membaca blog ini, saya kenalkan, Tapalang itu satu kecamatan dari Kota Mamuju yang berada di provinsi Sulawesi Barat. Suku mayoritas adalah SUKU MANDAR. Mereka punya beberapa istilah khas untuk kotanya dan masing-masing kecamatannya. Saya kurang hapal, jadi jangan saya sebutkan. Takut salah.

Kalau di Bontang kita punya kain Batik khas KUNTUL PERAK, nah di Sulbar punya kain bercorak SANDEQ ; Perahu layar khas suku mandar, dan Kota Mamuju sendiri juga punya kain tenun khas lagi, namanya SEKOMANDI. Kalau googling nemu banyak dah ini.
Provinsi Sulbar juga merupakan pemekaran wilayah dari Sulsel pada tahun 2004. Sampai saat ini provinsi ini sudah sangat berkembang. Yang tadinya saya sering melihat bapak-bapak, ibu-ibu berangkat ke kebun pagi-pagi buta dengan berjalan kaki atau sepeda Karena masuk kebun mungkin masih jauh, sekarang sudah menggunakan motor dan tidak berangkat di kala langit masih gelap.
Remaja-remaja kampung yang dulunya sering menyusul orang tuanya ke kebun, sekarang sudah tidak terlihat lagi, mereka sebagian besar sudah berkuliah di kampus-kampus di Mamuju atau di Makassar. Penduduknya juga sebagian besar sudah bekerja di kantor-kantor pemerintahan provinsi maupun kota. Jumlah pengangguran pun semakin berkurang.

Di Mamuju, tidak jauh dari pantai Manakarra, sedang dibangun satu mall besar yang nantinya pasti akan menjadi daya Tarik masyarakat sekitar, letaknya strategis, di pinggir laut. Tapi kalau kata tante saya, kira-kira Kisah umur TK baru bisa rampung. Semua butuh proses. Saya tidak sempat mengunjungi tempat-tempat menarik di sana, karena di Tapalang  hanya empat hari sekalian berlebaran idul adha di sana.

Tapalang punya satu keindahan yang belum sempat saya kunjungi. Pemandangannya moreless sama wisata laut di Berau. Namanya Tanjung Ngalo. Boleh di googling, maap saya ga punya fotonya, karena belum sempat ke sana. Kebetulan saat saya perjalanan pulang ke Bontang, sedang ada pembukaan acara Festival laut dan budaya di Tanjung Ngalo itu.

Hanya saja, Tanjung Ngalo dan Batu Roro adalah dua tempat yang sangat angker yang dimiliki oleh Mamuju. Masih ingat kejadian pesawat Adam air yang jatuh dan menghilang, sampai sekarang belum juga ada kabarnya? Nah, kabar terakhir pesawat tsb berada di langit mamuju, tepatnya di Antara titik Tanjung Ngalo dan Batu Roro. Banyak kisah-kisah yang tidak masuk akal tapi betul terjadi dari dua tempat tsb. Googling saja ya teman-teman, saya takut. Hehee.

Apapun ceritanya, saya bangga punya darah Mandar dari Bapak saya. Suku mandar mungkin masih kalah familiar dari suku Bugis, padahal suku mandar kalau dirunut dari sejarah budaya dan bahasanya, mereka masih satu rumpun, tapi tetap saja dari dialek, kosakata, dan budayanya pun berbeda. Ya sama seperti orang Toraja dengan orang Bugis. Mana mau mereka disamakan, hihiii.

Sekian cerita sayaaaa. Semoga bermanfaat.
Jika terdapat kesalahan dalam penulisan dan pemahaman saya, mohon diluruskan dan dikoreksi.



Bye!!!

DRAMA UDARA 1

> DRAMA UDARA, DARAT, LAUT, DAN GIGI




Akhirnya tiba juga waktunya mengunjungi keluarga di Mamuju. Saya bepergian bersama Mamak dan Kisah. Bayi saya kebetulan sudah satu tahun dua minggu, jadi insyaAllah aman membawa bepergian menggunakan pesawat. Persiapan yang saya lakukan dari jauh hari, cukup banyak. Menjaga kesehatan bayi menjelang keberangkatan, tidak memberikan kerupuk, gorengan, makanan berminyak atau yang bisa bikin radang. Takut kerepotan aja kalau tiba-tiba dia pilek, batuk, atau demam saat harus jauh dari rumah. Repotnya berkali-kali lipat pasti.

Beberapa hal yang saya siapkan :
1.       Gendongan ergo 360
Selalu saya pasang di badan, jaga-jaga kalau Kisah capek lari-larian
2.       Stroller Pockit Cocolatte
Saya tenteng ke kabin, kebetulan pocket ini ramah travelling banget, sekali lipat, sudah berbentuk 30x30 lipatan rangkanya, cukup ringan juga. Stroller saya bawa supaya memudahkan meninabobokan kisah kalau dia gakmau bobo sambil disusui, memudahkan pergerakan saat berjalan di bandara, anak capek jalan, gak mau digendong, tapi maunya di stroller saja, dan memudahkan kami saat harus berkunjung ke rumah keluarga-keluarga lainnya dengan jarak rumah yang ditempuh berjalan kaki. Capek juga kalau harus gendong Kisah, jadi tinggal didorong, walaupun banyak tangan yang mau menggendong sewaktu di kampung.

