RUPA YANG TERBENAM


Lututnya melemas

Pijaknya sudah hampir terseok

Masih menggontai menyeret lelah 

Setitik airmatanya pada ekor mata

Bersimpuh ia membenamkan rupa ke dalam tampungan air di kamar mandi sore itu

Lama tidak dilakukan

Tapi sore itu, kembali berteriak sekuat-kuatnya

Lebih kuat lagi, menyelami asa yang menipis hingga dasar air yang merendam kening hingga batang lehernya. 

Semakin kuat kalut larut di dadanya

Terus menekan diri berteriak sangat kuat, hingga melemas seluruh pundaknya.

Hampir tak bisa bernapas,

Menggontai, mengangkat separuh tubuhnya yang usai memaki dalam air,

Lelah pada entah siapa dan apa

Bersandar ia pada tepi, sedikit berjongkok, mengatup lengan kedua tangan dijunjung, ampun pada batin yang tak mati-matinya menyemai taman-taman maya.

Basah setengah badannya,

belum sempat pun kerudung dan seluar dilepaskan,

Airmatanya menyatu pada genangan air yang ditampung pada wadah di hadapannya.

Lama, sangat lama ia masih mengumpulkan sisa sisa tenaga yang hanyut pada sorakan air kesedihannya sore itu,

Mengusap perlahan dadanya, mengatur kembali ruang-ruang napas yang sempat sesak,

Lalu berakhir pada tarikan napas yang sangat dalam dengan sesengguk hembusan menyendat dari tipis bibirnya.



https://penakota.id/penulis/elisk/15315/RUPA-YANG-TERBENAM

Comments

Popular Posts