Saturday, September 12, 2015

Mapacci Night 9815

Bersama adik-adik Bapak dan sepupu

Upacara adat mappacci dilaksanakan pada waktu tudampenni, menjelang acara akad nikah/ijab kabul keesokan harinya. Upacara mappacci adalah salah satu upacara adat Bugis yang dalam pelaksanaannya menggunakan daun pacar (Lawsania alba), atau Pacci. Sebelum kegiatan ini dilaksanakan biasanya dilakukan dulu dengan mappanré temme (khatam Al-Quran) dan barazanji. Daun pacci ini dikaitkan dengan kata paccing yang maknanya adalah kebersihan dan kesucian. Dengan demikian pelaksanaan mappacci mengandung makna akan kebersihan raga dan kesucian jiwa
http://www.caraterbaru.web.id/2014/03/tata-cara-mappacci-dan-makna-alat-yang.html

-- mappanrĂ© temme (khatam Al-Quran) dan barazanji --

Dalam acara mappanre temme ini dilakukan pada malam hari setelah adzan maghrib. Awalnya tidak ada rencana untuk mapacci karena saya sendiri masih belum paham tentang makna mapacci dan menganggap tidak penting karena agama tidak mengajarkan hal-hal seperti itu. Penginnya dengan acara pengajian seperti kebanyakan orang, tapi untuk menghargai budaya adat bugis dari kedua orang tua maka dilaksanakanlah rangkaian awal semalam sebelum menuju akad nikah ini. 

Di depan saya dan si Maya (adik) ini adalah seorang guru mengaji dan bapak-bapak penghapal ayat-ayat suci al-quran yang memang sudah sangat sering dipanggil jika ada yang ingin melakukan adat mappanre temme'. Kenapa saya bersebelahan dengan si Maya? karena si Maya juga mau ditamatkan mengajinya. Jadi kelak Maya menikah tidak perlu lagi diadakan mappanre temme', tapi langsung melaksanakan adat Mapacci. Maya malam panretemme tidak menggunakan baju adat bodo juga karena dia yang gak mau. Ribet. Untungnya dari kedua orang tua tidak memaksakan. Sebenarnya kalau megikuti dari jaman dulu dulu memang yang mau ikut panretemme harus menggunakan baju adat juga.

Mappanre temme ini juga pakai prosesi pemercikan beras setiap akhir dari satu surat alquran. Nenek atau tante dari mamak saya yang bertugas memercikkan butir beras kepada saya dan Maya. Pertama kali dipercikkan itu saya aja sempat noleh ke nenek saya reflek dengan tatapan mau marah kok dilemparin beras, kan sakit kena muka nek! Hahahaa.. ternyata itu prosesinya hahaa..


Bapak-bapak penghapal ayat-ayat suci alquran 
yang berjumlah sekitar sepuluh orang

Bapak-bapak ini tiba-tiba muncul setelah acara Barazanji atau Panretemme' selesai. Saya aja sempet kaget kok tiba-tiba ramai datang duduk depan saya. Beliau-beliau ini bertugas membacakan ayat-ayat suci alquran mengiringi prosesi mapacci yang sangat mengharukan. Setelah beliau-beliau selesai membacakan ayat-ayat suci alquran, tibalah para sesepuh memberikan pacci pada kedua telapak tangan saya dengan aba-aba bapak-bapak di foto ini berdiri sambil menyerukan solawat mengiringi sesepuh memberikan pacci.
Bukan main harunya saya ketika mulai pemberian pacci. Rasanya itu kayak mau menangis sesenggukan sampai gak bisa napas. 

Untuk pemberian pacci, dilakukan oleh orang-orang yang merupakan saudara kandung dari kedua orang tua dan kerabat yang memang sudah ditunjuk oleh kedua orang tua saya. Kerabat yang ditunjuk bisajuga  tetangga atau sahabat dari kedua orang tua yang dikenal memiliki ikatan keluarga yang kuat, langgeng, berbudi baik dan diharapkan agar sikap sikap baiknya bisa menular ke saya. Menurut Mamak saya begitu hehee. Untuk jumlahnya tidak ada ketentuan dari kedua orang tua, saya juga lupa ada berapa orang. Tapi alhamdulillah bersyukur acara mapacci, orang tua dan saudara kandung bapak dan mamak semua hadir. Bersyukur juga make-up dari Kak Santy bener-bener water proof. Nangispun gak luntur make-up nih, bulu mata aja yang agak mau lepas gara-gara kena unsur kimianya air mata (awwah!)

Siap untuk menangis sedu sedan
Sesuai adat, ada rangkaian daun nangka, dilapis daun pisang, dan sarung dengan lipatan yang sesuai bertumpuk tujuh lapis.


MAMAK feat BAPAK
Prosesi Mapacci, Pembacaan ayat suci al-quran

Terdapat beberapa bosara' yang merupakan simbol atau kewajiban dalam proses mapacci hingga akad nikah. Isinya pun sudah ditentukan. Katanya harus kue-kue yang sifatnya lengket dan manis. Biar kehidupan rumah tangganya awet lengket dan selalu membawa sukacita. Amin.

