Tuesday, August 30, 2016

KISAH Hidupku

KAYYISAH RENJANA SOFYAN



Alhamdulillah...

Kenalkan, KAYYISAH RENJANA SOFYAN. Boleh dipanggil, KISAH.
Arti dari nama si gadis cilik ini adalah, anak perempuan yang cerdas, memiliki rasa cinta yang kuat dan bijaksana. Sengaja kami berikan akhiran nama SOFYAN karena sebagai tanda keturunan dari Suamiku atau sekarang sudah menjadi ayahnya Kisah.  Hitung-hitung ntar kalau mau ke luar negeri Kisah gak ngerepotin petugas cek visa dan passpor bandara jika tidak memiliki akhiran nama Ayahnya.  Hehee...

Kami memilih memanggilnya KISAH sebenarnya untuk memudahkan dan mempersingkat nama depan si KISAH. Selain KISAH juga memiliki makna, nantinya selama hidupnya memiliki banyak kisah menarik yang dilalui. 

Hari ini Kisah tepat berusia seminggu. 
Selasa, 23 Agustus 2016 Allah memberikan kami satu kuasa-Nya yang menjadi amanah besar dalam hidup dan akhir hayat kami. Melalui proses yang sama seperti kebanyakan ibu-ibu hamil di luar sana, membuat aku menjadi paham bahwa sangatlah besar hati dan tenaga yang dimiliki oleh seorang ibu. Luar biasanya seorang wanita yang menjadi ibu, mengandung dan melahirkan dengan rasa kesakitan yang sebelumnya tidak akan pernah terbayangkan.

Sedikit cerita tentang proses melahirkan hingga beberapa keparnoan yang aku alami dalam seminggu ini seiring usianya Kisah yang juga tepat seminggu.




Berkaitan dengan HPL, dokter menargetkan 9 September sebagai partus dari si KISAH. HPL itu ditentukan hingga batas 40 minggu atau 10 bulan dikarenakan ada hubungannya dengan kondisi air ketuban dan ari-ari yang akan memburuk dan jika lewat dari 40 minggu maka kelahiran berisiko akan terjadi. Berisiko terhadap Ibu dan bayi. 

Oke, lanjut yaa...

Seminggu yang lalu, usia kandunganku sudah 37 minggu 4 hari. Berarti sedang berjalan menuju 38 Minggu. Sejak masuk di 35 minggu sebenarnya perut sudah sangat sering kencang atau biasa disebut kontraksi palsu yang tidak menimbulkan pembukaan atau nyeri pinggang seperti saat menstruasi.  Saat 36-37 minggu keadaan perut bawah juga semakin terasa seperti ada yang sundul kalau lagi pipis jongkok. Perut bawah juga rasanya sudah semakin berat untuk dibawa berjalan kemana-mana. Keinginan berjalan di pagi hari pun semakin malas karena selangkangan selalu terasa keneng sehabis berjalan. 

Cukup praktekkan senam hamil yang saya ikuti selama 4x pertemuan saja di rumah, setiap bangun pagi. Tidak mesti berurutan, cukup lakukan gerakan mana yang masih bisa dilakukan dan tidak membuat pegal. Pada dasarnya, senam hamil sangat sangat sangat membantu mengatur pola pernapasan yang baik dan menyugestikan ke dalam pikiran bahwa jika kepanikan sudah memnuhi ruang otak, maka pernapasan tidak akan teratur. 

5 hari sebelum kelahiran KISAH, aku hadir di kelas pertemuan akhir senam hamil. Kebetulan saat itu ada tambahan gerakan baru, yaitu teknik dan posisi mengejan serta mengolah pernapasan yang baik sambil mengejan. Tidak begitu sulit tapi lumayan menguras tenaga dan napas perut yang ngos-ngosan.

Hari Minggu, 21 Agustus 2016, sorenya itu aku sibuk mencuci semua pakaian dalam tapi ternyata lupa untuk dikeringkan. Baru ingat saat lahiran si KISAH. Tumben juga sih aku kerjakan sendiri itu cucian pakaian dalam, padahal biasanya minta tolong ibu untuk disiapin airnya nanti aku yang kerjakan. Karena beberapa hari mendekati HPL badan sudah seperti rangka tua. 

Malamnya, berarti minggu malam atau malam senin ya. Ngajakin mas keluar belanja bra menyusui lanjut cari makan di luar. Sudah makan di luar, sempat keliling hilangin penat sampai jam 10 malam. Sempat ketemu beberapa teman saat makan di luar, sudah ditegur kapan melahirkan, sampai ditegur sama penjual makanan tempat kami makan, "kayaknya anaknya cowok mbak". Lah, banyak banget yang negur nih perut kayaknya anaknya cowok. Padahal asli cewek yang keluar.