Isi tas ransel yang saya bawa …
1.       Sanmol drop
2.       Obat radang bayi dan dewasa
3.       Albothyl mini dan cuttonbud
4.       Termometer
5.       Mangkuk kecil Tupperware isi Biskuit bayi SUN yang tipis
6.       Gelas Pigeon yang ada Sedotannya
7.       Perangkat kosmetik bayi
(Telon, Hair lotion, sisir, Jhonson’s cologne, Sabun cair pigeon mini, 2 Diaper, tisu kering, tisu basah, Pigeon lotion)
8.       Cardigan bayi
9.       Nursing cover

Kalau obat sudah pasti untuk antisipasi bayi. Karena saya masih menyusui, jadi saya hanya siap obat radang dewasa juga, karena selama ini jarang demam, hanya masalah di tenggorokan saja, obatnya juga harus sesuai resep dokter karena masih menyusui. Albothyl mini karena fungsinya bisa untuk luka luar dan dalam, saya sedia yang keci banget, antisipasi kalau Kisah jatuh, lecet, langsung ditetesin sama itu aja. Apalagi kalau baru keluar kota, cuaca dan udara juga udah beda, masalah yang sering datang, pasti sariawan.
Karena berangkat dari BXT itu jam 7 pagi, dan Kisah jarang banget mau makan pagi, jadi buat jaga-jaga saya bawa bekal kecil di mangkuk Tupperware isi biscuit, lumayan bisa nunda nenen si kisah kalo lagi repot-repotnya di bandara.
Di ransel saya hanya ada dua diaper, karena untuk efisiensi ruang tas supaya gak berat. Selebihnya saya simpan di bag travel yang gede yang saya masukkan di bagasi. Oia, wajib banget sedia pampers dari rumah ternyata, tadinya mau beli saja kalau sudah sampai di tujuan biar gak beratin tas, tapi berubah pikiran, takut ada apa-apa aja, gak sempat nyari diaper, jadi lebih baik sedia duluan aja, bawanya juga kebetulan pas banget sampai kembali lagi ke Bontang.

Saya hanya bawa satu bag travel dan tas jinjing, dan saya masukkan ke bagasi. Mengingat hanya saya dan mama yang berangkat, tidak ada laki-laki yang ikut, maka efisiensi tas cukup penting, supaya gak rempong. Jadi kami berdua hanya menenteng stroller dan Kisah secara bergantian.
Bag travel isinya …
1.       Pakaian mama
2.       Pakaian Kisah
Nah, pakaian Kisah saya bawa lebih, karena malas nyuci kalau sudah tiba di mamuju, belum lagi cuaca yang gak bisa diprediksi. Saya lebih banyak bawa kaos dalam, karena takutnya kalau pakaian kisah kotor padahal belum masuk di jam mandi sore, saya cuma bisa lepas bajunya, jadi sambil menunggu jam mandi sore, dia cukup pakai kaos dalam saja. Ibu pemalas btw.
Tas jinjing isinya …
1.       Diapers kisah
2.       Pakaian saya
3.       Mukenah saya dan mama, handuk
Tas jinjing ini sengaja saya isi sedikit, sebagai persediaan, begitu balik ke Bontang, diapers kisah sudah habis tepat waktu, maka tas ini akan berisi pakaian kotor kami bertiga. Sedangkan tas mama yang mulai berpindah isinya, kami persiapkan untuk mengisi sebagian oleh-oleh sepulang dari kampung.

MENUJU MAMUJU 1
Rabu, 29 Agustus 2017
Bontang (BXT) – Balikpapan (BPN)
Pertama kalinya membawa bayi satu tahun bepergian menggunakan pesawat, kami menumpang pesawat perusahaan yang hanya berkapasitas 20-an seat. Drama belum dimulai, masih aman, lancar, dan tenteram. Kisah masih lari-larian, ngepel bandara, gangguin anak cowok dua tahun di atasnya, ngeliatin bapak-bapak makan kue sampai akhirnya mungkin bapak itu kasihan liat kisah kayak ngiler, pagi-pagi belom sarapan, jadi dia dapat gratisan risoles dari bapak tadi. Tapi ibunya yang makan, Alhamdulillah rejeki anak. Haha.

Memutuskan menginap semalam di Balikpapan supaya bayi punya waktu lama dan tempat nyaman untuk istirahat, kami memlilih hotel yang masih ada di kawasan bandara, Grand Tjokro Hotel. Mau cerita dikit tentang pengalaman saya menginap di hotel ini hanya 13 jam tanpa puasnya pelayanan yang saya terima.
Hotelnya bintang empat, tapi pelayanannya bikin saya kapok. Saya tiba di Balikpapan pukul 8 pagi, membuat saya tidak bisa check-in, maka harus menunggu hingga jam 12 siang. Saya menitipkan barang di meja FO, karena sebelumnya barang saya diletakkan di balik pintu dalam lobby, bereseberangan dengan meja FO. Kami pamit untuk keluar cari makan, maka mbak resepsionis menawarkan untuk menyimpan barang kami di balik meja FO agar aman.
Pukul 11 siang kami kembali lagi ke hotel dengan harapan sudah tersedia kamar yang kosong. Karena saat kami sempat menunggu dua jam, melihat banyak customer yang menyerahkan kunci dan menenteng barang-barangnya menuju taksi, berarti mereka sedang check-out. Pikiran kami, banyak kamar yang kosong. Tapi ternyata tidak adaaaa. Resepsionis yang menerima kami tadi paginya, seorang pria mengatakan bahwa tidak ada kamar kosong. Sedangkan saatv jam 11 kami kembali lagi ke hotel, resepsionis wanita mengatakan bahwa hanya ada kamar kosong sedari tadi pagi, tapi double bed, bukan single bed. Kenapa juga mas mas tadi pagi itu gak bilang, padahal saya sudah menanyakan, kamar apa saja yang kosong kalau ada.

Sudah dapat kamar, kami kelupaan mengambil tas di meja FO. Menelepon ke room sevice, eh kami harus menunggu hampir dua jam tas kami diantarkan. Mulai dah benih-benih kedongkolan muncul. Malamnya, kami berpesan kepada room service dengan memanfaatkan morning alarm di jam 4 pagi karena harus berangkat jam 5 pagi ke bandara. Tapi ternyata, kami sudah dalam keadaan siap, jam 5 pagi itu mas-mas FO menelepon, wah telat om nelponnya.
Turun menyerahkan kunci untuk check-out kami tidak mendapatkan janji semalam. Karena semalam kami ditanya, karena harus checkout lebih awal, kami ditawari mau sarapan roti atau apa? Kami hanya menjawab roti saja boleh mas. Eeh ternyata kami gak dapat apa-apaaaaa :’( Janci mu taroee. Jadi males dah.