Alhamdulillah akhirnya bosara' yang dibeli mamak terpakai juga sama acara anaknya sendiri. Dari pertama beli yang pakai duluan ya kalau enggak tetangga ya sepupu-sepupu yang nikahan. 

Pecah nangis kakak dek :'(

Makin pecah nangis kakak dek :'(
Latar hias yang saya gunakan waktu itu bukan seperti latar bugis dengan corak bling-bling burung merak dan tidak menggunakan rangkai bambu. Orang tua juga tidak ingin membuat ribet dan tidak ada kewajiban dalam membuat rangkai bambu, maka jadilah latar shabby chic yang lagi mainstream saat ini hehee...

Mau tau rasanya pakai baju adat bodo?
Bener-bener baju adat itu dirancang untuk menunjukkan sisi keanggunan wanita dan pria. Pakai baju ini selama tiga jam dengan banyak printilan, YA ALLAH rasanya mau langsung buka saat itu juga. Gak betah. Bukan masalah panasnya, beratnya itu lho yang gak nguatin.

Mulai dari atas nih, sanggul dalam jilbab saya berat, saloko (bando hias) juga berat banget, kalung, gelang dan giwang yang mohon maaf saya gak tau apa namanya itu berat semuaaaaaa! Pemilihan warna baju bodo hijau juga berdasarkan pilihan kedua orang tua. Katanya jaman-jaman dulu, putri bangsawan kalau ada acara-acara ya menggunakan baju bodo hijau, tidak warna lain. Acieee putri bangsawan, iya bangsawan paggarusu (Riweuh, perusuh) Hahaa..

Yang pasti, acara mapacci malam itu bener-bener berkesan. Dalam waktu satu malam ketika mencium tangan kedua orang tua sudah bisa membayangkan rasanya seorang Bapak harus menanggalkan sebagian besar tanggung jawabnya untuk calon suami dan tidak lagi sepenuhnya membiayai hidup kita. Oia, acara mapacci saya dipisah dengan lelaki walaupun dilakukan secara bersamaan hanya beda tempat. Memang dipisah dari adatnya karena masing-masing memiliki makna dan aturan tersendiri dalam adat. Tidak boleh bertemu dulu hingga Ijab qabul keesokan paginya. 

Biasanya semalam sebelum acara akad keesokan paginya, setelah prosesi mapacci, akan ada acara Maddomeng atau bermain adu domino yang dilakukan oleh bapak-bapak serta bujang-bujang tetangga, sepupu ataupun kerabat lainnya. Hanya saja orang tua saya tidak setuju mengenai kegiatan tersebut karena sangat dekat dengan praktik perjudian. Ada baiknya ya beristirahat untuk persiapan keesokan paginya. 

Apakah sudah selesai? BELUM.
Ada satu hal yang tidak pernah ketinggalan setelah prosesi mapacci.
Daun nangka yang sebagai pelapis mapacci tadi, diambil oleh salah satu keluarga untuk dipukulkan ke sepupu-sepupu yang belum menikah, harapannya agar cepat menikah.
Amiinnn...










MAKNA, SIMBOLIS TAFAUL ATAU SENNU’ SENNUANG YANG TERKANDUNG DALAM PERLENGKAPAN ATAU PERANGKAT YANG ADA :

1.    Bantal (Angkangulung)

  • Bantal terbuat dari kapas dan kapuk, suatu perlambang “kemakmuran” dalam bahasa bugis disebut “Asalewangeng”.
  • Bantal sebagai pengalas kepala, dimana kepala adalah bagian paling mulia bagi manusia. Dengan demikian bantal melambangkan kehormatan, kemuliaan atau martabat. Dalam bahasa bugis disebut “Alebbireng”. Dengan demikian diharapkan calon mempelai senantiasa menjaga harkat dan martabatnya dan saling hormat menghormati. Dalam bahasa bugis “Nalitutui alebbirenna nennia maccai mappakaraja/ mappakkalebbi
2.    Sarung 7 lembar (Lipa’ pitullampa)
  • Sarung sebagai penutup tubuh. Tentunya kita akan merasa malu apabila tubuh kita tidak tertutup / telanjang. Dalam bahasa bugis disebut “Mabbelang / mallosu-losu”. Dengan demikian diartikan sebagai harga diri (merasa malu). Dalam bahasa bugis disebut “Masiri / malongko” sehingga diharapkan agar calon mempelai senantiasa menjaga harga dirinya. Dalam bahasa bugis “Sini nalitutuwi sirina”.
  • Membuat sarung (mattennung) memerlukan keterampilan, ketelatenan, dan ketekunan, untuk mendapatkan hasil tenunan yang rapi dan halus. Konon, bila seorang pria akan mencari / memilih calon istri, takperlu melihat sang gadis tersebut, tapi cukup melihat hasil tenunannya, rapi/ halus tidaknya tenunan tersebut, cukup menentukan jatuhnya pilihan.
  • Sedang sebanyak 7 lembar tersebut, dalam bahasa bugis kata tujuh erat kaitannya dengan kata patuju / tujui yang artinya benar, berguna, atau manfaat. Sehingga diharapkan agar calon mempelai senantiasa berbuat, melakukan atau mengerjakan sesuatu yang benar, berguna atau bermanfaat. Selalu benar, sini-tujui. Adapun bilangan 7, yang dalam bahasa bugis dikatakan “Pitu”, bermakna akan jumlah atau banyaknya hari yang ada. Dimana tanggung jawab dan kewajiban timbale balik antara suami dan istri harus dipenuhi setiap harinya.