Senin malamnya, 22 Agustus 2016, seperti biasa, nunggu mas pulang kerja sambil mainan games di tab di kamar mamak. Jam 9 malam, mas pulang kerja tumben-tumben langsung tidur, gak minta makan dulu baru lanjut tidur. Lanjut lagi masuk kamar mamak lanjutin mainan. Bertahan sampai jam 09.30 malam, aku masuk kamar ikut mas tidur. Belum ada beberapa menit rebahan, rasa kok kayak kencang pake mulas seperti lagi diare campur nyeri halangan.  Masih cuek, tiba-tiba muncul lagi, sampe mendesis kesakitan. Ambil hp, aktifkan stopwatch. Ternyata mulasnya muncul per-5 menit sekali. 

Bangunkan mamak di kamarnya yang sudah ketiduran, mamak panik langsung nyuruh pakaian. Mamak bangunkan bapak. Aku masuk kamar untuk ganti pakaian, sudah beres, baru bangunkan si mas pelan-pelan. Agak kasihan baru pulang kerja, capek, ngantuk langsung buru-buru dibangunin. Cuma nyolek pelan, "yang, ayok ke rumah sakit. Mulasku gak enak". Mendadak dia langsung bangun. Pakaian seadanya, modal jaket, dompet dan HP lalu nyusul aku, mamak dan bapak ke rumah sakit pakai mobil, mas gak ikut di mobil bapak supaya kalau memang harus opname atau sudah waktunya lahiran, mas sempat pulang ke rumah mamak yang jarak rumah sakit tempatku bersalin dengan rumah mamak cukup 8 menit saja jika ada yang dibutuhkan untuk dibawa ke rs. 

PEMBUKAAN 2

Selama perjalanan menuju rumah sakit, mulasnya pun terus kambuh dengan jarak menit yang sangat dekat. Pikiranku masih jauh dari sudah saatnya melahirkan karena masih jalan 38 minggu. Jalan menuju ruang KIA pun sudah mulai tertatih saking nyerinya. 
Masih sanggup naik di ranjang, posisi miring kiri, tangan pegangan di besi lemari yang biasa dipakai nempatin makanan atau barang pasien. Jam dinding depan mata juga sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Nyerinya makin aktif, rutin datang. Coba praktekkan tarik napas yang baik dari kelas senam hamil kemarin, tidak begitu mempan karena akunya agak gak kuat nahan sakitan mulas keram seperti menstruasi. 

Bidan yang dinas malam saat itu, ada yang mengambil sampel darah, mengukur tekanan darahku sambil merekam detak jantung bayi dengan alat yang ditempelkan menggunakan sabuk yang tersambung dengan ranjang tempatku berbaring. Meringis kesakitan sambil coba atur napas supaya gak panik. Bidan lain datang minta aku mengangkang sambil tarik napas dalam-dalam, lalu memasukkan beberapa jarinya di bagian kemaluanku untuk mengetahui apakah ada pembukaan atau tidak. Ternyata sudah pembukaan dua yang bakal menuju ketiga. Jari bidan yang masuk mengecek jalan lahir bayi, memang agak sakit tapi harus ditahan dan bokong juga gak boleh naik, kaki harus lemas. Mamak bapakku pun diminta untuk menyiapkan perlengkapan bayi. Sayangnya mamak bapak harus kembali ke rumah karena belum membawa tas perlengkapan bayi yang sudah kami siapkan jikalau waktu lahiran sudah tiba. 

Pikiran sudah mantap bahwa bayiku bakal lahir besok pagi saat matahari terbit. Karena yang aku tau dari cerita teman-teman, kelahiran anak pertama biasanya akan memakan wkatu sekitar 12 jam untuk lahir normal. Bayangkan, pembukaan 2 aja sudah nyerinya luar biasa, apalagi harus menunggu sampai matahari terbit.


PEMBUKAAN 4

Hanya jeda beberapa menit, nyeri semakin kuat, semakin dekat rentang waktunya. Semakin kuat juga cengkeramanku di tangan mas. Sayangnya mas saat itu karena kecapekan dan gak sempat makan sepulang kerja, dia juga pucat, panik kalem sampai cuma bisa ngelus-ngelus kepala gak banyak bicara. Aku minta tolong mas keluar belikan aku teh kotak dingin atau air mineral dingin. Berakhirnya kelas senam hamil saat itu sempat dipesanin oleh bidan instruktur senam untuk menyediakan air minum atau minuman dingin yang manis yang bisa bantu isi tenaga. Sendirilah aku di ruangan saat itu menahan kesakitan, tiga bidan yang bertugas masih stay di ruangan sebelah sembari menunggu perkiraan pembukaan selanjutnya. 