Kita lanjut di blog selanjutnya ….

MENUJU MAMUJU 2

STEREOTYPE IBU-IBU BUGIS

STEREOTYPE BUIBU BUGIS YANG MERIAH !

Lama tak jumpa, dari dulu kepengen banget nulis tentang stereotype mak emak bugis yang meriah dan membahana, ngangenin soalnya. Yuk apa aja kebiasaan yang lekat banget sama mak emak bugis ...

Jangan kaget jika kamu mendapatkan calon suami atau istri dari keluarga Bugis.
Ciri khas ibu-ibu Bugis saat mempersiapkan pernikahan ataupun acara lainnya :
1. Gotong royong dapur serasa satu kelurahan
2. Suara nyaring nan cempreng saling bersahutan
3. Datang menenteng pisau, pulang membawa hasil kreasi pisau
4. Menjinjing tas saat menjadi wali mempelai di pelaminan
5. Yang ibu hj biasanya setia dengan songkok hajinya, leher terumbar
6. Jika keluarga terpandang, maka barisan penjemput tamu akan lebih panjang, serasa penyambutan presiden
7. Rasa tersinggung karena hal sepele seperti menyeruak di satu benua
8. Berebut hantaran tanpa izin
9. Mengganggu hikmadnya perias dengan bergerombol masuk di kamar pengantin
10. Ikan rebus kuning dan teh manis hangat


STEREOTYPE IBU-IBU BUGIS PADA SUASANA PERSIAPAN PERNIKAHAN BUGIS DI KOTA.
Jangan parno apalagi seram saat anda mendapatkan bakal suami atau istri dengan latar belakang Bugis. Selain patokan jujuran atau mahar yang terBUSET , masih banyak hal lain yang lebih terBuset yang harus kalian tahu. Bahkan mungkin butuh kalian baca baik-baik tulisan bawah ini, save atau screencapture lalu jadikan wallpaper laptop atau handphone, supaya kalian ingat bahwa orang Bugis itu “kayak begini toh”, jadi kalian mungkin masih bisa mundur perlahan. Hehee bercanda. 

1. GOTONG ROYONG DAPUR
Nah, sama seperti suku-suku lain, gotong royong saat menyiapkan acara keluarga. Orang-orang bugis paling juara. Bisa kali jumlah yang datang membantu itu sejumlah satu kelurahan. Kadang yang sebenarnya bukan keluarga tapi hanya satu asal kampung, akan ikut datang juga membantu. Orang Bugis itu keluarganya banyak. Jangan heran. Karena baginya yang sekampung saja tetep dibilang Sepupu, padahal mungkin gak ada tuh darah neneknya di situ, saking berasa memiliki satu sama lain. Wkwk. Mereka juga punya prinsip, jika rajin datang membantu dan hadir di tiap-tiap acara, maka pemikirannya, “supaya nanti dia akan datang juga di acara anakku besok.”, jadi impas. Balas budi maksudnya.

2. SUARA INDAH BERSAHUTAN
Bukan maksud mengolok, tapi kadang sahutan ibu-ibu itu agak mengganggu jika kamu belum terbiasa dengan kondisi mereka bersahutan dengan logat dan kecemprengannya. Kalo diperhatikan, mereka itu kayak punya cadangan paru-paru di segala sudut sendi dan ruang nadi, nafasnya kayak panjang banget ngomong satu kalimat dengan satu nafas. Belum lagi pake mimic mata melotot lalu mulut nyinyir-nyinyir setengah teriak kayak orang emosian, padahal mereka saling ngobrol cuma berhadapan jarak satu jengkal. Oh mamak. 



3. PISAU DAN ANAK PISAU
Nah, ibu-ibu Bugis itu kalau datang membantu, selalu sedia dan membawa pisau sendiri dari rumah. Biasanya pisau yang dibawa selalu pisau yang ada tutupnya itu loh, yang agak kecil. Kadang juga ada yang membawa cutter  yang karatan tapi masih tajam ngiris bawang. Yakan pada tahu aja, tuan rumah tidak mungkin menyediakan pisau sejumlah se-kelurahan yang datang kan. Selalu saja kalau sudah selesai bantu dapur, yang tadinya hanya nenteng pisau, eehh beranakpinak lah itu pisau menjadi hasil kerajinan tangan buibu di dapur. Ada yang bungkus nasi, bawa sepiring daging dioper ke anaknya disuruh bawa pulang ke rumah, ada yang bawa kecap sama kaldu sachetan di kantong celana atau dikresekin. Tau-tau kelar acaraan, si tuan rumah bakal nyari, kayaknya kemarin beli bahan lebih banget, pada ke mana yak. Lahdalaahhh pakek ditanyak si ibuk mah. 

4. RAMPOK HANTARAN
Ibu-ibu bugis entah kenapa, masih punya keyakinan bahwa, jika mereka mengambilkan salah satu isi hantaran untuk anak gadisnya, maka anaknya pun tidak akan lama untuk melaksanakan pernikahan juga. Sayangnya masih banyak yang keroyokan merebut atau mengambil tanpa izin isi hantaran tsb. Akhirnya, si pengantin wanita akan marah, tapi gak akan tau siapa saja yang mengambil. Luar binasa. Padahal hantaran itu termasuk pesanan si mempelai wanita lo sebagai syarat simbol nafkah suami yang nantinya akan digunakan sendiri oleh pengantin wanita. Tapi lucunya mereka tidak mau merebutkan hantaran yang berisi pakaian dalam. Katanya, nanti nasib anaknya kayak pakaian dalam, dipakai berkali-kali sama laki-laki dengan makna negatif. Yassalaaamm. Bukannya kosmetik yang mereka perebutkan juga dipakai berkali-kali. Lagipula kan bagus kalau nanti suaminya tu anak malah pakai istrinya berkali-kali. Hak suami kepada istri kan salah satunya ya itu.

