Tuesday, September 6, 2016

Kisah 2 Minggu

KISAH 14 HARI



Gak terasa sudah di 14 harinya Kisah. 
Sudah masuk September, keinget HPL Kisah jatuh di 9 September 2016 akhirnya sirna, Alhamdulillah maju 3 minggu dari HPL. Kata orang, mungkin dedeknya sering diajakin ngobrol supaya cepet keluar. Sebenarnya iya, ada ngomong gitu sambil elus-elus perut kemarin waktu udah masuk di 9 bulan. Entah ngaruh atau enggak, tapi aku yakin, Allah memberikan segala sesuatu itu tepat pada waktunya. 

Mengawali 1 September, Kamis kemarin si Kisah sempat masuk rawat inap di rumah sakit karena sakit kuningnya mencapai 14 mg, sudah seluruh badan dan harus diberi bantuan alat sinar biru untuk mempercepat proses penyembuhannya. 

Dari hari Kamis jam 5 sore, Kisah sudah mulai masuk di rawat inap, sudah mulai disinar juga sampai 48 jam di hari Sabtu, 3 September 2016. Alat sinar ini bukan semacam box inkubator, bentuknya seperti lampu belajar yang gede tapi hangat. Mata Kisah ditutupi dengan lapisan kain kasa yang dibentuk pita lucu, hanya ber-pampers, kaos tangan dan kaki. Aku pikir nantinya bakal gak bisa nyusuin Kisah. Ternyata tetep masih bisa nyusuin Kisah, dengan cara berbaring atau duduk. Kalau menyususi Kisah sambil berbaring yaitu yang agak repot. 

Dengan kondisi ranjang yang sempit, badan juga harus tetap masuk di bawah alat sinar sambil nyususin Kisah, itu agak sulit, karena hangat banget sampe bikin aku keringatan. Kalau menyususi dengan duduk pun yang sedikit agak mudah karena alatnya masih bisa ditinggikan dan Kisah tetap berada di bawah sinar biru. Menyususi anak sambil disinar itu posisi si ibu harus ngikutin letak bayi. Bayi tidak boleh dibawa keluar dari alat sinar, tapi ibu yang harus masuk setengah badan untuk menyusui si bayi. Pun kalau mau menyendawakan Kisah setelah menyusui, saya bisa dudukkan dia di paha atau sambil berbaring menyamping saya tepuk-tepuk bahu belakangnya. Hanya saja lebih nyaman menyususi dengan posisi berbaring, karena posisi duduk saat itu masih agak bikin nyeri jahitan, sedangkan Kisah kalau nyusu suka lama banget.

Sabtu malam, akhirnya Kisah boleh pulang setelah 48 jam disinar. Dan selama disinar, beolnya si Kisah juga berwarna gelap kayak rawon. Kata dokter dan bidan yang merawat Kisah, anak sakit kuning itu akan mengeluarkan penyakitnya melalui tinja dan urin, serta harus kuat nyusu. Jika tinjanya berwarna gelap maka pengobatan dengan disinar berhasil. Alhamdulillah selama disinar dan setelah Kisah sudah dirawat di rumah, beolnya masih hitam. 2 hari setelah rawat sinar di rumah sakit, warna beolnya kembali normal.





Seninnya, alhamdulillah bisa melangsungkan acara aqiqah untuk Kisah. Karena Kisah cucu pertama dari keluargaku dan suami, jadi acara aqiqahnya minta didekor sama salon kak santi, putri violetta. Dekorasi yang gak begitu ramai, cuma minta dua warna aja, putih dan ungu. Kenapa bukan pink? kan cewek. Ah pink udah terlalu mainstream. sekali-sekali nuansa ungu kan jarang yaa. Hehee..
Sekalian aku pakai jasa fotografer Sony Selawe lagi untuk dokumentasi acara Kisah. Alhamdulillah selalu terpuaskan sama cara kerja mereka. Karena acaranya senin, tamu nonstop di jam istirahat siang orang-orang kerja. Rejeki buat Kisah banyak banget alhamdulillah. Tamu yang diundang pun hampir seluruhnya hadir. Banyak yang mendoakan Kisah, bahagia sekali masih bisa bersilaturahmi dengan teman-teman dan saudara. Aqiqahan Kisah ini kebetulan hanya mengundang temen-temen dekat dan beberapa teman yang waktu acara nikahan kemarin kelupaan diundang atau gak sempet hadir jadi bisa hadir di aqiqahan Kisah hehee..


