Saturday, February 6, 2016

Minggu ke Minggu

Selamat datang 8 minggu!

Setelah sempat ngeflek di  satu hari perjalanan minggu ke-7, besoknya langsung kembali lagi ke klinik an’am bareng abang. Ngefleknya gak begitu banyak, tapi cukup bikin khawatir karena semalamnya sempat keram seperti mau halangan. Pikirannya sudah yang aneh-aneh. Alhamdulillah, Fleknya hanya subuh itu saja. Paginya langsung ke Klinik an’am dengan kondisi sudah tidak flek.
Kembali baring depan layar USG, Alhamdulillah kantong janin dan janinnya masih ada. Hanya saja, kandungannya dinyatakan lemah sama si dokter. Malah sempat dicurigai kumpul semalam kok bisa sampe flek. Semenjak tau Rahim sudah ada penghuninya, sudah banyak saran dari beliau-beliau yang sudah berpengalaman untuk tidak kumpul dulu hingga empat bulan.

Selesai konsultasi, nebus obat. Harganya sudah lumayan meningkat dibanding vitamin dan obat anti mual yang ditebus saat 4 Januari kemarin. Obat yang diberi dokter ini adalah obat penguat kandungan. Dikonsumsinya sekali sehari sesudah makan. Semakin khawatir juga ini sama yang di perut kalau terlalu sering konsumsi obat-obatan. Jadilah iseng googling makanan-makanan yang bisa membantu menguatkan janin, selain dibantu dengan doa.

Ternyata makanan yang bisa membantu menguatkan kandungan hampir semuanya yang tidak suka saya konsumsi, bahkan jarang. Kecuali udang. Pilihan akhirnya saya tetapkan untuk rajin mengonsumsi telur kampung rebus, telur bebek, dan bubur kacang hijau, serta berbagai jenis ikan kecuali ikan yang katanya mengandung bisa semacam ikan sembelang. Kalau ikan memang dari kecil sudah dicekokin sama emak bapak. Yakan orang bugis, jadinya jarang makan ayam, ikan terus yang dikonsumsi.

Pulang dari konsultasi, mampir rumah mertua, Alhamdulillah Abah mertua baik hati langsung membungkuskan sekitar sepuluh telur ayam kampung yang juga hasil panennya setiap minggu dari ayam-ayam kampung peliharaannya. Dapat stok bubur kacang hijau dari mamak yang siap di kulkas. Semenjak masuk 7 minggu menuju 8 minggu ini, perut sudah mulai terasa terkocok, terasa mabuk, seperti numpang bis trans bontang-samarinda. Aih membayangkan saja sudah mau muntah. 

Alhamdulillah, ternyata kalau mau ngikutin malas makan karena perasaan mual, bakal tambah mual ternyata. Dan bersyukur belum ada muntah dalam beberapa hari ini.
Setiap pagi konsumsi telur ayam kampung rebus atau bubur kacang hijau, sekitar jam 9 pagi, mulai minum vitamin dari dokter. Siangnya setelah makan siang, baru konsumsi obat penguat kandungan. Sorenya dibanyakin ngemil setiap jam. Tidak dikenyangkan, tapi  dikunyah secara sadar saja cemilan-cemilan yang ada, yang penting mualnya tidak terasa lagi. Selai cemilan, 7-8 minggu ini bawaannya kepengen minum dan makan yang dingin-dingin sama yang berkuah semacam soto ayam atau bakso tahunya bakso stadion.

Sejak kecil sampai besar di rumah itu tidak terbiasa nampung es batu atau air es di kulkas kecuali kalau ada acara di rumah. Orang tua melarang mengonsumsi air es. Gak baik. Tapi untuk sekarang, es batu yang di tatakan freezer selalu terisi, sirup markisa juga tersedia, sampai dua wadah besar es walls dibelikan sama si abang buat penawar mual. Dan memang saat mualnya kambuh, nyendok sekali saja es krimnya, mualnya hilang. Entah sugesti atau apaan tapi berhasil daripada harus konsumsi obat anti mual. Buah pun selalu sedia di kulkas.