Sudah jam 11 lewat lima menit, tiba-tiba terasa ada gumpalan air yang meletus di area vagina dengan deras tanpa bisa kutahan dengan kempitan, basah di bagian pinggul ke bawah. Sedikit meninggikan suara memanggil bidan-bidan untuk memberi tahu bahwa ketubanku sudah pecah. Satu bidan pun datang dan kembali memeriksa dalam dan memasukkan beberapa jarinya ke liang kemaluan untuk mengecek jalan lahir. Ternyata sudah pembukaan 4. 

Panik di isi kepala dan sakitnya pun lebih dekat rentang menitnya. Coba meraba ranjang bagian bawah, ternyata basahnya berupa air bening gak berbau. Oh ternyata seperti itu wujud air ketuban.


PEMBUKAAN 7

Dari pembukaan 4 menuju ke-7 memang nyerinya semakin sakit, sakit, dan sakit. Drama minta di caesar pun mulai keluar dari mulut. 3 bidan yang bertugas malam itu ikut memarahi karena cepat menyerah minta caesar. Sedangkan permohonan caesar tidak semudah itu. Harus ada alasan dan ketentuan dokter Obgyn baru bisa dilaksanakan. Sempat sedikit teriak meringis kesakitan, 

aku : "mbak, sakit mbak. sakit banget. Saaaakit mbaak. Saaakit."
Bid : "Memang seperti itu mbak elis, lahir normal itu yang dicari ya sakitnya. Karena lahir normal itu lebih sangat terasa perjuangannya. Istighfar, tarik napas yang baik ya seperti ajaran kelas senam hamil kemarin. Dokter Putu jam 3 baru datang observasi. Coba sini saya usap pinggulnya, enak mbak?"
aku : Mengangguk doang sambil tetep atur napas sesekali nyedot teh kotak dari mas. 

Bidan pun meminta mamak mengusap pinggulku supaya agak enakan. Mamak yang menemani aku di ruangan. Mas nyerah karena sudah lemas lihat keadaanku malam itu. 
Terus meringis sedikit teriak kesakitan, bidan pun datang lagi mengecek pembukaan. Ternyata pembukaannya sudah sampai di pembukaan 7. Saat itu jam kulihat sudah di pukul  12.40 dini hari. 

Mamak yang mendampingi cukup kaget dengan cepatnya pembukaan dalam waktu beberapa menit. Mamak terus nyemangatin pasti bisa lahir normal. Sudah pembukaan 7 sebentar lagi bakal lihat bayi. 

Nah di saat pembukaan 7 inilah tiba-tiba timbul perasaan ngejan dengan sendirinya. Padahal sudah nahan jangan ngejan dulu, tapi dorongannya tetap muncul dengan sendirinya. Sudahlah suara ngejan dari nafas perut seperti menggeram alami keluar. 3 bidan yang berjaga malam saat itu sudah menyiapkan perlengkapan dan peralatan untuk menyambut bayiku lahir. Semakin semangat dalam kesakitan. Sebentar lagi, sebentar lagi, sebentar lagi.


Pembukaan 10

Jelas pukul 1 kurang dini hari, perasaan ngejan pun semakin kuat sampai akhirnya bidan yang melihat kondisi jalan lahir bayi sudah memintaku untuk mengejan teratur. Badanpun sudah diminta turun setengah badan ranjang dan menaikkan kedua kaki di sanggahan kanan dan kiri. 

Bid : " Kemarin senam hamil kan mbak? Masih ingat gak gimana ngejannya? tangannya pegangan dimana?
Aku : tanpa jawaban lisan, langsung kuarahkan badan sedikit turun lagi hingga tangan bisa menggenggam di besi sanggahan kaki sambil terus mengatur napas.
Bid : "Wah masih inget, bagus mbak, bagus."