5. MENGGANGGU PERIAS
Sebaiknya kamar harus kalian kunci saat lagi dirias sama mbak-mbak perias. Wajib. Dan jangan biarkan ada yang menitip barang apapun di kamar pengantin kalian. Jangan. Perias saja nih, butuh waktu dan suasana yang hikmad nan tenang saat merias pengantin. Harus penuh konsentrasi. Belum lagi jika ada perias yang berpuasa. Perias sendiri sangat terganggu jika ada anggota keluarga kita yang bolak-balik masuk kamar dan harus membukakan pintu. Mereka moodnya akan terganggu, gamau kan hasil riasannya jadi kayak mak lampir yang didandanin. Kadang kalo satu kita loloskan masuk untuk sekedar melihat kita lagi dirias, nah gak lama akan ada ekor-ekor lainnya sehingga membuat kamar sesak dan semakin berisik, merusak keindahan Kasur yang sudah dihias dengan bunga-bungaan. Kalian yang dirias juga akan ikut kesel, mau marah juga serba salah, takut malah tersinggung yang lainnya. 

6. MODISNYA BUIBU BUGIS
Ciri khas atau trendsetter nya buibu bugis biasanya dimenangi oleh ibu-ibu haji yang selalu mengenakan kain brukat yang tembus pandang, sampai tali bra yang mungkin harganya bisa beli tanah satu hektar pun terlihat sendu dari jauh, ditambah dengan songkok haji rajutan dengan printilan blink-blink kayak lampu disko menambah modisnya ibu-ibu haji bugis yang berjejer rapi siap menyambut tamu undangan. Selain itu, tak luput juga sepaket gelang, giwang, kalung emas yang bisa membeli satu unit rumah tipe 36 itu terpampang nyata kemilaunya di tubuh mereka, bersama dengan tas jinjing atau pouch yang tak lepas dari tangan atau di selipan ketek. Padahal isinya Cuma hape komek-komek (hape yang gak punya kamera). Wkwk. Apalagi kalau ibu si mempelai pengantinnya, sering tuh ibu-ibu wali mempelai, begitu berdiri mendampingi anaknya di pelaminan, tas jinjingnya gak disimpan atau dititipkan dulu. Salaman sama tamu juga gak bakal dilepas itu tasnya. Padahal tasnya mungkin harga mahal tapi angsuran atau barang pinjaman dari teman yang punya toko tas. Berasa mahal banget itu tas gak mau diabaikan dulu. Padahal orang yang tajirnya buset-busetan aja gak ada yang nenteng begitu mah. Karena udah  paham, damping anak nikah mah cukup bawa diri, dandan semenarik mungkin biar beda. Bukan tasnya yang dilihat tamu. Kan ganggu pas mau salam-salaman sama foto bersama.

7. BARISAN BAK PENYAMBUTAN PRESIDEN
Jika dari keluarga terpandang di daerah tsb, biasanya keluarga penjemput tamu, akan lebih banyak berdiri di depan pintu masuk. Barisannya sangaaattt panjang seperti penyambutan presiden. Berlapis. Jika baru pertama kali melihat, maka akan risih dan bingung, perlu gak ya ini disalamin satu satu sampai naik bersalaman dengan mempelainya. Saya mah pura-pura buta kadang, lewat aja. Yang paling penting bersalaman dengan pengantinnya lalu menuju prasmanan.

8. PEMICU PERPECAHAN
Biasanya setelah acara, selalu saja ada cerita yang mengganggu tuan rumah. Mulai dari salah paham kecil satu tante dengan tante lainnya, berujung ngambek dan tiba-tiba hilang atau gak muncul selama acara. Contoh nih, gara-gara minta ayam goreng 4 potong tapi cuma diberi 2 potong sama saudara yang lain, bakal muncul cerita dah besoknya se-tetanggaan, se-keluargaan, se-benua kalo bisa harus tau si anu marah gara-gara ayam makanya gak mau datang acaraan. Terus si tuan rumah Cuma bisa jawab, “pesanni, apa’ paja ni acaraee.” ; (biarkan ajalah, udah selesai juga acaranya). Ngambek ceritanya makanya gak mau datang. Mommy shark doo doo doo doo doo dooo.

9. GORENGAN , IKAN REBUS, TEH HANGAT
Pisang goreng, ikan rebus kuning, dan teh hangat merupakan makanan yang selalu tersedia selama persiapan acara dan sehari usai acara. Menemani ibu-ibu sibuk di dapur, bapak-bapak yang lelah membersihkan halaman, memunguti sampah, memasangkan tenda, dll. Makanan beratnya selalu tersedia ikan rebus kuning yang dimasak dengan panic besar sebagai menu utama keluarga yang ikut membantu sibuk di rumah. Mungkin karena masaknya lebih mudah dan gak butuh waktu lama, makanya selalu bertemu dengan ikan rebus kuning ini.

10. KENAL TAK KENAL HARUS TEGUR
Nah yang terakhir, kalau kamu cewek dan calon suamimu adalah bugis, kamu harus belajar dari sekarang jadi orang yang 10x lebih ramah dan peka. Kejudesannya keluarga bugis itu mengerikan kalau kita gak negur. Kamu bakal disebut sombong, gakmau bergabung, gak mau negur-negur, gak mau makan sama-sama misalkan. Hindari. Pokoknya harus gabung, mau nongkrong di dapur bareng kalau ada acara lagi. Padahal hatinya aslinya baik banget orang bugis itu, apa aja siap bantu dengan tenaga dan lainnya yang dia punya. Ibu-ibu bugis itu pada umumnya sangat kuat bekerja di dapur, tenaganya berbayang-bayang, kayak nyawa gak Cuma punya satu mereka. Apalagi kalau ada acara kita sama sekali gak bantu-bantu, behh bakal jadi cerita gak baik untuk benua tempatmu bernaung. Bakal diceritain yang enggak-enggak. Yaa ambil hikmahnya memang kita datang ya harus membiasakan membantu. Karena prinsip orang bugis adalah, membalas kebaikan dengan kebaikan. Dia hadir, saya juga akan hadir di acaramu. Seperti itu.

