Saturday, April 9, 2016

Bekerja Tidak Bekerja

WANITA 
Lulus Kuliah, Berprofesi, Sudah Menikah, Sudah Memiliki Anak ...


Bismillahi.. 
Mari membahas tentang DUNIA yang tanpa sengaja sering mengadu domba sesama wanita saat ini. Beberapa hari yang lalu sempat melihat beberapa postingan mengenai keutamaan wanita sebagai seorang Ibu lulusan sarjana tetapi memilih untuk tidak bekerja demi mengurus anak-anaknya. Postingan tsb sangat persuatif bagi siapapun yang membaca. Saya pun yang membaca sedikit menalar dan agak sadar wah ada benarnya juga yaa, pasti seru kalau di rumah yaa mengurus rumah, suami dan anak-anak. 

TAPI, postingan dengan pernyataan tsb ternyata menimbulkan banyak pro dan kontra. Termasuk saya yang pro terhadap pandangan si pembuat dakwah tersebut, tapi saya pun termasuk yang kontra jika diminta untuk ikut berpartisipasi mengaplikasikan dakwah tsb. 

Maksudnya? Iya, saya pro terhadap pandangan setiap orang. Dosen semasa kuliah, Pak Rusydi Ahmad, salah satu pemegang almamater UGM Jogja pada jamannya, sekaligus Kaprodi, Pembimbing satu saya selama kuliah berhasil merasuki kami para mahasiswanya, salah satunya saya ini,  untuk meyakini diri sendiri mengenai setiap pendapat seseorang tidaklah ada yang salah. Kita menganggapnya salah karena terlalu memenangkan ego pikiran dan hati untuk menyatakan bahwa opini kitalah yang benar. Bukankah kapasitas berpikir setiap orang diciptakan berbeda? terbukti dengan jenis-jenis profesi yang dimiliki setiap individu di dunia ini. Mereka yang mahir merakit mesin, belum tentu mampu dalam beretorika. Mereka yang mahir berbahasa belum tentu mampu menghitung angka dengan segala rumus yang bejibun. Sebagian besar pertikaian bukankah karena kurangnya apresiasi terhadap pendapat dan keyakinan antar individu? Allah sangat hebat menakar setiap hati dan pikiran kita. Ada yang pro, ada yang kontra, sebenarnya kuncinya hanyalah terus belajar dan menghargai satu sama lain. 

Mengenai postingan yang termasuk dakwah positif tersebut, aku ada sedikit kumpulan pendapat dari aku sendiri dan orang-orang sekitar mengenai wanita yang telah lulus kuliah lalu bekerja dan akhirnya dipersunting jodohnya. Setelah dipersunting, ada yang terus bekerja sampai menghasilkan keturunan masih terus bekerja. Tetapi ada juga yang setelah lulus kuliah diberi rejeki sama Allah untuk dipersunting dengan status "fresh graduate" yang belum sempat mencari pekerjaan. 

Situasi yang ingin aku bahas adalah tentang proses lulus kuliah tepat waktu, dapat pekerjaan, dan akhirnya dipersunting lalu memiliki anak dan tetap bekerja atau berhenti bekerja. Kalau aku pasti akan memilih tetap bekerja. Bukan karena takut gaji suami tidak cukup atau gaya hidup yang hedon. Tapi karena selama kuliah pernah sambil bekerja di tempat bimbel, jadi sudah merasakan nikmatnya abnting tulang dan meuai hasil dari kerja keras sendiri. 

Orangtuaku termasuk dua pekerja. Bapak bekerja di perusahaan dekat rumah, Ibu seorang guru PAUD dengan segudang kegiatan di PKK. Alhamdulillah kehidupanku dengan adik sudah sangat terfasilitasi. Dengan terfasilitasi dengan baik dari orangtua, sedikit menggerakkan hati dan diri untuk melanjutkan pekerjaan ketika lulus kuliah kemarin.  

Isnpirasi terdekat kita pastilah orang tua. Aku belajar melihat kebahagiaan Ibuku dari pekerjaannya sebagai Pendidik PAUD dan Ibu di rumah. Sederhana, Ibu bisa pulang kampung tiap tahun berbekal uang hasil kerja kerasnya sendiri tanpa merepotkan Bapak. Beliau bisa membeli apapun yang menurutnya itu kebutuhan tersier yang tidak perlulah menarik atm tabungan bersama. Beliau bisa berbagi dengan banyaknya ponakan di tiap acara jika bertemu, bahkan Bapak pun gak pernah kudengar menanyakan berapa jumlah tabungan pribadi Ibu. Ibu juga bisa dengan leluasa meminjamkan uang kepada keluarganya yang membutuhkan tanpa harus meminta dari kerja keras Bapak. 

