Friday, January 8, 2016

Belly Out, Almost

Minggu, 3 Januari 2016 aku awali pagi dengan berkeliling pasar rawa indah untuk mengisi kulkas yang masih wangi kardus. Jam 8 pagi sudah sampai di sana, tujuan pertama ya selalu berburu sayur sayuran dulu, giliran belanja ikan yang terakhir. Supaya gak kelamaan kelilingnya, kasihan ikannya ntar busuk kalo dibelanja duluan dibanding sayur sayuran.

Sekitar satu jam keliling, semua belanjaan sudah dapat. Masih ada satu lagi yang harus dicari. Cobekan sambal. Suami gak bisa makan kalau gak pake sambal. Langsung beli dua sekaligus yang kecil biar gak berat kalau dicuci dan diangkat. Untungnya semua belanjaan sudah kecantol di motor, kepala berasa keneng. Agak kunang-kunang. Gak biasa sarapan jadi mikirnya pengaruh maag. Sudah biasa seperti itu jika pagi belum nyarap. Sempat menunggu di atas motor sampai kepala sudah agak normal, tarik nafas dalam dalam, baca al-fatihah takut tiba-tiba pingsan di tengah pasar. Kebetulan ke pasarnya sendirian, karena si abang lagi shift pagi waktu itu. Sudah agak mendingan, baru nyalakan mesjn motor, pulang.

Sampai di rumah, tetap maksa buat merapikan belanjaan langsung di kulkas. Padahal niatnya pulang dari pasar, ikan harus langsung dieksekusi, supaya gak jadi PR dapur yang kelamaan nganggur. Akhirnya, dengan berat hati ikan langsung simpan di freezer dulu, kepala minta diboboin di kamar sebentar. Maksa juga buat sempatin ganti pakaian dengan sarung bali biar agak enak aliran darahnya, mikirnya begitu.

Hampir adzan zuhur, mata tiba-tiba melek. Nyadar udah kelamaan bedrest gara-gara hampir pingsan di pasar tadi. Langsung minum air putih banyak-banyak, pancing perut dengan sedikit roti. Sempatin solat zuhur, langsung masak. Biar masih sempat istirahat lagi sorenya sambil nunggu abang pulang kerja, tinggal makan aja ntar.

Malamnya, ijin sama abang kalau besok pagi mau ke klinik An'am, ngecek perut. Sudah telat 3 minggu 2 hari halangannya. Perut sedikit mencurigakan, tapi keyakinan saya tidak begitu besar untuk memvonis bahwa ini tanda-tanda hamil. Berat badan memang semakin naik sejak menikah. Terlebih saat awal desember, berat badan sudah 42,8kg dari yang dulunya sebelum menikah, 36-37 kg saja. Keyakinan hamilnya 50:50, karena saat sudah telat seminggu hingga dua minggu, aku sudah melakukan testpack di rumah dua kali dalam dua minggu, hasilnya masih negatif. Begitu telat 3 minggu, sudah kukuh gak mau testpack lagi. Trauma kalau negatif lagi hasilnya. Ke klinik an'am pun sudah sangat siap bila dinyatakan belum hamil dan akan diberikan saran atau obat yang bisa membuat jadwal halangan kembali teratur.

Besok paginya,
Senin, 4 januari 2016 pagi-pagi setelah solat subuh, sempatin tidur lagi, mata masih mengantuk. Jam 7 pagi bangun lagi langsung mandi setelah si abang mandi. Tidak ada pesan apa-apa dari abang sebelum ke klinik An'am. Berjalan seperti biasa saja. Karena memang firasat kehamilan kami belum begitu besar, apalagi aku ini yang tidak merasakan gejala-gejala hamil muda.

Jam setengah 9 pagi, sudah melakukan pendaftaran di klinik an'am, menunggu antrean, duduk di antara ibu-ibu yang sudah gendong bayinya, ada yang lagi hamil besar, ada nenek-nenek yang stia dampingin anak cucunya konsultasi rutin mingguan. Sekitar jam sepuluh, giliran aku masum di ruangan dokter. Namanya dokter Sara. Menurut kabar, beliau sering praktek juga di rumah sakit PKT. Ada perasaan aman jika dokter yang menangani masih ada riwayat kerja di rumah sakit PKT. Dokternya masih muda, gak pelit informasi, easy going, jadj suasananya santai banget, ditambah asisen yang murah senyum. Bikin gak tegang, walaupun tegangnya masih nginjak-nginjak bahu.

D : "Udah telat 3 minggu, udah testpack di rumah?"
E : gak berani dok, karena telat 2 minggu masih negatif
D : yuk kita USG dulu, kalau masih belum terlihat, tes urin lagi baru kita tes bawah juga ya
E : oia dok.

Bener, di USG pun belum terlihat. Sudah ditekan alatnya di perut tetap belum terlihat. Akhirnya diminta si dokter untuk tampung urin di wadah kecil lalu masuk lagi ke ruangan dokternya, aku beri ke asisten dokternya, asistennya meminta untuk kembali berbaring depan layar monitor USG, asisten dan si dokter minta aku melepas celana dalam. Dan untungnya, saya saat itu mengenakan rok jadi tidak semuanya harus saya lepas. Coba kalau pakai celana, ribet. Dua kali lepas pasti. Kalau pakai rok, lepas celana dalam pun paha dan betis masih sedikit tertutup.