Jangan parno sama kami para Bugis yak! 
Kita baeeekkk, tenaga kami kuat!


Saturday, May 20, 2017

Hodgkin Lymphoma

Berkenalan dengan Hodgkin Lymphoma -


APA ITU HODGKIN LIMFOMA ?

HODGKIN LIMFOMA ADALAH ...


Bismillah …
Hodgkin Limfoma, sederhananya adalah penyakit berupa kanker yang menyerang kelenjar tiroid. Tempat kelenjar tiroid juga tidak hanya berada di area selangkang atau paha dalam, sekitar mata kaki, ketiak, bahkan di leher pun ada. Hal kecil yang sering terjadi pada beberapa orang adalah di leher, jika mengalami tanda-tanda ingin sakit demam, flu, atau yang berkaitan dengan imun tubuh menurun, maka tiroid akan membengkak hingga sakit yang diderita sembuh, maka tiroid pun akan mengepis dengan sendirinya. Berbeda dengan Hodgkin, tiroid akan terus membengkak tanpa rasa sakit jika ditekan, bisa beranak hingga menjalar di area leher dan tulang selangka.

Sedikit pengalaman saya di bawah ini semoga bisa membantu teman-teman yang mungkin mengalami kebingungan bagaimana cara menghadapi dan menanganinya.

September 2015

Satu hari setelah menikah (Agustus), suami saya bercerita bahwa beberapa minggu sebelum menikah, dia merasakan ada benjolan sekecil kelereng di area tulang selangka. Hingga akhirnya saya memaksakan beliau untuk memeriksakan ke rumah sakit swasta terbaik di daerah Bontang Utara, sebut saja RSP (September). Suami saya mengunjungi poli umum di klinik sesuai faskes di BPJS nya saat itu, meminta rujukan ke spesialis internis RSP agar bisa mendapatkan tindakan medis lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan dr internis, suami tidak diminta untuk tes darah, hanya tes lendir/liur di lab dan pemeriksaan fisik dengan cara ditekan bagian yang membenjol seperti kelereng. Keesokannya suami diminta untuk mengunjungi dr patologi yang jadwalnya saat itu hanya pada hari Sabtu. Di ruang patologi, suami saya disuntikkan dengan alat yang agak besar ke benjolannya untuk diambil sedikit isi/sampel dari benjolannya untuk dianalisa. Kesimpulannya adalah suami saya didiagnosa terkena KELENJAR TBC.

Oia, yang membaca lebih lanjut hasil analisanya adalah dokter internis, dari beliau suami dibekali obat TBC yang dikonsumsinya tidak boleh putus setiap pagi dalam keadaan perut kosong. Jika telat sehari tidak mengonsumsi maka harus mengulang dari awal.
Apa reaksi kami? Reaksi kami hanya memaklumi, karena suami bukan perokok dan tempat kerjanya juga di laboratorium tambang, teman-temannya juga banyak yang perokok, belum lagi kalau habis main futsal, saat imun tubuh lagi turun, dia terpaksa menghirup udara yang tidak baik, ditambah dengan udara yang kurang baik di laboratoriumnya jika sedang menganalisa material tambang.


MARET 2016
Hampir TUJUH bulan suami saya mengonsumsi obat TBC tapi tidak kunjung sembuh. Suami saya juga rajin mengonsumsi herbal-herbal ini itu tapi tidak mempan. Rentang September 2015 menuju awal maret 2016 suami saya sering mengalami demam tinggi hingga 45 derajat dengan segala bengkak di lehernya yang semakin membesar, kadang hilang, ternyata akan menggembung di sisi lain lehernya. Menderita. Belum lagi keadaannya saya saat itu sedang hamil muda, kayaknya masuk 3 bulan yang juga lagi butuh care nya suami, tapi ternyata kita diminta Allah untuk saling care dengan komposisi yang sama besarnya. Saya sering menangis tiba-tiba, sedih lihat keadaan suami, kami yang berpacaran selama enam tahun yang terbiasa melihat fisiknya yang bagus, jarang sakit, ganteng (haha), aktif futsal dan sepakbola lapangan, bener-bener sehatlah menurut saya tiba-tiba jatuh sakit yang penyebabnya juga sebenarnya kami masih meraba-raba, ya mungkin lagi kena musibah saja. Berbagai cara ditempuh oleh kedua orang tua dan mertua saya, mulai dari mertua yang menyarankan alternative ini dan itu, sampai ada yang tindakannya di luar nalar yang sangat sangat saya tentang, tapi saya lagi-lagi bisa apa, saya Cuma seorang menantu, takut berkata ini itu karena takut menyinggung hati beliau. Sampai akhirnya saya memberanikan diri bercerita kepada beberapa guru (teman mengajar) di sekolah tempat saya mengajar, dengan niat semoga saya bisa mendapatkan solusi, apalagi sebagian besar di tempat ngajar saya, lebih banyak guru senior yang pasti sudah punya cerita dan pengalaman. Akhirnya solusi ini dan itu saya mendapatkan satu pesan, sebelum  akhirnya memutuskan untuk mencari second opinion ke rumah sakit AW SJAHRANIE di Samarinda (AWS).

“HERBAL ITU TIDAK AKAN BERFUNSGI JIKA DIKONSUMSI SAAT PENYAKIT BERUPA TUMOR ATAU KANKER SUDAH POSITIF MENEMPEL DI TUBUH KITA. HERBAL HANYA BERMANFAAT UNTUK MENCEGAH, MENGHINDARI DAN DALAM PROSES PENYEMBUHAN.”

Ada juga yang seperti ini …

“KANKER DAN TUMOR HANYA BISA DISEMBUHKAN OLEH BAHAN KIMIA, OBAT-OBATAN ANJURAN DOKTER, BUKAN DUKUN, BUKAN JUGA ORANG YANG SELALU MENYARANKAN MENCAMPURKAN BAHAN ALAMI INI DAN ITU.”