Sampai pernah suatu waktu keadaan rumah sedikit ada perselisihan kecil, ibu bisa pergi menenangnkan dirinya tanpa membawa apapun hasil kerja keras Bapak keluar rumah. Modalnya hanya uang hasil kerja keras Ibu sendiri sehingga tidak menambah permasalahan keuangan di rumah. Ibu sengaja tidak mengganggu tabungan rumah karena memiliki dua anak saja mungkin sudah bikinmumet karena kebutuhan tersiernya yang tidak biasa. 

Bapak tidak pernah individual ketika berkaitan dengan keuangan rumah. Semua diserahkan ke Ibu mengenai pengolahan keuangan. Sampai akhirnya, sebelum menikah pun orang tuaku selalu berpesan untuk tidak berhenti bekerja ketika sudah menikah nanti. 

"Sayang sudah kuliah mahal-mahal tapi tidak bekerja"
Pendapat yang umum dan mungkin bagi sebagian orang itu termasuk hal yang perhitungan. 
Seandainya ada kalimat yang lebih halus dan mudah diyakini dari kalimat di atas dengan makna yang sama, mungkin tidak ada yang mencela. Tapi sebagian besar orang tua pasti sudah mengharapkan anaknya sukses. Sukses menjadi ibu rumah tangga dengan membesarkan anak-anak yang cerdas dan disiplin, atau bekerja sambil tidak melupakan kewajiban utamanya sebagai ibu dari anak-anak di rumah. Bangganya orang tua itu diukur dari keberhasilannya beliau menyekolahkan dan mendidik karaktermu dengan baik. Cita-cita orang tua kan melihatmu panjang umur, sehat, berhasil menjadi orang yang berguna bagi siapapun. Mana ada sih orang tua yang tidak bangga sekalipun anaknya hanya bekerja dengan penghasilan sebatas UMK Kota. Intinya anaknya bekerja saja dulu, sudah bisa mandiri, berterima kasih dengan orang tua dengan cara yang berbeda. Orang tua tidak membutuhkan uang dari hasil kerja keras kita, mereka hanya ingin melihat anaknya bisa melebihi kapasitasnya sebagai seorang yang mandiri. Bohong kalau ada orang tua yang tidak kecewa dan sedih jika melihat anaknya sudah dikuliahkan tinggi-tinggi tapi begitu menikah akhirnya berhenti bekerja. Kecewanya mungkin tidak banyak, tapi kecewanya itu ada dan terasa. Bagaimana terasanya? Saat orang lain menanyakansi anak sudah bekerja di mana lalu org tua menjawab dengan perubahan wajah yang sedikit putus asa "Di rumah jagain anak-anak". Orang ttua manapun memimpikan si anak menjadi apa saja dalam berkarirnya. Pekerjaan yang kita capai sampai kita pertahankan saat sudah menikah sekalipun, kebanggaan dan kebahagiaan kedua orang tua tidak akan pernah habis. 

Bukan berarti kita bekerja, lalu pekerjaan rumah terabaikan, anak-anak juga jadi kurang perhatian. Banyak memang kasus yang seperti itu. Bukankah kita bekerja demi mencukupi masa depan anak-anak dan cita-cita bersama suami? Syukur kalo kita termasuk wanita bisa memberangkatkan orang tua umroh atau membiayai tiket pesawat orang tua berlibur. Kan ada rasa puas yang paling tinggi dan bersyukur sedalam-dalamnya akhirnya pelan bisa menyicil kelelahan orang tua banting tulang selama kita masih independen. Selama apapun hidup, kita sebagai anak memang tidak akan pernah bisa membalas penuh apa yang sudah orang tua berikan. Banyak lagi cerita mengenai wanita yang sudah menikah akhirnya mampu menabung sendiri tanpa campur tangan suami untuk membelikan rumah bagi kedua orang tuany. Gak bangga dengernya? Bangga lho bisa melihat ada wanita seperti itu, seberjuangnya memakmurkan kehidupan orang tuanya. 