Dalam hati cukup terhibur, setidaknya aku gak sia-sia ikut kelas senam hamil kemarin. 
Tiga bidan yang sudah siaga depan kakiku mulai mengarahkan ngejan sambil terus atur napas. Semakin semangat, sakit kontraksi pun sudah tidak begitu terasa. Sesekali diminta istirahat beberapa menit sambil minum teh kotak seteguk, ngejan lagi. Sampai akhirnya bidan minta untuk mengejan dengan napas panjang. Kucengkeram erat besi sanggahan kaki, 

B : "Bagus ngejannya mbak. Pinter."
Aku : Tetap fokuslah, jangan sampai napas acakadut.
B : "Ayok mbak ngejan mbak ayok!
Aku : Ngejan dengan tarik napas seperti kepedesan sebelumnya sepanjang yang aku bisa (kalau pernah ikut kelas senam hamil pasti paham tarik napas pedes dan buang nafas seperti guguk)
B : Ayok mbak, lagi jangan berhenti. Tarik napas lagi dalam-dalam
Aku : Ngejan 2x berturut-turut sampai mau nyerah ...
B : Jangan berhenti mbak! teruskan! sudah mau keluar sedikit lagi ayok mbak!" Sembari bidan lainnya mendorong perutku dari atas supaya bantu bayi keluar.

01.10 Dini hari, Penuh haru, mendadak nangis gak bersuara begitu lihat bayiku diangkat sama bidan satunya dan dipindahkan ke tempat yang berjarak sehasta dari kepalaku untuk dibersihkan saluran mulutnya, hidungnya dan dibersihkan tanpa dimandikan. Haru banget, Nangis banget sambil natapin mamak yang setia banget dampingin aku sampai cucunya lahir. (Ini sambil mewek juga ngetiknya ngebayangin). Ari-ari bayi pun sudah ikut keluar. 


IMD & JAHITAN

Bayi sudah dibersihkan, Langsung ditelungkupkan di atas dadaku. Ada sekitar 2 jam IMD ku berjalan. Gak nyangka, bayi lahir selamat dengan proses spontan normal. Hanya 4 jam sejak kontraksi awal terasa hingga masuk di kelahiran KISAH. IMD ku pun dilaksanakan sembari merasakan nyeri dijahit sama si bidan. Apanya yang dijahit? ya itu, pintu lahirnya KISAH. Aku sempat lupa, aku pikir tadinya Tidak ada bius apapun, langsung dijahit. Ternyata ada, suntik di paha kiri, entah itu suntik bius atau bukan, pun mungkin kalau bukan atau tidak dibius, Alasannya apa, tapi pasti tidak mungkin dibius mungkin agar penyembuhannya cepat. Benang yang ditanamkan pun akan menjadi daging nantinya. 

Pukul 3 dini hari, KISAH sudah dibawa menuju kamar perawatan. Aku menyusul dengan kursi roda diantar oleh bidan yang menanganiku. Alhamdulillah banyak bersyukur, kesampaian untuk bisa merasakan persalinan normal. 


ASI

Sudah berbaring di kamar perawatan, bidan yang mengantarku menggunakan kursi roda tadi mengajarkanku cara menyusui yang baik untuk bayi. Eeeh si bayi, belum juga bidan jelasin, begitu didekatin ke puting, udah ngenyot cepet. Lucu banget. Pinter banget!

Enaknya lahiran normal, tidak perlu waktu banyak untuk stay di rumah sakit. Cukup 36 jam di kamar perawatan, sudah diizinkan pulang untuk bedrest di rumah. 

Dua malam ASI gak keluar, kolostrum pun tidak keluar. Sedikit stres karena ocehan mamak, dan mamak mertua yang selalu membandingkan jaman beliau-beliau dulu dengan sekarang. Aku sempat disalahkan karena gak rajion konsumsi sayur dan massage payudara makanya ASI belum keluar, padahal si KISAH semangat banget ngenyotnya. Curhat ke teman-teman yang sudah punya anak, alhamdulillah responnya menyemangati bangte. Harus sabar, jangan dibawa stres. 

Alhamdulillah hari ketiga sorenya, payudara kanan tiba-tiba ngucur saat berbaring miring. ASI pun tersedia, KISAH bisa nikmatin HAK-nya.



TERIMA KASIH RUMAH SAKIT PUPUK KALTIM

Banyak bersyukur bisa melahirkan dengan proses normal. Menunggu bekas jahitan sembuh, ASI pun selalu ngucur. Akupun mulai giat makan sayur supaya ASI terus berproduksi, setidaknya membantu BAB agar tidak keras, karena jika keras malah bakal bikin sakit bekas jahitan. 

Bersalin di RS. PKT bener-bener puas terlayani dengan baik. Selain aku dan adikku juga pernah lahir di rumah sakit ini, akhirnya akupun bisa melahirkan di rumah sakit ini. Pelayanannya bener-bener semakin baik kata mamak. Pasien juga disediakan kendi untuk menampung ari-ari. Bidan-bidan yang membantu pun sangat baik, ramah, dan cekatan.


Semangat buat BUMIL yang masih menunggu hari kelahiran bayi!




No comments:

Post a Comment