Atau yang seperti ini …

“SAYA, BAPAK A, BAPAK D, IBU C, IBU B, DULU PERNAH KENA PENYAKT KANKER, MEREKA MELAKSANAKAN TINDAKAN MEDIS YANG DISARANKAN DOKTER, DAN SEKARANG, SEHAT BUGAR, SEGER.”

Dan akhirnya, setelah saya menceritakan tentang apa yang saya terima di sekolah kepada suami, beliau akhirnya mantap ke samarinda untuk menemui dokter internis di sana. Dari dr internis akhirnya keesokan harinya suami dirujuk ke poli bedah, dan berujung dengan tindakan BIOPSI ; Pembedahan/operasi kecil untuk mengambil sampel kelenjar yang membengkak. Tindakannya ya harus bermalam di ruang rawat inap dan berpuasa, seperti pasien operasi lainnya.

Hasilnya,
ternyata suami saya positif HODGKIN LIMFOMA dan HARUS KEMOTERAPI.

Kemoterapi. Mendengarnya saja saya sudah ketakutan. Takut suami saya umurnya tidak panjang. Karena cerita-cerita dari banyak orang, kemo itu sudah seperti orang yang setengah hidup. Tapi bersyukurnya saya dikelilingi oleh orang-orang yang kaya ilmu dan pendidikan medis, dan saya juga banyak melihat orang-orang yang saya kenal (beberapa guru tempat mengajar) banyak yang pernah menjalankan kemo, tapi searang kondisinya sudah kembali fit, segar sehat. Walaupun selama rentang kemo itu, pasien akan banyak kehilangan rambut, bulu alis, kulit menghitam, kuku menguning, muka kusam, dll. Tapi ternyata itu semua tergantung hati, pikiran, dan sugesti si pasien sendiri. Ada juga pasien kemo tapi tidak terlalu berdampak kekurangannya karena sugesti dia selalu positif akan sembuh dan “ENJOY” dalam menjalani pengobatanya.

Asumsi kami, berarti dokter sebelumnya yang memvonis suami saya kelenjar TB, salah? Tapi lagi-lagi kami berpikir positif untuk tidak mengarah ke kejadian sebelumnya. Karena saya takut jadi tersugesti untuk terus berpikir negative terhadap dokter yang menangani suami saya sebelumnya. Pantes saja segala obat yang diresepkan tdak pernah berdampak apa-apa bagi suami saya. Setidaknya saya bersyukur, suami saya tidak terkena penyakit atau mengalami efek samping lain yang lebih parah karena salah mengonsumsi obat selama hamper TUJUH BULAN. Sedih saya waktu itu. Sedih sekali. Hancur hati, karena melihat suami saya yang berjuang dengan mengonsumsi obat-obatan itu tapi ternyata bukan itu obat yang harus dia terima.

Kenapa saya tidak mencoba rumah sakit lain yang ada di Bontang saat suami saya tidak juga kuntuk masuk di tubuh. Beberapa kali kemo awal, suami saya hanya menjalankan kemo selama ENAM JAM.

Begitu kemo ke-8 kalau tidak salah salah, obat kemonya pun ditambah, maka waktunya selama kemo pun akan semakin lama, sudah naik darnjung sembuh? Sederhana, karena kota Bontang ini sangat kecil. Dokternya juga pasti tidak akan jauh berbeda dari segi penalaran dan pengalamannya. Makanya kami langsung mencari second opinion ke rumah sakit AWS yang memang sudah sangat terpercaya pelayanan dan fasilitasnya lebih lengkap, juga di sana banyak dokter spesialis yang bertugfas.

April 2016
Suami saya memulai kemo bulan April 2016.
Pertama hingga ke-4 kalinya, tidak berdampak apa-apa, karena suami saya susah payah mengatur sugesti positif salama kemo berlangsung. Walaupun awalnya suami muntah-muntah, kata dokter, itu penyesuaian obatnya u
i enam jam menjadi 12 jam. Tersiksa. Saya memang tidak menemani, tapi saya bisa merasakan sakitnya bagaimana. Saya banyak terima kasih kepada kedua mertua dan adik ipar saya yang siap menjaga suami, menemani, mendampingi setiap suami berangkat kemo di samarinda. Kondisinya saya yang sedang hamil, lagi-lagi menjadi alasan untuk tidak mendampingi suami.

Agustus 2016
23 Agustus 2016, anak saya akhirnya lahir dengan sehat selamat. Walaupun selama kehamilan saya selalu control tiap bulan dengan dokter kandungan di RSP juga, dokter kandungan saya sangat care , mengawasi dan memantau apakah saya dan si adek bayi ini aman, apakah tidak mengalami sakit yang sama dengan suami. Alhamdulilah saya tidak memiliki dampak apapun terhadap kesehatan dan fisik, hanya ada dampak sakit hati dan jiwa melihat suami saya menderita sakit seperti itu. Gak tega, gak percaya kenapa suami saya diberikan sakit seperti itu. Lagi-lagi segala sakit, duka, suka, dan apapun itu merupakan ujian Allah untuk selalu menguatkan dan menguji iman HambaNYA. Suami memang tidak menemani saya di ruang lahiran malam itu. Suami hanya menemani hingga bukaan 4 karena memang kondisi fisiknya sedang tidak baik, demam dan pusing, efek penyakitnya saat itu. Mungkin dia kaget juga melihat saya mengerang kesakitan menunggu bukaan demi bukaan saat itu. Namanya juga emak-emak mau lahiran, udah kayak kesurupan haha.
Sayangnya, suami hanya bisa melihat si bayi ini dari dia lahir hingga besok paginya saja, karena keesokan paginya suami harus berangkat ke samarinda lagi untuk menjalankan kemoterapi lagi.
Sedih saya. Sedih lagi mertua dan orang tua saya. Pokoknya kami sedih, hati kami hancur gak sanggup meihat keadaan suami. Walaupun suami saya fisiknya masih segar padahal sudah berkali-kali kemo.