Terima kasih Kisah, ibu menggendut, ayah juga bb nya naik balapan sama bb ibu


Banyak hal baru yang aku rasakan selama dua minggu menjadi seorang ibu. Yang membanggakan adalah Aku sudah berani memandikan Kisah hahaa.. Mungkin karena mamak sengaja membiarkan anakku tidak dimandikan lagi jadi aku juga agak tumbuh rasa sungkan meminta tolong terus sama mamak untuk memandikan Kisah, sedangkan selama keluar dari rumah sakit, mamak kelihatan keteteran harus nyucikan pakaian, bedong, dan popok kain Kisah. Sudah dicuci, dijemurkan, dan berakhir dengan setrikaan. Mamak selalu mengingatkan, pakaian anak nanti jangan dimasukkan mesin cuci, cukup direndam, kucek pelan, bilas sampai gak begitu berasa licin deterjen, dijemur lalu DISETRIKA. HARUS DISETRIKA! Supaya kuman-kumannya mati. Karena mamak cerita, dulu selalu rajin nyetrikain pakaian aku dan adek waktu masih bayi sampai SD. Bahkan sampai celana dalam dan kaos dalam pun disetrikakan sama mamak. Malu kalau gak bisa mencontoh mamak yang ulet begitu. 

Pasca persalinan pun menjadi seorang ibu harus tahan hati dan kuping dari omongan orang lain, orang tua bahkan mertua sekalipun. Masing-masing ibu di dunia ini mempunyai cara sendiri untuk membesarkan dan merawat anak-anaknya. Kalau kita bisa konsisten, tegas dan cukup diam tapi bekerja dengan baik merawat anak, mungkin akan membendung segala omomngan yang bikin nyesek di hati. Satu kuncinya adalah selalu berkoordinasi dengan suami. Kalau suami juga sejalan dengan cara berpikir kita merawat anak, maka cukup tutup kuping. Jika ada omongan atau pesan yang agak gak masuk akal atau berbeda, cukup didengar, sabar dan istighfar supaya gak kepancing emosi dan hindari perdebatan.

Sebenarnya mudah saja kalau ada yang menasihati atau berbeda pendapat dengan kita mengenai bagaimana cara merawat anak, cukup liat anak-anak mereka yang kita kenal atau tau, lihat apakah cara merawatnya si ibu itu menurut kita sesuai apa enggak, kalo enggak sesuai tapi si ibu itu agak ngotot dan sering memancing perdebatan, cukup tertawakan dalam hati saja. Misal, si ibu itu punya anak, yang kita tau, anaknya dari bayi sampe dia agak gedean seumuran SD, suka sakit-sakitan dan penampilannya agak jorok, tapi si Ibu itu suka membangga-banggakan bagaimana dia merawat anaknya "dengan baik" versi si ibu itu. Kenyataannya? liat aja contoh anaknya si ibu itu. Jadi gak perlu berdebat maslaah merawat anak. Selagi ilmu merawat anak yang kita dapat dasarnya bersumber dari bidan atau orang-orang yang sudah terbukti merawat anaknya dengan sehat dan baik, itu saja yang dicontoh. 
Iya toh? Hehee..


Anak itu titipan dari Allah SWT. Amanah terbesar dalam hidup seorang ibu.
Media pengumpul pahala dan pengendali dosa
Pengingat limit kedurhakaan terhadap ibu kandung sendiri


Btw, Di sela-sela ngetik, sempat kebelet pipis. Masih suka hati-hati kalau nyebok, takut bekas jahitannya sobek. Eh alhamdulillah tali simpul jahitan tadi udah copot sendiri. Udah gak takut lagi sobek, berarti benang jahitannya udah jadi daging di dalam situ. Udah bisa aktifitas kemana-mana jalan jauh berarti ya. 





2 comments:

  1. kalau kisah uda besar nanti mbak elis pengen kisah jd apa mbak??

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo karirnya dia, jadi apa aja terserah dia aja hehee
      tapi kalo jd anak sholehah, berbakti, yg baik2 mah pasti semua orangtua ngarepnya gitu ya hihii

      Delete