Wednesday, December 7, 2016

Rumah Sakit Atau Posyandu


RUMAH SAKIT atau POSYANDU ?



Ada yang menarik dari pengalaman saya selama hampir 4 bulan ini mengantar anak untuk vaksin di posyandu. Jadi, semua bayi sama ya alur vaksinnya. Kisah (nama anak saya) itu vaksin pertama kali adalah hepatitis B, beberapa menit setelah lahir. Seminggu kemudian, dia vaksin polio 1 di Rumah sakit tempat dia lahir. Sebulan kemudian, dia polio 2 sekaligus suntik BCG di lengan kiri. Dua bulan kemudian, dia suntik DPT 1 di paha dan polio 3 sampai sempat demam. Di tiga bulannya ini dia suntik DPT 2 dan polio 4, Alhamdulillah hanya hangat sebentar, karena dapat saran dari temen lagi, sebelum disuntik, nenenin anak terus sampe dia kenyang insyaAllah bisa bantu tidak demam.

Vaksin saat usianya satu hingga 3 bulan, kami lakukan di posyandu di RT rumah ibu saya. Kenapa? Karena kami pasien BPJS, Kalau ke rumah sakit, pasti bayar cash. Sedangkan di posyandu, vaksin apapun itu sudah gratis. Dulunya saya pikir posyandu itu tidak berkompeten dibandingkan dengan rumah sakit pro di deket rumah ibu saya. Nyatanya, saya salah besar. Semuanya sama. Fasilitas yang diberikan mengenai vaksin anak, semua sama. Saya gak akan permasalahkan mengapa vaksin di rumah sakit tidak mengakibatkan demam, sedangkan vaksin di posyandu atau puskesmas pasti menyebaban demam. Saya baca di BUKU ANTI PANIK, ada kutipan seperti ini …

“Setelah vaksin, bayi pasti akan demam. Sebagai tanda bahwa vaksin sedang bekerja membentuk antibodi untuk melawan bakteri penyebab sakit pada bayi. Karena sejatinya demam pada anak maupun orang dewasa, termasuk alarm bahwa tubuh sedang bekerja melawan serangan bakteri penyebab sakit apapun”

Jadi, silakan menyimpulkan sendiri ya. J

Sampai saat ini saya mulai menyukai situasi posyandu. Bukan berarti saya gak membutuhkan rumah sakit. Saya ke rumah sakit jika bener-bener anak saya harus saya bawa ke rumah sakit dan butuh penanganan dokter. Tapi mengenai vaksin rutin, saya bersemangat untuk ke posyandu. Bukan juga karena gratis, tapi karena suasana kelompok terbuka dan bisa bebas ngobrol dengan ibu-ibu lainnya, juga bisa menyimak konsultasi ibu-ibu lain dengan petugas puskesmas dan juga seorang dokter yang saat itu tidak dibatasi dengan sekat dan secara langsung bisa belajar dari ibu lainnya.

Senin kemarin, saya bawa Kisah ke posyandu untuk vaksin DPT 2. Sambil menunggu antrian, saya ngobrol sama ibu-ibu lain yang anaknya sudah berusia 5 tahun. Banyak bayi, batita, dan balita yang datang saat itu, tapi pada sibuk main dengan balok-balok kecil berwarna-warni, ada yang sepedaan, ada yang lompat-lompat, lari-lari, ada yang nangis gak mau lepas dari gendongan ibunya, ada yang banting-banting mainan, wesss kayak dalam ruangan playgroup. MERIAH.

Dari situ saya pasang mata lebih awas. Saya perhatikan, begitu nanti konsultasi dengan petugas puskesmas, saya simak dari kejauhan, saya ngangguk, seakan paham bahwa permasalahan si ibu dan anak di depan saya itu apa, saya ingat, akan saya jadikan pembelajaran.

Ada satu anak laki-laki yang menarik perhatian saya, umurnya 4 tahun. Ekspresinya agak cool tapi aktif banget, pinter. Sambil cemil wafer coklat, dia tertarik dengan mainan rumah balok yang punya jendela berupa bolongan angka, yang jika dimasukkan balok angka, maka sempurnalah bentuk rumahnya. Ya saya belum paham itu nama mainannya apa, haha. Diam-diam saya perhatikan, eeehh hebat!!! Dia berhasil memilih-milih tumpukan balok angka mini yang pas untuk melengkapi susunan rumah balok di depan kami. Reflek, saya langsung tepuk tangan kecil “heebaattnyaa”. Eeh dibalesnya sama si anak itu pake muka “cool”.

Dia pergi nyamperin mamanya, tiba-tiba lari ke saya sambil ngasi wafer coklat yang masih terbungkus sambil negur, “eh, eh.” Manggil saya maksudnya. Ya ampun, nih anak pinter banget. Tampangnya “cool” tapi pinter banget! Dan ternyata, si anak punya masalah. Di umurnya yang 4 tahun, berbicaranya masih belum lancar, masih cadel. Padahal seharusnya cara berbicaranya sudah sempurna menyebutkan tiap huruf di umurnya itu. Bahkan ternyata si anak “cool” ini suka salah menyebutkan kegiatan yang dia lakukan. Mainannya terjatuh, dia malah nyebut “jujuh.” Agak sama sih kedengerannya dengan “jatuh” tapi ternyata tetap disalahkan oleh bidan saat itu, sampai ibunya dipesankan, “bu, kalau anaknya salah menyebutkan, dibetulkan ya.”
Wah, tugas seorang ibu ternyata lebih banyak dibanndingkan tugas kerjaan saya sebagai guru. Gimana ibu-ibu gak suka baper kalau ternyata tugas membesarkan anak juga harus ada ilmunya.

Selain bisa ikutan nimbrung perhatikan tingkah anak-anak yang lucu, ada juga ibu-ibu yang umurnya kurang lebih sama umur saya, anaknya baru usia satu bulan, tapi sudah nenteng dot. Dikira bidannya, itu asi perah, begitu ditanya ternyata sufor. Melototlah mata si bidan dan dokter yang bertugas waktu itu. Sudah ya, gak mau komentar lebih panjang mengenai ASI dan SUFOR. Bye.

Kesimpulannya, saya prefer posyandu karena suasananya yang ramai dan lebih bebas berkonsultasi tanpa harus memikirkan antrian yang panjang di belakang kita. Tapi akan tetap ke rumah sakit jika memang sakitnya anak saya harus ditangani dokter. Jangan pernah minder jika level anda mungkin berbeda dengan posyandu. Semua sama. Semua ditangani dengan baik. Banyak bertanya, banyak belajar, banyak ilmu. Karena banyak ilmu harusnya bisa melatih diri agar selalu “tunduk” dan tidak mudah menghakimi satu sama lain.


SUMANGAT IBUK!

No comments:

Post a Comment