Desember 2016
“Yang, rambutku kayaknya rontok.”
Langsung lari ke kamar mandi, mandi guyuran sambil nangis biar gak didenger sama suami. Hancur hancur sehancurnya hati saya melihat rontokan rambut suami di Kasur, di ambal, di lantai, di manapun. Saya kemarin berpikir itu rambut anak saya yang pelan-pelan rontok, anak saya saat itu berumur empat bulan. Kemoterapi menjelang akhir memang obatnya bisa dikatakan yang sudah sangat keras sehingga mual muntah suami yang biasanya hanya sehari, ini bisa sampai dua – tiga hari gak nafsu makan. Hanya minta es buah dan makanan yang berkuah untuk penawar mualnya setelah kemo.

Akhirnya, mas minta dicukurkan rambutnya sampai gundul. Modal kerokan jenggot yang murah itu, saya kerok, saya susah payah nahan air mata supaya gak nangis. Abis itu saya ke kamar mandi lagi, pura-pura cuci muka padahal di situ lagi nangis sejadi-jadinya. Setelah suami saya cukur, anak bayi ini saya cukur juga, jadi dua-duanya gundul.

Kedukaan kami tertutupi oleh satu kebahagiaan kami diberikan anak bayi lucu gemesin, dan kami beri nama RENJANA. Saya pernah Bahas tentang nama anak saya sebagai doa di post sebelumnya.


Februari 2017
Bukan main bahagianya saya ketika suami mengatakan bahwa kemoterapinya sudah selesai. Tiroid yang membengkak itupun memang sudah sejak akhir 2016 perlahan menghilang dan mengempis, suami tidak lagi pernah demam, pusing, dan lain-lain.  Sudah mulai berani kembali futsal.
Rambut perlahan muncul perhelai. Walaupun memang kulitnya agak menggelap dan kusam.
Total suami menjalankan 12 kali kemo.

Suami hanya disarankan untuk control dan tidak rutin juga tidak apa-apa. Tapi tetap harus memantau sendiri jika nanti siapa tahu ada benjolan lagi harus segera di cek. Sel kanker siapa yang tahu, dia tetap akan bisa tumbuh lagi tergantung si pasien memakan apa, gaya hidupnya sehat atau tidak, itu semua berpengaruh terhadap munculnya sel kanker.

Mei 2017
Rambut suami saya sudah tumbuh lebat, seneng rasanya!
Sudah mulai rutin futsal lagi. Dan tetep konsisten maunya makan masakan rumah sendiri, bukan masakan bulek2 warung. Berhenti konsumsi makan yang ga sehat. Karena kemarin pernah Tanya, dulu suka makan apa kok bisa sampe sakit kayak begini. Jawabannya suami : MIE INSTAN.
Oke, berhenti konsumsi yang instan2 kalau begitu. Selama suami kena sakit dari segala sakit yang salah diagnose itu, kami sudah berhenti  mengonsumsi masako, royco, ajinomoto dan lai-lain. Kami hanya menggunakan garam dan gula tok. Karena kami sangat menghindari penyakit gara-gara apa yang kami konsumsi. Agak capek memang saya rasa selalu masak dan masak. Tapi demi suami dan keuangan rumah tangga, harus dibisakan. Dan pasti segala kebaikan yang kita kerjakan pasti hasilnya akan kita tuai indah. Saya juga jadi terlatih masak ini itu dengan segala bumbu dan resep.

^^^
^^^
^^^

Sekian cerita saya. Semoga bisa membantu teman-teman yang saat ini sedang bertanya-tanya tentang penyakit yang berkaitan dengan kanker tiroid. Saran saya, ikuti saran dokter dengan BISMILLAH. Jangan suudzon, gunakan akal dan nalar temen-temen untuk tidak berobat ke dukun. Karena saya sudah pernah melihat kejadian, kanker tapi ngotot diobati ke orang pintar, dukun, dan hanya modal bahan alami, akhirnya nyerah tambah parah baru mau kemo, sayangnya hanya sekali-dua kali kemo, beliau meninggal. Usaha boleh, usaha wajib, tapi gunakan nalar. Kanker dan tumor hanya bisa disembuhkan dengan tindakan medis dari dokter. Itu keyakinan saya.

 Oia, jika ada yang bertanya kapan fase terberat saya ketika mendampinginya selama hampir dua tahun pernikahan dengan status suami saya yang menderita kanker HL, saya masih selalu menjawab dengan menahan airmata :
saat suami saya pasang muka cengengesan

"Yang rambutku udah mulai rontok, bulu kaki juga, alis ini juga kayaknya yang, tuh di lantai kayaknya rambutku semua."

hati saya mendadak sesak saat itu, tapi hanya saya bales ketawa hampa. Ujung-ujungnya saya pura-pura BAK di kamar mandi, padahal saat itu saya nahan air mata sekuat hati dan tenaga saya. 

BUT ITS OVER NOW. HE HEALED BY HIS FEELS. THANKS GOD.
   
Terima kasih, semoga bisa diberikan saran dan kritik. Bagi pembaca yang berlatarbelakang ahli medis, mohon maaf jika ada pernyataan saya yang kurang tepat. Salam sehat!!!


Alhamduillaahh…



^^^ 

Friday, March 17, 2017

TES MANTOX

TES MANTOX


http://www.klinikvaksinasi.com/vaksin/tes-mantoux/ 

Weww, tiga bulan enggak blogging lagi rasanya bingung mau mulai dari mana ceritanya. hehee. Mulai dari cerita tes mantox aja lah ya. Bagi temen-temen kalangan dokter, temen-temen yang udah pernah tau, atau udah pernah melakukan, mohon sayanya dikoreksi jika ada kesalahan. 