Ada lemon yang kadang saya campur di tiap air putih dingin, lemon juga manfaatnya banyak lho. Semenjak saya lepas dari segala cream Natasha dari akhir November kemarin, rajin konsumsi the campur lemon, jerawat Alhamdulillah belum pernah nongol sampai sekarang. Pun kalau ada, itupun yang kecil banget, dua hari pun bisa sembuh sendiri. Tapi semenjak tau hamil, sudah mengurangi mengonsumsi teh, karena caffeine-nya yang kurang baik.
Selain lemon, ada apel yang stikernya ‘widerways’ sering saya konsumsi kalau tengah malam atau pagi-pagi. Mangga yang manis dan kadang suka dapat yang kecut dalamnya, saya  konsumsi juga tiap pagi dari saya bangun hingga jam sepuluh pagi. Karena ketiga buah itu saat ini bener-bener penawar mual setiap hari.

Nah, karena biasanya saya mandi suka sekali sehari, biasalah bule. Kan bule jarang mandi dua kali sehari. *pembelaan diri*. Semenjak hamil, jadi suka mandi rutin dua kali sehari, rajin sikat gigi. Yang biasanya sikat gigi pas baru bangun saja dan mau tidur, ketika sadar sudah makan yang manis-manis, langsung sikat gigi. Dapat ilmu dari teman dan ibu-ibu, giginya seorang ibu hamil itu merupakan cadangan kalsium yang akan dihisap sama janin untuk kebutuhan kalsium pembentukan tulang dan giginya. Makanya sering ditemukan kasus ibu-ibu hamil mengalami sakit gigi yang berkelanjutan. Yang tadinya tidak ada bolong, tidak ada karang, tau-tau giginya bolong sendiri, terkikis tiba-tiba dan menyebabkan ngilu. Nah lho, itu yang bikin serem. Pernah sih melihat orang yang sakit gigi, diganggu saja mereka ngamuk. Alhamdulillah gigi lama tidak pernah bolong. Terakhir bolong itu saat SD, rajin konsul dokter, akhirnya gigi bersih tak ada bolong dan karang.

Apa pesan ibu-ibu yang dari sana dan sini, semuanya pasti baik. Jangan makan ini-itu, mandinya begini-begitu, tidurnya juga seperti ini-itu, yaa semua masuk telinga disimpan di memori. Karena biasanya apa yang beliau-beliau sudah rasakan pasti bener adanya walaupun salah satunya ada yang lewat. Istirahat dan kurangi mengangkat yang berat-berat juga salah satu contohnya. Tapi jangan juga sampai manja sama orang rumah. Kan kasihan kalau suami tiba-tiba pulang kerja, kitanya langsung minta tolong ini-itu. Laki-laki itu, menurut pengamatan saya terhadap bapak dan adik laki-laki saya, mereka tidak bisa segera saat dimintai tolong. Harus pelan-pelan dan terdikte. Lakukannya juga konsisten ke suami. Supaya paham dan terlatih lebih peka dengan perubahan sikap istrinya yang lagi hamil.

Ya saya ini, yang kaget dengan perubahan kondisi tubuh luar dan dalam. Jangka waktu sebulan setengah kehamilan masih masuk semua makanan, tidak ada keluhan. Begitu masuk tujuh-delapan minggu. Subhanallah, bener-bener seperti anak kecil yang tiba-tiba gak selera makan pakai nangis sesenggukan di depan suami yang lagi lezat banget santap masakan saya. Menangisnya karena rasa mual yang tak tertahan, muntah pun tidak bisa. Hanya mual. Seperti digantung, dimainkan sama dorongan mual. Padahal pikirnya, sudahlah sekali muntah saja daripada mual terus begini tiap dimasukkan makanan. Hampir tiap makan pasti selalu menangis depan suami saking tidak bisa makan. Akhirnya menemukan beberapa penawar yang sudah saya sebutkan di atas tadi, alhamdulilah makan pun lancar. Sampai si abang pernah langsung mau keluar mencarikan saya permen jahe. Keliling di warung tidak ada. Ternyata permen jahe ada tersedia di apotek kimia farma gunung sari dekat rumah. 
Dapatnya yang mereknya ‘golden ginger’ kaleng putih. Lumayan penawar di manapun saya berada, selalu ada di tas. Dikit mual ya pasti langsung ngulum permennya.

