Saturday, May 20, 2017

Hodgkin Lymphoma

Berkenalan dengan Hodgkin Lymphoma -


APA ITU HODGKIN LIMFOMA ?

HODGKIN LIMFOMA ADALAH ...


Bismillah …
Hodgkin Limfoma, sederhananya adalah penyakit berupa kanker yang menyerang kelenjar tiroid. Tempat kelenjar tiroid juga tidak hanya berada di area selangkang atau paha dalam, sekitar mata kaki, ketiak, bahkan di leher pun ada. Hal kecil yang sering terjadi pada beberapa orang adalah di leher, jika mengalami tanda-tanda ingin sakit demam, flu, atau yang berkaitan dengan imun tubuh menurun, maka tiroid akan membengkak hingga sakit yang diderita sembuh, maka tiroid pun akan mengepis dengan sendirinya. Berbeda dengan Hodgkin, tiroid akan terus membengkak tanpa rasa sakit jika ditekan, bisa beranak hingga menjalar di area leher dan tulang selangka.

Sedikit pengalaman saya di bawah ini semoga bisa membantu teman-teman yang mungkin mengalami kebingungan bagaimana cara menghadapi dan menanganinya.

September 2015

Satu hari setelah menikah (Agustus), suami saya bercerita bahwa beberapa minggu sebelum menikah, dia merasakan ada benjolan sekecil kelereng di area tulang selangka. Hingga akhirnya saya memaksakan beliau untuk memeriksakan ke rumah sakit swasta terbaik di daerah Bontang Utara, sebut saja RSP (September). Suami saya mengunjungi poli umum di klinik sesuai faskes di BPJS nya saat itu, meminta rujukan ke spesialis internis RSP agar bisa mendapatkan tindakan medis lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan dr internis, suami tidak diminta untuk tes darah, hanya tes lendir/liur di lab dan pemeriksaan fisik dengan cara ditekan bagian yang membenjol seperti kelereng. Keesokannya suami diminta untuk mengunjungi dr patologi yang jadwalnya saat itu hanya pada hari Sabtu. Di ruang patologi, suami saya disuntikkan dengan alat yang agak besar ke benjolannya untuk diambil sedikit isi/sampel dari benjolannya untuk dianalisa. Kesimpulannya adalah suami saya didiagnosa terkena KELENJAR TBC.

Oia, yang membaca lebih lanjut hasil analisanya adalah dokter internis, dari beliau suami dibekali obat TBC yang dikonsumsinya tidak boleh putus setiap pagi dalam keadaan perut kosong. Jika telat sehari tidak mengonsumsi maka harus mengulang dari awal.
Apa reaksi kami? Reaksi kami hanya memaklumi, karena suami bukan perokok dan tempat kerjanya juga di laboratorium tambang, teman-temannya juga banyak yang perokok, belum lagi kalau habis main futsal, saat imun tubuh lagi turun, dia terpaksa menghirup udara yang tidak baik, ditambah dengan udara yang kurang baik di laboratoriumnya jika sedang menganalisa material tambang.


MARET 2016
Hampir TUJUH bulan suami saya mengonsumsi obat TBC tapi tidak kunjung sembuh. Suami saya juga rajin mengonsumsi herbal-herbal ini itu tapi tidak mempan. Rentang September 2015 menuju awal maret 2016 suami saya sering mengalami demam tinggi hingga 45 derajat dengan segala bengkak di lehernya yang semakin membesar, kadang hilang, ternyata akan menggembung di sisi lain lehernya. Menderita. Belum lagi keadaannya saya saat itu sedang hamil muda, kayaknya masuk 3 bulan yang juga lagi butuh care nya suami, tapi ternyata kita diminta Allah untuk saling care dengan komposisi yang sama besarnya. Saya sering menangis tiba-tiba, sedih lihat keadaan suami, kami yang berpacaran selama enam tahun yang terbiasa melihat fisiknya yang bagus, jarang sakit, ganteng (haha), aktif futsal dan sepakbola lapangan, bener-bener sehatlah menurut saya tiba-tiba jatuh sakit yang penyebabnya juga sebenarnya kami masih meraba-raba, ya mungkin lagi kena musibah saja. Berbagai cara ditempuh oleh kedua orang tua dan mertua saya, mulai dari mertua yang menyarankan alternative ini dan itu, sampai ada yang tindakannya di luar nalar yang sangat sangat saya tentang, tapi saya lagi-lagi bisa apa, saya Cuma seorang menantu, takut berkata ini itu karena takut menyinggung hati beliau. Sampai akhirnya saya memberanikan diri bercerita kepada beberapa guru (teman mengajar) di sekolah tempat saya mengajar, dengan niat semoga saya bisa mendapatkan solusi, apalagi sebagian besar di tempat ngajar saya, lebih banyak guru senior yang pasti sudah punya cerita dan pengalaman. Akhirnya solusi ini dan itu saya mendapatkan satu pesan, sebelum  akhirnya memutuskan untuk mencari second opinion ke rumah sakit AW SJAHRANIE di Samarinda (AWS).