Dokter sara dengan sangat santun dan sembari mengelus betisku meminta izin untuk memasukkan alat transvaginal melalui liang vagina. Asisten saat itu juga memegangi betis dan pahaku, kalau-kalau kesakitan. Alatnya kecil, seperti alat pemukul xylofon mainan anak-anak kecil, tapi sekali dimasukkan agak kaget, agak ngilu sesaat.

Tidak perlu menunggu waktu lama, hanya sekian detik alatnya sudah masuk,
Masya Allah kuasa Allah dari doa-doa yang kami kumpulkan selama empat bulan menikah, terlihat rahim sudah terisi oleh tiupan Allah dengan ukuran 0,59 cm. Tiba-tiba menangis terharu, sampai dokternya pun bilang ikut terharu juga. Melihat wajah dokter dan asisten yang tersenyum ke aku, jadi makin terharu, airmata menetes sampai diminta untuk mengenakan celana dalam kembali dan duduk di hadapan dokter sara dan asistennya. Masih dengan nafas yang sesenggukan karena bahagia sekaaaali. Sempat beberapa menit tidak bisa ngomong apa-apa, hanya dibalas senyuman sama dokter sara. Tarik nafas dalam-dalam, akhirnya baru bisa ngobrol sama si dokter. Untungnya pun selalu bawa tisu di tas. Tak terasa 4 ply tisu aku genggam, aku untel buat bendung airmata.

Keluar ruangan dengan nafas perlahan mereda sesenggukannya, nebus obat, tidak tunggu lama, langsung pulang. Terasa dark ekor mata, ibu-ibu yang masih menunggu antrean di luar ruangan dokter sara melihat ke arahku yang berjalan cepat ke arah apotek. Mungkin ada yang mengatakan bahwa ada kenapa-kenapa dari hasil konsultasiku, mungkin ada juga yang berpikir bahwa mungkin terharu sudah hamil karena raut wajah ketika mau pulang, terlihat di spion seperti menangis semalaman hahahaa. Padahal sudah terharu bahagia. Kutahan niatku untum langsung menghubungi ibuku dan ibu mertua. Kutahan juga niatku menghubungi si abang. Tunggu sampai di rumah baru akan kuhubungi.

Sesampainya di rumah, masih dengan mata sembap, kubuka kembali foto hasil transvaginalku, ku perhatikan juga testpack dari klinik yang sempat terlupa saat aku diminta berbaring untuk di transvaginal. Ternyata seandainya aku testpack di rumah, maka akan ketahuan duluan oleh si abang dan aku jika aku hamil minggu ini. Tetapi mungkin Allah gak pingin aku terlalu bahagia dengan lupa memanfaatkan ciptaanNya berupa seorang dokter yang memang paham mengenai hal ini. Mungkin Allah pengin aku terus meminta padaNya di tiap tiap sujud kami.

Foto hasil transvaginal yang belum berani aku share di Instagram dan facebook atau medsos lainnya seperti sebagian ibu hamil, masih terus kupandangi dalam haru bahagia. Masih seperti bermimpi, Janji Allah tidak pernah salah. Janji Allah mengenai hambaNya yang mau berusaha dan meminta selalu padaNya sudah saya buktikan dengan segala macam perintahNya insyaAllah. Dengan kekuatan hati menyembuhkan segala penyakit hati yang masih sering khilaf muncul, perlahan sudah tersembuhkan oleh Allah.

Foto transvaginal yang bergambar setitik janin yang dalam al-quran sudah sangat jelas dipaparkan dengan istilah berbahasa arab yang mohon maaf saya belum hafal. Terbukti. Dalam foto tsb masih belum bs membayangkan bahwa di perut ini sudah tertanam benih buah kasih sayang saya dan abang yang harus dijaga dirawat didoakan dan dipikirkan masa depan hidupnya dalam beragama. Terlihat baris keterangan di pojok kanan bawah, terdapat keterangan ukuran janin, usia janin, dan perkiraan kelahiran. Masih panjang perjalanan kami bertiga, insyaAllah selalu dilancarkan dan sehat selalu.

Sudah mengabari mamaku, alhamdulillah memang orang tua ku sudah menyimpan firasat yang baik mengenai telatnya halanganku. Sehari sebelum aku ke klinik an'am, bapak dan mamak sempat singgah ke rumahku waktu minggu sorenya untuk mengantarkan semika durian montong. Beliau mah tau anaknya ini doyan durian. Sayangnya hanya satu mika saja yang biasanya hanya terdiri dari gumpalan 3 biji duren montong. cuma dipesankan, jangan banyak-banyak. Hawanya panas di perut, takut sudah ada yang tinggal di dalam perutku. Jadi sampai saya sudah ke klinkm an'am belum berani buka. Takut khilaf sebenarnya. Maunya secuil, eh malah habis satu mika. Hahaha.