Beberapa hal yang mengharukan memang biasa terjadi dari mereka yang berada pada kalangan menengah ke bawah. Tapi bagaimana dengan mereka yang termasuk dari keluarga kaya raya? Untuk apa orang tuaku kubelikan rumah? kan rumah sudah besar, lengkap, dan segala sesuatunya mampu dibeli kedua orang tuaku. Tolonglah untuk meluaskan pemikiran. Kan bisa tuh orang tua dibanggakan dengan kemandirianmu mencari pekerjaan sendiri, tidak lagi menegadahkan tangan di hadapan bapak ibu, menunjukkan dan meyakinkan diri bahwa aku bisa membeli apapun dan menabung hasil keringatku sendiri tanpa campur tangan kedua orang tuaku yang kaya raya itu.

Jujur, coba deh kita perhatikan perbedaan dari pergaulan ibu-ibu yang sudah menikah tapi masih bekerja dibandingkan mereka yang tidak bekerja sam sekali dan bergantung sepenuhnya dengan suami. Untuk era sekarang ini, sungguh terlihat mereka yang masih bekerja saat menikah, dan mereka yang menikah tetapi tidak bekerja. Sekali lagi, era sekarang sangat berbeda dengan era orang tua kita terdahulu. Jaman dulu, banyak ibu-ibu yang memang tidak bekerja karena hakikatnya ibu harus menjaga anak-anaknya saja di rumah. Merka tidak dipusingkan dengan mengupdatestatus "Waah bentar lagi gajiannya suami" atau "Terima kasih suamiku sudah dibelikan ini dan itu". Betapa jijiknya tiap aku melihat postingan semacam itu di era sekarang yang media sosialpun semakin banyak untuk dimiliki. ibu-ibu muda jaman sekarang yang tidak bekerja dan kurangnya perhatian suami, akan lebih agresif untuk mempertontonkan kemakmurannya dan bersaing tidak sehat sesama ibu-ibu yang juga tidak bekerja dan hanya bergantung pada penghasilan suami. Sedangkan mereka yang masih bekerja banyak yang tidak agresif untuk memamerkan hasil kerja kerasnya sendiri dan penghasilan suami. Mungkin media sosial memang ditugaskan untuk membebaskan mereka yang pamer, tapi kadar noraknya saja yang tidak terkontrol. 

Komentar dikit, nanti dikata iri. Gak komentar, tapi terlihat, rasanya ngedumel dalam hati, ih apa sih norak banget. Gile aje gak kerja, malah sibuk pamer ini itu di medsos. Oke, tidak bisa disalahakan karena itu hanyalah tameng bagi dirinya untuk orang lain yang mungkin pernah menjelekkan kondisinya di masa lampau sehingga ketika dia memiliki kekuatan, dia buka semua, dia tunjukkan semua yang dia punya, akhirnya menanglah dia dengan kadar pamernya yang lebih jatuh kepada norak. Nauzubillahi...

Menurutku bagi mereka yang bekerja tetapi masih bisa berprestasi lalu rutin memposting kegiatannya apa saja, kurasa itu bukanlah pamer. Itu termasuk inspirasi dan seharusnya itu tamparan keras bagi mereka yang tidak bekerja untuk sebaiknya belajarlah untuk tidak memaerkan harta, tapi pamerkanlah prestasimu untuk menjadi sumber inspirasi banyak wanita di luar sana yang sudah menikah tetapi masih bisa berprestasi. Sedikit rasanya orang-orang yang memiliki sifat rendah diri sekalipun dia tidak bekerja dan statusnya sudah menjadi istri. 

Aku juga termasuk yang kagum terhadap wanita yang setiapstingannya di medsos hanyalah berkaitan dengan keluarga dan pekerjaannya. Termasuk inspirasi bagi aku untuk bisa menjadi seperti kesuksesannya si orang tersebut. Kembali lagi kepada suami-suami yang juga harus rajin mengingatkan istrinya untuk tetap rendah diri, amanah, tidak suka mengumbar dan jadilah apa adanya. Malah lebih bagus lho kalau kita ini menyimpan banyak hal luar biasa tapi ada waktunya orang lain tau dengan sendirinya. Berhentilah meraih pujianhanya karena itu bukan kerja kerasmu sendiri. Banggalah ketika kitya tetap diam dan berkarya dan orang lain mengetahui prestasi kita dari orang lain juga. Apresiasi perlu memang, tapi apresiasi yang spesial dari jiwa-jiwa yang berbisik saat berkarya.

SEHAT TERUS KITA!!!


No comments:

Post a Comment