Thursday, April 30, 2015

For My 1st Dearest Hero

Terima Kasih Bapak ...


April tahun ini akan kuingat hingga kapanpun. Betapa berharganya setiap waktu untuk berbicara dengan kedua orang tua. Walaupun sempat tak memiliki harapan, akhirnya Bapak dan Ibu mengikhlaskan anak sulungnya ini memilih jalan selanjutnya untuk dilalui. Tidak ada yang salah dari harapan orang tua untuk melihat anaknya berhasil menjadi orang yang berguna bagi banyak orang, melihat anaknya menyusuri jalan masa depan sendiri dengan bantuan doa pagi siang hingga malamnya.


Terima kasih telah mengizinkanku menikah dengan lelaki yang telah enam tahun berhasil menjaga hatinya untukku. Restumu adalah pagar jalan tertinggi pengiring langkahku menuju satu arah lagi untuk masa depanku dan juga masa depan keturunan bapak ibu. Kutahu, tiada ikhlas bagimu melihatku berpelaminan tanpa ada jaminan yang pasti.
"Mengandalkan penghasilan suami kelak, bukanlah jaminan yang akan selalu membuat hidupmu tenang. Tak ada yang bisa menebak akankah kalian hidup berdampingan selamanya, akankah selalu hidup dengan damai tanpa adanya pihak lain yang mengganggu rumah tangga kalian, akankah tangannya selalu membelai pipimu setiap hari? Tidak ada yang bisa menjamin. Teruslah bekerja nak, jangan tinggalkan cita-cita yang sudah kamu raih, yang juga merupakan kebanggan orang tua mu ini demi cintamu pada suami dan anak-anakmu kelak. Apa yang kamu raih saat ini adalah kebanggaan terbesar kami yang bisa melawan mereka yang selalu menegakkan congkak dagunya melihat keadaan kita dulu. Bukan bermaksud untuk melawan dengan congkak, tapi kami hanyalah penyandang harapan melalui doa-doa yang entah doa ke berapa Allah sudah kabulkan untuk dirimu dan kami ini, nak."

Pesan sedalam itupun akan selalu kuingat hingga kulihat punggung Bapak dan Priaku baru saja mengusap wajah penuh syukur atas resminya anakmu ini berpindah menjadi tanggung jawab pria tsb. Pria yang akan melanjutkan tugasmu untuk selalu siap menjaga dan membimbingku menjadi seorang calon ibu hingga menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku kelak.


Bapak, ketahuilah bahwa anakmu ini perlahan sudah memahami bagaimana rasanya akan berpisah atap denganmu dalam waktu yang sangat lama. Tapi sekalipun aku tidak lagi akan satu atap dengan Bapak Ibu, ingatlah bahwa anakmu ini akan selalu mengingat bagaimana caramu membesarkanku dengan didikan yang sangat berguna hingga sekarang. Bagaimana caramu membesarkanku dengan pola pikir yang membuatku selalu berhati-hati dalam bertindak. Ketahuilah, bahwa bapak dan ibu sudah berhasil mendidik anakmu ini menjadi orang yang selalu bersyukur dan menghargai kebaikan orang lain.

Pujianku untukmu Bapak dan Ibu tidak akan ada habisnya. Tidak sebanding dengan hitungan materi yang sudah kau keluarkan untuk membesarkanku. Hidup tidak selalu mengenai materi, tapi aku sadar bahwa tanpa materi pun aku tidak mungkin memiliki pendidikan yang berkualitas hingga akhirnya aku berjodoh dengan pekerjaan yang sangat berkualitas walaupun aku ini masih belajar untuk menjadi seorang pekerja yang berkualitas. 


Berapa kalipun kubasuh kaki bapak dan ibu, tidak akan bisa membersihkan dosa-dosaku selama hidup bersamamu. Tidak akan bisa juga ku membalas semua budimu bagiku. Aku hanya bisa mendoakanmu selalu dalam keadaan yang sehat dan panjang umur. Jika pun Allah akan memanggilmu, aku selalu berdoa untukmu agar tidak diambil dalam keadaan aku sedang berjuang untuk membuatmu bangga. Aku tidak berharap kau akan melihatku memberikanmu keturunan yang baik seperti bapak dan ibu. Tapi aku berharap selalu bisa membuatmu bangga dengan hasil yang kucapai selama hidup bapak dan ibu.


Kelak, aku akan belajar menjadi wanita yang kuat. Sampai saat ini pun aku belum bisa menjadi wanita yang tangguh dan tegar. Bahkan menulis ini pun airmataku sudah menggumpal bersiap jatuh. Aku tetaplah anakmu yang selalu menangis terisak ketika mengingat apa saja kenakalanku saat remaja dulu, selalu terisak di tengah jalan ketika melihat bapak-bapak tua pedagang es dawet berusaha mencari nafkah di bawah teriknya matahari, selalu terisak ketika melihat guru-gurunya masih dalam keadaan sehat dan selalu terharu saat masih diingat oleh guru-gurunya. Aku tetaplah anakmu yang selalu mendoakanmu dalam keadaan apapun. 


Aku tidak ingin menjelaskan bagaimana sifat pria penerusmu ini, karena aku tidak akan bisa menahan pujian kasihku untuknya. Kutakut jika nanti kau merasa terabaikan, padahal pujian kasihku untukmu sangat banyak dan entah harus memulai dengan pujian kasih yang bagaimana untukmu Bapak dan Ibu. 


Entah dari mana datangnya perasaan dan sikap sigapku kepadamu bapak dan ibu, seakan besok aku akan meninggalkan rumahmu ini. Setelah kamu memberikan kami restu untuk menuju jalan baru, aku lebih senang menghabiskan waktu di rumah, pulang kerja lebih cepat agar bisa menyambut bapak dan ibu di teras, mengajakmu makan di luar bersama, mengajak keliling kota tanpa tujuan, selalu mendahulukan apa yang bapak dan ibu butuhkan, dan banyak lagi perasaan-perasaan yang tiba-tiba datang untuk lebih menjagamu seakan hatiku ini tidak akan bisa berpindah ke atap lainnya.


Terima kasih Bapak dan Ibu, semoga restumu selalu mengantar kami menuju jalan yang baik, hambatan apapun akan terasa lebih mudah dilalui jika kami sudah mendapatkan izin dari bapak dan ibu. Jangan lelah mendoakan kami agar segala urusan yang dihadapi selalu lancar. Doaku pun saat ini masih selalu untukmu bapak dan ibu, dan tak lupa untuk calon bapak dan ibu baru dari priaku. Terima kasih bapak, terima kasih atas kepercayaanmu untuk kami...


Semoga tahun ini segala sesuatunya dilancarkan untuk kita semua.
Amiinnn...

No comments:

Post a Comment