Namanya kabar baik, kabar bahagia, aku abadikan setengah foto hasil transvaginalku hanya dengan memfoto keterangan pojok kanan bawahnya saja lalu saya unggah di akun instagram saja. Sekitar tiga jam setelah diunggah, sudah ramai yang berkomentar baik dengan doa, ada yang memberikan loves. Sampai malamnya, aku hapus postingan instagramku itu. Agak takut jika terlalu heboh yang berkomentar. Pamali. Sadar salahnya terlambat ceritanya hehee. Setidaknya belajar menjaga hati orang lain yang sampai sekarang masih proses disiapkan sama Allah untuk bisa merasakan kehamilan. Ya, terlalu berbahagia juga tidak baik jika dipublikasikan. Diam-diam ternyata ada sesuatu luar biasa yang disimpan kan juga sangat baik, bisa bikin orang lain terkejut. Sensasinya beda. Hehee.

Bagaimana ekspresi abang begitu tau saya hamil? Hahaa abang mah orangnya teliti ya. Jadi sepulang dia shift pagi senin itu, dia belikan aku testpack lagi yang TP compact sensitif, yg tidak perlu menampung urin, jadi TP nya bisa langsung dipipisin ujungnya, dan hasilnya juga sangat cepat dibandingkan TP yg dari kertas. Akhirnya TP kembali pas selasa paginya, barulah si abang percaya. Hahaa..

Apa keluhan ketika belum sadar bahwa sudah hamil? Karena usia kandungan saat ke dokter sara itu sedang berjalan menuju 6 minggu, maka usia kandungan bisa disebut satu bulan setengah.

Terakhir saya berhalangan itu 11 november 2015,
Sekitar 2 minggu setelah telat, aku masuk pada masa subur.
Seminggu setelah masa subur hingga saat telat satu minggu, padahal sudah lewat masa subur, keputihan berupa seperti putih telur terus berlangsung selama beberapa minggu, padahal biasanya keputihan seperti putih telur itu biasa aku alami saat masa subur saja atau seminggu setelah halangan.

Sesadarnya telat dua minggu, keputihan kembali seperti biasa, berwarna putih susu dengan frekuensi agak macet hingga menuju ke telat 3 minggu sampai ketahuan aku positif hamil. Mungkin keputihan bisa dijadikan tolak ukur jika memang sudah telat halangan tidak seperti biasanya.

Apa yang aku rasakan ketika sudah tau bahwa kemana-mana sekarang sudah ada yang menemani di dalam perut, hehee. Yaa, telat minggu ke 2 dan ke 3, perut dan PD semakin kencang, bahkan kena air saat mandi saja sakit. Ukuran Bra juga semakin terlihat dan terasa maksa untuk menopang PD. Celana kerja semakin tidak muat, sampai harus membuat satu setel seragam lagi dengan ukuran  persiapan hamil besar insyaAllah selalu sehat sampai lahiran. Celana yang dulunya gak muat, alhamdulillah sekarang bisa dipakai, ngepas. Hehee.

Mengidam makanan kah?
Nah, jadi aku pernah dapat ilmu dari beberapa teman dan link dokter obgyn, sebenarnya mengidam makanan itu bukanlah sesuatu yg harus segera dituruti. Keinginan makan ini dan itu sebenarnya hanyalah perasaan dari si ibu hamil yang memang perlahan merasakan perubahan pada cita rasa mulut dan lidahnya seiring berkembangnya hormon dan suasana hati ibu hamil. Kurang lebih seperti itu sih yang kutanggap. Sebelum menikah pun aku sering tuh mengidam makan. Apalagi saat kuliah, duit ada terus kepengen makan prosperity lah, burger, PH, kebab, ah macam-macam. Sampe lupa makan nasi. Bahkan sudah kerja pun rasa jajan itu selalu ada. Malah ada tuh yang menyatakan bahwa keinginan ibu hamil untuk makan ini itu di waktu yg kurang tepat sehingga merepotkan suami dan keluarga lainnya, termasuk ibu hamil yang selalu ingin diperhatikan. Ada kan kejadian si ibu hamil tengah malam kepengen makan martabak misalkan, ya kalau toko sudah tutup, gimana. Eh begitu misalkan sudah dapat penjual martabaknya, si ibu hamil cuma makan segigit saja. Nah lho.

Sebisa mungkin aku tidak melatih diri seperti itu. Karena yang seperti itu kan hanya sugesti dari diri sendiri, menurutku. Alhamdulillah suami dan orang tua serta mertua sudah paham dengan jurus manja ibu2 hamil kebanyakan. Kurang perhatian pun alhamdulillah tidak saya rasakan. Malah perhatian orang tua dan suami sangat cukup dan berlebih. Jangan mau dimanja bangetlah, terbiasa malas nantinya. Aku juga sekarang masig melatih diri untuk melawan malas. Lihat cucian piring numpuk, langsung kerjakan, lihat pakaian numpuk, langsung lipat, langsung setrika. Gak kepengen anakku juga ikut malas nantinya. Hehee

Sehat terus anakku!!! 💗💗💗💗💗💗💗

No comments:

Post a Comment