Wednesday, December 7, 2016

Mamak-Mamak Masa Kini


KKA, BUKU ANTI PANIK, KMS


Bismillahi …

Akhirnya bisa sempatkan waktu untuk bisa berbagi cerita lagi.
Semoga tidak dimaknai pamer atau sok paling tau ya hehee.

Di page ini sedikit mau berbagi mengenai KKA (Kartu Kembang Anak) yang saya dapat dari ibu saya yang juga seorang Kader Posyandu di RT sekitar rumahnya. KKA yang dikeluarkan oleh BKKBN ternyata tidak dimiliki semua orang, hanya beberapa saja, salah satunya mereka yang sudah mengikuti pelatihan sebagai Kader Posyandu. Lalu, ada juga beberapa rangkaian tugas yang biasanya dilakukan oleh petugas TPA, saya dapat copy’annya dari posyandu. Berguna banget buat kita pelajari di rumah.

Dalam mendidik anak mengenai sopan santun, budi pekerti, saya panutannya tetep ke ibu dan bapak saya sendiri, saya juga rajin baca-baca KKA dan Buku Pink ibu dan anak, sama BUKU ANTI PANIK 0-3 TAHUN karya TIGA GENERASI. Bukunya saya rekomendasikan banget pokoknya. Sesuai dengan isinya KKA.

KKA hampir sama dengan KMS.
KKA berisi mengenai tabel yang bertuliskan tugas antara ibu dan anak untuk memantau dan mendukung perkembangan anak yang berkaitan dengan motorik kasar, motorik halus, kemampuan sosial, dll. KKA juga berisi grafik mengenai pertumbuhan dan jadwal vaksin anak.

Sedangkan KMS hanya berisi mengenai grafik pertumbuhan dan jadwal vaksin anak.

KKA bener-bener sangat penting bagi ibu-ibu yang sangat aware dengan perkembangan anak. KKA juga bisa bikin kita gak baper dan gak asal ceplos kalau ketemu dengan anak-anak lainnya. Dalam KKA sudah tercantum di usia berapa anak biasanya sudah bisa merangkak, duduk sendiri, dan berjalan. Semua dicantumkan dalam KKA hingga usia anak tersebut sampai di usia 5 tahun lebih (66 bulan).

Kalau ada yang pernah mendengar istilah DDTKA (Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak), mungkin paham mengenai apa saja tugas Ibu dan anak untuk mencapai perkembangan yang seharusnya di usia mereka. KKA berguna untuk mendeteksi tumbuh kembang anak apakah perkembangan motoriknya sudah tepat pada usianya saat itu.

Jadi, KKA itu kertasnya sedikit lebar daripada KMS yang menyebar sekarang, bahan kertasnya juga lebih sedikit kaku dibanding KMS. Cara membacanya saya ajarin ya kalau ada yang belum tau tentang KKA. Kalau sudah ada yang tau, cukup close aja kalau gitu hahaa..



*Grafik dan keterangan tugas ibu dan anak dari usia 0 – 36 bulan

Cara membacanya seperti ini :

Keterangan kiri itu adalah pencapaian kemampuan alamiah anak setiap bulannya
Keterangan kanan adalah tugas dari ibu agar si anak mampu mencapai perkembangannya sesuai dengan usianya tiap bulan
Terdapat keterangan berupa KP, TS, GK, KA, GH, MD, KP, dll merupakan singkatan dari manfaat kegiatan tersebut dilakukan setiap bulannya. (Ada di halaman keterangan pencapaian di usia 39 bulan – 66 bulan).

Contoh :
(Lihat tabel kiri) Anak pada usia 4 bulan dipastikan sudah mampu miring sendiri atau tengkurap.
Tetapi jika anak hingga usia mendekati atau sudah masuk 4 bulan belum juga mampu miring sendiri atau tengkurap, Ibu bertugas untuk memancing anak dengan rajin berbicara atau menyanyi di depan bayi (lihat tabel kanan sejajar usia 4 bulan kiri ke kanan).