“HERBAL ITU TIDAK AKAN BERFUNSGI JIKA DIKONSUMSI SAAT PENYAKIT BERUPA TUMOR ATAU KANKER SUDAH POSITIF MENEMPEL DI TUBUH KITA. HERBAL HANYA BERMANFAAT UNTUK MENCEGAH, MENGHINDARI DAN DALAM PROSES PENYEMBUHAN.”

Ada juga yang seperti ini …

“KANKER DAN TUMOR HANYA BISA DISEMBUHKAN OLEH BAHAN KIMIA, OBAT-OBATAN ANJURAN DOKTER, BUKAN DUKUN, BUKAN JUGA ORANG YANG SELALU MENYARANKAN MENCAMPURKAN BAHAN ALAMI INI DAN ITU.”

Atau yang seperti ini …

“SAYA, BAPAK A, BAPAK D, IBU C, IBU B, DULU PERNAH KENA PENYAKT KANKER, MEREKA MELAKSANAKAN TINDAKAN MEDIS YANG DISARANKAN DOKTER, DAN SEKARANG, SEHAT BUGAR, SEGER.”

Dan akhirnya, setelah saya menceritakan tentang apa yang saya terima di sekolah kepada suami, beliau akhirnya mantap ke samarinda untuk menemui dokter internis di sana. Dari dr internis akhirnya keesokan harinya suami dirujuk ke poli bedah, dan berujung dengan tindakan BIOPSI ; Pembedahan/operasi kecil untuk mengambil sampel kelenjar yang membengkak. Tindakannya ya harus bermalam di ruang rawat inap dan berpuasa, seperti pasien operasi lainnya.

Hasilnya,
ternyata suami saya positif HODGKIN LIMFOMA dan HARUS KEMOTERAPI.

Kemoterapi. Mendengarnya saja saya sudah ketakutan. Takut suami saya umurnya tidak panjang. Karena cerita-cerita dari banyak orang, kemo itu sudah seperti orang yang setengah hidup. Tapi bersyukurnya saya dikelilingi oleh orang-orang yang kaya ilmu dan pendidikan medis, dan saya juga banyak melihat orang-orang yang saya kenal (beberapa guru tempat mengajar) banyak yang pernah menjalankan kemo, tapi searang kondisinya sudah kembali fit, segar sehat. Walaupun selama rentang kemo itu, pasien akan banyak kehilangan rambut, bulu alis, kulit menghitam, kuku menguning, muka kusam, dll. Tapi ternyata itu semua tergantung hati, pikiran, dan sugesti si pasien sendiri. Ada juga pasien kemo tapi tidak terlalu berdampak kekurangannya karena sugesti dia selalu positif akan sembuh dan “ENJOY” dalam menjalani pengobatanya.

Asumsi kami, berarti dokter sebelumnya yang memvonis suami saya kelenjar TB, salah? Tapi lagi-lagi kami berpikir positif untuk tidak mengarah ke kejadian sebelumnya. Karena saya takut jadi tersugesti untuk terus berpikir negative terhadap dokter yang menangani suami saya sebelumnya. Pantes saja segala obat yang diresepkan tdak pernah berdampak apa-apa bagi suami saya. Setidaknya saya bersyukur, suami saya tidak terkena penyakit atau mengalami efek samping lain yang lebih parah karena salah mengonsumsi obat selama hamper TUJUH BULAN. Sedih saya waktu itu. Sedih sekali. Hancur hati, karena melihat suami saya yang berjuang dengan mengonsumsi obat-obatan itu tapi ternyata bukan itu obat yang harus dia terima.