3.    Pucuk daun pisang (colli’ daung utti)

Kita mengetahui, bahwa daun pisang yang tua, belum kering, sudah muncul pula daun mudanya untuk meneruskan kehidupannya dalam bahasa bugis disebut “Maccoli-maddaung”. Melambangkan kehidupan sambung menyambung (berkesinambungan). Artinya jangan berhenti berupaya, berusaha keras demi mendapatkan hasil yang diharapkan. Sebagaimana kehidupan pisang, nanti berhenti berpucuk setelah sudah berubah. Dalam falsafah bugis, mengatakan “Resopa natemmangingngi”. Malomo nalompengi, Pammase Dewata.

4.    Daun Nangka (Daun Panasa)

  • Kata “Panasa” mirip dengan kata “Menasa” yang berarti “Cita-cita lhur” pelambang doa dan harapan mulia. Dalam bahasa Bugis disebut “Mammenasa ri Decengnge’ artinya senantiasa bercita-cita akan kebaijan atau kebajikan.
  • Sedang “Bunganya Nangka” disebut ‘Lempu” dikaitakan dengan kata “Lempuu”(dalam bahasa Bugis)  yang artinya kejujuran dan dipercaya. Sebagaimana salah satu ungkapan atau syair Bugis, yakni : DUAMI RIALA SAPPO, UNGANNA PANASAE, BELO KANUKUE artinya hanya ada dua yang menjadi perisai hidup dalam kehidupan dunia yang fana ini, yaitu UNGANNA PANASAE (Lempu) yakni kejujuran,dan  BELO KANUAKUE (Paccing) yang artinya kebersihan atau kesucian. Dengan demikian diharapkan kiranya calon mempelai memiliki kejujuran dan kebersihan atau kesucian.. Apabila Sarung tujuh lembar, maka daun Nangka sebanya Sembilan lembar. Adapun arti sembilan lembar yaitu semangat hidup atau kemenangan. Dalam bahasa Bugis disebut TEPUI, PENNOI ATAU MAGGENDINGNGI. Dalam arti kata rejekinya melimpah ruah atau TASSERA-SERAI DALLE’ HALLALA’NA

5.    JAGUNG MELATI/BERAS MELATI/BERTI (WNNO ATAU BENNO)

Yaitu jagung / beras yang digoreng/disangrai hingga mekar berkembang dengan baik. Dalam bahasa Bugis disebut PENNO RIALE artinya mekar dengan sendirinya. Sehingga diharapkan agar calon mempelai dapat mandiri dalam membina rumah tangga.

6.    LILIN / (TAIBANI/PATTI)

Taibani atau Patti berasal dari lebah yang dijadikan lilin sebagi suluh atau pelita yang dapat menerangi kegelapan yang berarti panutan atau teladan. Sehingga diharapkan calon mempelai dapat menjadi penerang, penuntun, suriteladan dalam kehidupan bermasyarakat. LEBAH yaitu senantiasa hidup rukun, tenteram, damai, rajin dan tidak saling mengganggu satu sama lain. Selain daripada itu lebah menghasilkan suatu obat yang sangat berguna bagi manusia yaitu “Madu” dalam bahasa Bugis disebut “CANI’ yang dikaitkan dengan kata ‘Cenning” yang artinya manis. Sehingga diharapkan agar calon mempelai senantiasa memiliki hati yang manis, sifat,prilaku dan tutur kata yang manis untuk menjalin kebersamaan dan keharmonisan.

7.TEMPAT PACCI / Wadah yang terbuat dari Logam (CAPPARU’ BEKKENG)

Antara CAPPARU’ dan PACCI melambangkan dua insane yang menyatu dalam suatu ikatan atau jalinan yang kukuh. Semoga pasangan suami isteri tetap menyatu, bersama mereguk nikmatnya cinta dan kasih saying yang sudah dijalin oleh dua rumpun keluarga.


http://telukbone.blogspot.com/2014/09/uraian-tradisi-mappacci-pada-pernikahan.html


Alhamdulillah.. 
apapun adatnya, tetap TUHAN lah di atas segala-galanya.
Mintalah ke Tuhan, serahkanlah kpd Tuhan 





No comments:

Post a Comment