Nah, di keterangan tsb ada singkatan GK  (Gerak Kasar/ Motorik kasar). Berarti kegiatan miring sendiri atau tengkurap berguna untuk melatih gerak kasar anak.
Begitu seterusnya mengikuti usia anak di tiap bulannya.



*Kiri : halaman pertama atau cover dari KKA …
Kanan : Grafik dan keterangan tugas ibu dan anak pada usia 39 bulan hingga 66 bulan




*Tugas tambahan yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Lampiran di atas umumnya digunakan di TPA.


Oia, jangan juga beranggapan bahwa anak yang masih usia 2 bulan lebih itu hebat jika sudah mampu tengkurap atau miring sendiri. Jangan baper ibu-ibuk. Kebetulan anak saya ketika usia 2 bulan 3 minggu, sudah mampu tengkurap sendiri. Saya seneng, tapi takut. Takut si anak ini jika terlalu cepat kemampuannya maka akan semakin banyak membutuhkan asupan ASI, takut juga saya kalau si anak tidak tercukupi banget rutinitas ngASInya, bisa-bisa sakit dia. Apalagi saya juga bekerja di luar rumah.

Apakah di usia 4 bulan harus bisa tengkurap?
Sekali lagi, selincah-lincahnya kita memancing perkembangan anak, tetap semua kuasa Allah yang memberikan kemampuan yang ALAMIAH bagi anak.

Tapi kenapa ada yang sudah cepet ya perkembangannya?
Patokan bisa tengkurap memang maksimalnya di usia 4 bulan. Apabila lewat dari 4 bulan belum bisa tengkurap, nah sudah ada tugas yang menanti ibu (keterangan tabel kanan).
Begitupun seterusnya.

Mengapa KKA berisi tugas ibu dan anak hanya sampai di usia 66 bulan?
Nah, Usia 0 – 3 Tahun atau 0 – 60 bulan merupakan USIA EMAS anak-anak kita lhoo. Makanya kenapa diciptakan KKA dan DDTKA dari tim kesehatan atau BKKBN ya supaya ibu-ibu terbantu untuk mencerdaskan anak.

Mengapa KKA tidak membahas mengenai keagamaan dan nilai-nilai moral atau budi pekerti?
Urusan agama, dan juga sopan santun pasti semua ibu sama. Semua urusan masing-masing ibu untuk membesarkan anak dengan MENDIDIK menanamkan nilai-nilai agama. KKA hanya bertugas untuk membantu ibu dan anak mengembangkan kreatifitas anak melalui motoric kasar dan halus agar besarnya nanti, dia tidak kaku dalam bersosialisasi, kerja kelompok, dan mengikuti kegiatan olahraga.

LOH? Kok kegiatan olahraga?

Kita pernah sekolah ya, nah waktu sekolah itu coba deh ingat lagi siapa temen-temen kita yang saat olahraga waktu ada materi berlari atau atletik, mereka larinya guya guyu kayak gak punya tulang belakang? Nah, itu salah satunya manfaat dari aktifnya motorik kasar sejak kecil. Sumber saya dapatkan dari temen-temen ibu saya yang bekerja di BKKBN dan seorang bidan juga dr anak.
Coba ingat juga deh temen-temen kita dulu, siapa yang paling suka menutup diri di kelas sehingga masuk dalam kalangan minoritas dan kurang menonjol di angkatan kita? Nah, silakan beri kesimpulan sendiri ya.

Yang sudah tinggal sendiri tidak seatap lagi dengan orang tua, saran saya tahan dulu untuk membeli sofa, meja makan, atau lemari-lemari hias yang banyak. KENAPA? Supaya si anak ketika mampu berjalan sendiri dengan tertatih-tatih dia bisa sepuasnya mengeksplor rumah sebebas-bebasnya tanpa ada halangan guci-guci, lemari, sofa, dll. Kapan lagi anak bisa merasakan lari-larian bebas dalam rumah, sepedaan roda tiga dalam rumah muter-muter ruang tamu tanpa dihalangi sofa dan meja. Lucu bayanginnya. Itu juga bisa bantu melatih motorik kasarnya loh. Kemarin juga dapat saran dari beberapa temen di kantor untuk seperti itu.