Sempat terpikir untuk kembali dulu sementara ke rumah orang tua saya, karena pikirnya beliaulah yang paham kondisi anaknya ini dari masih dalam kandungan hingga sebelum dilamar abang. Tapi karena sudah janji sama diri sendiri, jangan manja, harus ngelawan manja, harus ngelawan cengeng, jadi saya tetap di rumah berdua saja sama abang. Kalau saya stay kembali di rumah orang tua saya, terpikir lagi bagaimana makan pagi siang dan malamnya abang. Masa iya saya tega ninggalin abang masak sendirian racik sayuran sendiri, racik bumbu ikan sendiri, istri macam apalah saya ini kalau baru masuk dua bulan kehamilan saja sudah nyerah ke rumah orang tua, giliran saya dijamu enak-enak sama orang tua, suami harus melakukan apa-apa sendiri di rumah, ah tak tega saya bayanginnya.

Keputusan untuk sewa rumah dan tidak tinggal dengan orang tua kan keputusan bersama suami, ya berarti harus siap mandiri. Tinggal hanya berdua, ya saya harus bisa mengandalkan diri sendiri dan suami. Melatih diri dan suami untuk berkenalan dengan perubahan sikap yang suka tiba-tiba berayun, mengerjakan pekerjaan rumah bersama, mengenalkan suami dengan kondisi saya yang belum kembali kuat seperti dulu, yang selalu semangat jika masuk jam istirahat dan jam makan malam, sendiri pun bisa menyiapkan makan. Tapi sekarang sepertinya selalu akan butuh bantuan tangan suami dalam memasak dan menyiapkan makanan. Yang dalam satu hari urusan kuras bak mandi, sikat kloset, sikat lantai dan tembok kamar mandi, memasak dua menu sekaligus, ke pasar sendirian dengan gandolan belanjaan di kanan dan kiri, buangin sampah dengan posisi betis harus ngangkang di motor, menyapu kamar, ruang tengah hingga berberes pakaian bisa diselesaikan dalam satu hari, sekarang sudah harus sabar natapin semua pekerjaan rumah ngantri untuk dikerjakan dalam waktu tujuh hari.

Mamak saya saja selama membesarkan dua anaknya tidak pernah menyewa seorang pembantu dan pengasuh, padahal beliau juga kerja. Urusan rumah lancar saja tuh. Harus dicontoh! Saya termasuk yang selalu memikirkan kembali apa saja yang sudah mamak bapak saya kerjakan demi anak-anaknya sehingga bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Walaupun didikan beliau keras, sudah tidak pernah lagi saya sesalkan sekarang. Karena kondisinya saya juga akan memiliki amanah terbesar dalam hidup saya dan abang. Saya suka dengan cara didikan orang tua saya, saya cocok, saya berhasil karena didikan dan doa beliau, kenapa tidak saya teruskan didikan beliau untuk cucu mereka ini nantinya.


Apapun rencana, tetap Allah lah yang menentukannya. Hanya bisa terus berdoa dan berdoa serta menjalankan ibadah lainnya yang berdampak pengumpulan amal baik dan jariyah kita menuju surga nanti. Semoga selalu diberikan kesehatan bagi kita, orang tua, abang, dan Poyang junior di perut. Amin.

No comments:

Post a Comment