Kenapa saya tidak mencoba rumah sakit lain yang ada di Bontang saat suami saya tidak juga kuntuk masuk di tubuh. Beberapa kali kemo awal, suami saya hanya menjalankan kemo selama ENAM JAM.

Begitu kemo ke-8 kalau tidak salah salah, obat kemonya pun ditambah, maka waktunya selama kemo pun akan semakin lama, sudah naik darnjung sembuh? Sederhana, karena kota Bontang ini sangat kecil. Dokternya juga pasti tidak akan jauh berbeda dari segi penalaran dan pengalamannya. Makanya kami langsung mencari second opinion ke rumah sakit AWS yang memang sudah sangat terpercaya pelayanan dan fasilitasnya lebih lengkap, juga di sana banyak dokter spesialis yang bertugfas.

April 2016
Suami saya memulai kemo bulan April 2016.
Pertama hingga ke-4 kalinya, tidak berdampak apa-apa, karena suami saya susah payah mengatur sugesti positif salama kemo berlangsung. Walaupun awalnya suami muntah-muntah, kata dokter, itu penyesuaian obatnya u
i enam jam menjadi 12 jam. Tersiksa. Saya memang tidak menemani, tapi saya bisa merasakan sakitnya bagaimana. Saya banyak terima kasih kepada kedua mertua dan adik ipar saya yang siap menjaga suami, menemani, mendampingi setiap suami berangkat kemo di samarinda. Kondisinya saya yang sedang hamil, lagi-lagi menjadi alasan untuk tidak mendampingi suami.

Agustus 2016
23 Agustus 2016, anak saya akhirnya lahir dengan sehat selamat. Walaupun selama kehamilan saya selalu control tiap bulan dengan dokter kandungan di RSP juga, dokter kandungan saya sangat care , mengawasi dan memantau apakah saya dan si adek bayi ini aman, apakah tidak mengalami sakit yang sama dengan suami. Alhamdulilah saya tidak memiliki dampak apapun terhadap kesehatan dan fisik, hanya ada dampak sakit hati dan jiwa melihat suami saya menderita sakit seperti itu. Gak tega, gak percaya kenapa suami saya diberikan sakit seperti itu. Lagi-lagi segala sakit, duka, suka, dan apapun itu merupakan ujian Allah untuk selalu menguatkan dan menguji iman HambaNYA. Suami memang tidak menemani saya di ruang lahiran malam itu. Suami hanya menemani hingga bukaan 4 karena memang kondisi fisiknya sedang tidak baik, demam dan pusing, efek penyakitnya saat itu. Mungkin dia kaget juga melihat saya mengerang kesakitan menunggu bukaan demi bukaan saat itu. Namanya juga emak-emak mau lahiran, udah kayak kesurupan haha.
Sayangnya, suami hanya bisa melihat si bayi ini dari dia lahir hingga besok paginya saja, karena keesokan paginya suami harus berangkat ke samarinda lagi untuk menjalankan kemoterapi lagi.
Sedih saya. Sedih lagi mertua dan orang tua saya. Pokoknya kami sedih, hati kami hancur gak sanggup meihat keadaan suami. Walaupun suami saya fisiknya masih segar padahal sudah berkali-kali kemo.

Desember 2016
“Yang, rambutku kayaknya rontok.”
Langsung lari ke kamar mandi, mandi guyuran sambil nangis biar gak didenger sama suami. Hancur hancur sehancurnya hati saya melihat rontokan rambut suami di Kasur, di ambal, di lantai, di manapun. Saya kemarin berpikir itu rambut anak saya yang pelan-pelan rontok, anak saya saat itu berumur empat bulan. Kemoterapi menjelang akhir memang obatnya bisa dikatakan yang sudah sangat keras sehingga mual muntah suami yang biasanya hanya sehari, ini bisa sampai dua – tiga hari gak nafsu makan. Hanya minta es buah dan makanan yang berkuah untuk penawar mualnya setelah kemo.

Akhirnya, mas minta dicukurkan rambutnya sampai gundul. Modal kerokan jenggot yang murah itu, saya kerok, saya susah payah nahan air mata supaya gak nangis. Abis itu saya ke kamar mandi lagi, pura-pura cuci muka padahal di situ lagi nangis sejadi-jadinya. Setelah suami saya cukur, anak bayi ini saya cukur juga, jadi dua-duanya gundul.