Saya belajar dari Kakak sepupu saya yang sekarang anaknya sudah masuk kelas 1 SD. Keponakan saya itu dulu juga masih ngontrak rumah, sofa tidak punya, meja makan juga tidak punya. Anaknya bebas merayap dan sepedaan kemana-mana gak ada yang halangin di dalam rumah. Besarnya, dia bener-bener aktif, bisa diajak kerjasama ketika melakukan hal-hal yang sedikit membutuhkan tenaganya.

Jangan takut jika anak belum mampu mencapai perkembangan yang seharusnya di tiap bulannnya. Santai aja. Kemampuan anak saat masih bayi semua sudah alamiah. Jangan pernah banding-bandingkan anak anda dengan anak orang lain, begitupun sebaliknya. Jangan pernah mengajari jika tidak ditanya pendapatnya, karena fenomena ibu-ibu muda jaman sekarang mudah tersinggung dan merasa paling banyak tau sampai-sampai yang ibu-ibu hamil anak ketiga aja diceramahin karena ada pandangan yang berbeda mengenai mengurus anak. HALO? Itu ibu-ibu anaknya udah mau tiga, lah kita yang baru punya anak satu aja kenapa malah sok-sokan. Gitu loh kasarnya.

Jangan capek mengajarkan dan mendidik anak dengan nilai-nilai kebaikan, ajarkan sebanyak-banyaknya, besar nanti mereka akan tumbuh dengan banyaknya kebaikan yang sudah kita tanam sejak dini. Saya juga masih belajar, Belajar usilin anak saya hahaa. Oia, jangan lupa setiap detik pun kalau kita lagi sama anak, harus diajak ngobrol. Walaupun menurut kita, mereka gak paham dengan apa yang kita bicarakan, Ajakin nyanyi. Ubah lagu jaman kita kecil juga kan gak ada salahnya kan special untuk anak. Saya, kalau kelonin anak kadang suka nyanyiin nina bobo. Tapi saya ganti jadi Kisah Bobo (KISAH itu nama anak saya). Jadi kalau sudah ada liriknya yang begini …

Kalau tidak bobo, digigit nyamuk “ saya ganti, Kalau Kisah bobo, disayang Ayah…”

Lagi-lagi saya beruntung punya ibu yang kader posyandu sekaligus Guru Paud. Saya disuruh ganti lirik lagunya itu, katanya liriknya agak ngancam, mana boleh ngancam anak-anak begitu. Lah. Salah lagi lagu anak nasional sepanjang masa ini hahaa.

Terus, kalau lagi berdua sama anak di rumah, saya suka dudukkan dia di bouncer, saya hadapkan ke dapur atau ke tempat saya lagi cuci pakaian. Sambil saya ajakin ngobrol dan tunjukkan apa yang saya pegang. “Kisah, ibu lagi nyuci baju kerjanya Ayah, nih bajunya, ayah kalo kerja pake baju ini.”
Gak salah kalau kita mau sedikit kayak orang gila demi respon anak, gak apa-apa. Jangan pernah ajak ngomong anak pake bahasa cadel, “cudah matan beyum?” (Sudah makan belum) atau, “cini cini ibu gendong, cini tium ibu duyu.” Kasihan nanti jika sudah di usia 5 tahun bicaranya masih cadel begitu, padahal itu termasuk “masalah” bagi anak dalam bersosialisasi. *Diajarin ibu saya gitu soalnya.


SUMANGAT BUK IBUUKK!

*Sumber : Buku Anti Panik, KKA, Ibu saya, Bidan, dr Anak. 

2 comments:

  1. Waaaah...blognya bagus mba Elis. Banyak dapet ilmu nih dari tulisan mba Elis buat ibuk baru macam saya��

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mba, saya juga lagi belajar hehee

      Delete