Info tes mantox ini saya dapat dari salah satu temen yang profesinya perawat, sebut saja April :D . Kebetulan ketemu di acara wedding temen sekolah kami, saya ada curhat dikit tentang bb kisah (anak saya) naiknya gak signifikan seperti bayi yang montok pada umumnya. Ketakutan saya tentang penyakit flek paru, TB, dll .Si April saran ke saya untuk segera tes mantox.  Sedikit penjelasan tentang tes mantox,


Alasan saya akhirnya minat banget mau tes mantox karena :

1. 2015 silam, suami saya pernah salah didiagnosa terkena kelenjar TB di area leher, tulang selangka. 6 bulan pengobatan enggak sembuh-sembuh, kami cari second opinion ke rumah sakit AWS Samarinda, ternyata suami saya positif Hodgkin Limfoma.

2. Lingkungan kota kami, diapit dua pabrik besar, PKT dan PT.Badak yang mengakibatkan tercemarnya udara yang tidak baik bagi kondisi paru-paru warganya.

3. Kami di rumah full menggunakan ac dan kipas.

4. Kisah sering kami ajak bepergian menggunakan motor

5. BB kisah di usianya 6 bulan ini tidak signifikan, dari usia 5 bulan menuju 6 bulan hanya naik 2 kg. Walaupun kata temen-temen dan keluarga saya, Kisah memanjang, enggak menyamping, hahaa. Btw, anak saya memang sedikit agak tinggi untuk usia dia saat ini 

6. Suami saya bukan perokok tapi karena bekerja di laboratorium maka udara yang biasa dihirup kurang baik, itupun sempat didiagnosa kelanjar TB dan ternyata salah diagnosa.

7. TB tidak hanya disebabkan oleh asap rokok, bisa juga terjadi karena udara yang tidak baik. HARUS DIPAHAMI BAHWA ASAP ROKOK MEMANG BISA MENJADI SUMBER UTAMA TAPI UDARA YANG KURANG BAIK BISA MENJADI PENYEBAB SEGALA PENYAKIT PARU.

Bukan bermaksud berlebihan, tapi saya sangat aware dengan segala gejala yang merupakan sumber dari segala sakit. Iya, sakit memang takdirNYA, tapi jika sedari dini bisa kita deteksi, maka penyembuhannya semakin cepat dan efektif. 

Alur awalnya, kami ke Klinik Satelit 1 saat itu karena kami tanggungan BPJS maka harus ke Faskes 1 dulu untuk bisa dirujuk ke Dsa rumah sakit. Konsultasi dengan dokter umum, dan ternyata alhamdulillah dapet dokter yang peka banget, kami banyak ngobrol di dalam, kisah juga dapat rujukan langsung ke dokter spesialis anak terkenal di Bontang, dr Made di RSIB YABIS. Padahal kami pikir bakal dirujuk ke dsa di rumah sakit PKT, karena kami dari dulu selalu berobat di rumah sakit pkt. 

Besoknya kami ke RSIB YABIS untuk pertama kalinya, bertemu dengan dr Made dengan melalui segala rintangan antrean pasiennya yang membludak, takjub banget sama keadaan ruangan beliau. Asistennya ada tiga, ruangannya penuh balon, selain dipenuhi dengan boneka pada umumnya. 

Kami sempat ditegur kenapa baru sekarang memutuskan tes mantox dengan segala riwayat penyakit suami saya yang akhirnya sudah selesai masa kemoterapi dari hodgkin limfoma. Alasan dan siapa yang menginfokan mengenai tes mantox pun gak luput dari pertanyaan dr made. Saya jelaskan alasan saya seperti di atas kepada dr made, yaa saya dapat acungan jempol, yeay! Ternyata menurut dr made, alasan saya sangat tepat, jadilah kami lama ngobrol di dalam, ya tentang penyebab penyakit anak jika tinggal di lingkungan pabrik seperti kota kami. 

Sebelum masuk di tes mantox, kisah diarahkan untuk tes darah dan foto rontgen paru. 
Untuk tes mantox, ternyata gak bisa langsung individu gitu, harus nunggu panggilan lagi di hari lain (terjadwal), jadi harus sesuai quota yang tersedia, mungkin obat yang dimasukkan agak sayang kali ya kalau hanya untuk satu orang dan akan banyak yang tersisa nanti cairan obatnya.

Dua hari berikutnya kami datang kembali untuk melihat hasil tes rontgen paru dan tes darah, Alhamdulillah KISAH NORMAL, SEHAT! Untuk bb kisah, alhamdulillah mencapai ideal, dan lagi-lagi dijelaskan, anak gemuk bukan selalu pertanda dia sehat, anak sehat semua ada penilaian dari dsa, mulai dari keaktifan yang dinilai dari motorik kasar dan halusnya, bb, lingkar kepala, dan panjang badan. 

Tiga hari berlalu, kami akhirnya dihubungi untuk hadir tes mantox, tapi akhirnya kami tidak hadir, karena saat itu saya ada kegiatan akreditasi sekolah selama seminggu yang tidak bisa ditinggal sama sekali, huhuu. Suami juga ada kerjaan yang bener-bener gak bisa ditinggal. Kami akhirnya memilih enggak terlalu bela-belain akan tes mantox ketika hasil tes darah dan rontgen paru juga penilain individu dari dsa telah menunjukkan bahwa kisah sehat, kisah enggak ada masalah apapun. Mengingat, cerita dari temen, bahwa tes mantox itu sekecil atau seringan apapun penyakitnya akan terlihat, contohnya alergi makanan, maka akan terlihat, saya tidak meremehkan, hanya saja saya sudah cukup puas dengan pembuktian tes darah dan rontgen. 

Sebelumnya juga kami sudah banyak mencari tahu mengenai tes mantox setelah temen saya menyarankan itu. Yang penting saya sudah paham mengenai tes mantox, saya lega ternyata anak saya enggak kenapa-kenapa.

Tentang suami saya yang kemarin mengidap kanker hodgkin limfoma, itu TIDAK MENULAR dan kecenderungannya kecil untuk diturunkan kepada anak cucunya nanti. Yang paling penting adalah, menjaga asupan gizi dan lingkungan anak. 

Besok-besok saya akan cerita tentang penyakit suami saya yang menggerogotinya di usia Ayah muda, hahaa..

BYE! SALAM SEHAT SELALU!