Kedukaan kami tertutupi oleh satu kebahagiaan kami diberikan anak bayi lucu gemesin, dan kami beri nama RENJANA. Saya pernah Bahas tentang nama anak saya sebagai doa di post sebelumnya.


Februari 2017
Bukan main bahagianya saya ketika suami mengatakan bahwa kemoterapinya sudah selesai. Tiroid yang membengkak itupun memang sudah sejak akhir 2016 perlahan menghilang dan mengempis, suami tidak lagi pernah demam, pusing, dan lain-lain.  Sudah mulai berani kembali futsal.
Rambut perlahan muncul perhelai. Walaupun memang kulitnya agak menggelap dan kusam.
Total suami menjalankan 12 kali kemo.

Suami hanya disarankan untuk control dan tidak rutin juga tidak apa-apa. Tapi tetap harus memantau sendiri jika nanti siapa tahu ada benjolan lagi harus segera di cek. Sel kanker siapa yang tahu, dia tetap akan bisa tumbuh lagi tergantung si pasien memakan apa, gaya hidupnya sehat atau tidak, itu semua berpengaruh terhadap munculnya sel kanker.

Mei 2017
Rambut suami saya sudah tumbuh lebat, seneng rasanya!
Sudah mulai rutin futsal lagi. Dan tetep konsisten maunya makan masakan rumah sendiri, bukan masakan bulek2 warung. Berhenti konsumsi makan yang ga sehat. Karena kemarin pernah Tanya, dulu suka makan apa kok bisa sampe sakit kayak begini. Jawabannya suami : MIE INSTAN.
Oke, berhenti konsumsi yang instan2 kalau begitu. Selama suami kena sakit dari segala sakit yang salah diagnose itu, kami sudah berhenti  mengonsumsi masako, royco, ajinomoto dan lai-lain. Kami hanya menggunakan garam dan gula tok. Karena kami sangat menghindari penyakit gara-gara apa yang kami konsumsi. Agak capek memang saya rasa selalu masak dan masak. Tapi demi suami dan keuangan rumah tangga, harus dibisakan. Dan pasti segala kebaikan yang kita kerjakan pasti hasilnya akan kita tuai indah. Saya juga jadi terlatih masak ini itu dengan segala bumbu dan resep.

^^^
^^^
^^^

Sekian cerita saya. Semoga bisa membantu teman-teman yang saat ini sedang bertanya-tanya tentang penyakit yang berkaitan dengan kanker tiroid. Saran saya, ikuti saran dokter dengan BISMILLAH. Jangan suudzon, gunakan akal dan nalar temen-temen untuk tidak berobat ke dukun. Karena saya sudah pernah melihat kejadian, kanker tapi ngotot diobati ke orang pintar, dukun, dan hanya modal bahan alami, akhirnya nyerah tambah parah baru mau kemo, sayangnya hanya sekali-dua kali kemo, beliau meninggal. Usaha boleh, usaha wajib, tapi gunakan nalar. Kanker dan tumor hanya bisa disembuhkan dengan tindakan medis dari dokter. Itu keyakinan saya.

 Oia, jika ada yang bertanya kapan fase terberat saya ketika mendampinginya selama hampir dua tahun pernikahan dengan status suami saya yang menderita kanker HL, saya masih selalu menjawab dengan menahan airmata :
saat suami saya pasang muka cengengesan

"Yang rambutku udah mulai rontok, bulu kaki juga, alis ini juga kayaknya yang, tuh di lantai kayaknya rambutku semua."

hati saya mendadak sesak saat itu, tapi hanya saya bales ketawa hampa. Ujung-ujungnya saya pura-pura BAK di kamar mandi, padahal saat itu saya nahan air mata sekuat hati dan tenaga saya. 

BUT ITS OVER NOW. HE HEALED BY HIS FEELS. THANKS GOD.
   
Terima kasih, semoga bisa diberikan saran dan kritik. Bagi pembaca yang berlatarbelakang ahli medis, mohon maaf jika ada pernyataan saya yang kurang tepat. Salam sehat!!!


Alhamduillaahh…



^^^ 

2 comments: