Friday, March 20, 2015

Gemerlap Kota

... Menuntut Ilmu di Kota Besar ...

Lahir dan besar di kota kecil yang minim fasilitas hiburan, tidak langsung membuat kita sering haus hiburan. Tapi, itu semua bisa berubah 180 derajat ketika kita sudah pernah sesekali mengunjungi kota-kota besar bahkan ibukota untuk sekedar berjalan-jalan atau hanya lewat saja untuk mencapai bandara kelas internasional untuk mengantar jemput keluarga yang ingin bepergian. Perasaan ingin berdiam di kota besar membuat rasa penasaran semakin tinggi untuk menghabiskan malam penuh gemerlap lampu di sepanjang jalan, mencoba memasuki satu mall ke mall lainnya sekedar mencuci mata atau membeli sebungkus es krim. 


Rasa penasaran yang hanya sesekali melewati kota besar akhirnya terbayar telak ketika berhasil masuk di universitas kota besar. Sudah tergambar jelas, kegiatan kita sudah tidak lagi melulu bangun tidur, kampus, makan, perpustakaan, dan berakhir di kos. Akan ada banyak kegiatan dan tantangan yang harus dihadapi sendiri tanpa campur tangan orang tua.


1. Tempat tinggal yang aman, orang tua aman.
Pertama kali menginjakkan kaki di kota besar, ada beberapa orang tua yang mempercayakan anak-anaknya tinggal dengan keluarga yang masih satu kota dengan kita, ada yang langsung menemukan kos, bahkan sampai membelikan anaknya rumah di sana dengan alasan biar lebih nyaman kalau orang tua datang mengunjungi kita sesekali, jadi tidak lagi nginap di hotel.

Tapi, kos pertama yang kita kunjungi bersama orang tua hanya akan bertahan untuk ditinggali selama beberapa bulan saja. Why?! Karena terkadang pilihan orang tua tidak sesuai dengan selera kita. Maka berjelajahlah untuk mencari kos bahkan kontrakan yang bisa didiami bersama beberapa teman dalam satu rumah kontrakan, alasannya? Ya karena kos pilihan orang tua sepi, jam malamnya cuma sampai jam 10, tidak punya teman, alasan jauh dari kampus atau jauh dari mall, bahkan ada yang alasan biar bisa ketemu terus sama si pacar jadi cari kos yang tidak ada batasan laki-laki dilarang masuk, bukan maaaiinn. hahaa...


2. Duit terjatah, jajan terjajah
Sekali lagi, orang tua selalu memberikan lebih dari cukup sesuai dengan kebutuhan kita. Duit jajan sering kali dirasa tidak cukup bagi sebagian besar mahasiswa yang hidup di kota besar. Padahal sebulan ada yang dijatah sangat banyak tapi masih saja belum cukup. Bahkan duit jajan bisa habis belum sampai sebulan, di situ kadang muncul pertanyaan,

"Loh, duitnya dipakai buat apa? kok habisnya cepet banget nak?"

 Ada saja kadang jawaban "hantu" untuk diucapkan. Mulai dari ...

a. Dosen rekomendasiin beli buku anu sama anu Maa, wajib lagi maa
(Padahal buku yang mau dibeli cuma difotokopi jadi sisanya pakai beli sepatu incaran)

b. Printer rusak maa kemarin sampai harus ganti cartridge 
(Padahal buat pakai beli baju incaran)

c. Tekor maa, bolak-balik kampus ke kos, bensin cepet banget habisnya
(Padahal buat pakai mainan game online, bayaran wifi kosan bengkak)

d. Duitnya kemarin ada temen yang pinjam belum dibalikin sampai sekarang
(Padahal dia aja yang bandel gak bisa nolak ajakan teman yang maunya makan di tempat-tempat kelas cafe dan resto)

Banyak lagi alasan lainnya yang bisa dikamuskan.


3. Duit seret, tengok warung. Tanggal muda, hambur mall
SMS Banking masuk, secepat kilat belanja apa yang harus dibeli. Satu demi satu mall pun didatangi untuk mencapai satu incaran dari bulan-bulan lalu. Makannya? ya sekalian di mall dong, kan capek kalau singgah lagi ke warung deket kos. Bahkan belanja bulanan kebutuhan kos pun harus di mall. Duuh duh wanita banyak yang begini nih.

Bukan hanya kebutuhan lain yang dibeli, film-film yang baru keluar pun akan menjadi incaran mereka yang tidak mau ketinggalan gaul.

Begitu pulang ke kos, lihat struk belanja. Ada aja yang disesalin kenapa beli itu beli ini padahal belum begitu penting. Nasi sudah jadi rengginang, tak ada yang harus disesali. Hari demi hari, duit jajan pun menipis. Sampai akhirnya memutuskan untuk berpuasa senin kamis. Alasannya kalau ditanya teman kampus, "Lunasin hutan puasa broh". Padahal lagi ringan aja tuh dompetnya. Ciyee gengsi hahaa...


4. Malam bagai pagi

Kalau di rumah pulang jalannya sekitar jam 10-an. Nah jauh dari orang tua bakal sebebas-bebasnya pulang mau jam berapa saja tidak akan ada yang tegur. Awal jadi anak kos, makannya rutin bawa bungkusan ke kos makan sendiri dan jam keluar mencari makan konsisten tidak terlalu malam. Begitu sudah lama, yang tadinya cari makan malam sekitar habis maghrib, akan berubah menjadi jam 10 hingga 11 malam rame-rame dengan beberapa teman. Bahkan yang kosnya punya jam malam, akan terbiasa lompat pagar macam rampok hahaaa...

Kebiasaan pulang tengah malam sudah pasti akan terus terbawa jika sudah kembali ke kota asal kita. Orang tua yang memaklumi akan membiarkan sembari terus mengingatkan. Tapi, tidak jarang ada saja keluarga lain atau tetangga yang masih berpikiran kurang terbuka, apalagi kalau anak gadis kerjaannya pulang tengah malam, bakal jadi omongan orang sekitar rumah.

5. Pengalaman baru, teman-teman baru.
Banyak dari mereka yang berkuliah di kota besar akan memiliki perubahan secara telak bila lama berdiam di kota tersebut. Awalnya anak rumahan, maka akan kita jumpai mereka posting foto di medsos dengan latar Pub atau Diskotik. Awalnya rutin ibadah setiap Jumat dan akhir pekan, maka akan kita jumpai jendela kos mereka masih tertutup rapat, bahkan warnet game online pun penuh. Awalnya kemana-mana selalu sama teman-teman yang berasal dari satu sekolah, maka akan kita jumpai mereka lebih memilih bergaul dengan teman-teman asli dari daerah tersebut. Awalnya berjilbab, maka akan kita jumpai mereka yang menanggalkan jilbabnya kemana-mana tetapi begitu pulang sehari dua hari ke kota asal mereka, malah pakai jilbab lagi. Awalnya selalu memakai pakaian normal setiap keluar, maka akan kita jumpai mereka hanya memakai baju tanpa lengan dan jeans sangaaaat pendek kemana-mana. Awalnya jalan dengan teman-teman kuliah tiap malam, maka akan kita jumpai mereka yang dijemput dengan entah "bapak" atau "om"  yang menjemput mereka di kos menggunakan mobil kece. Awalnya rajin solat, maka akan kita temui mereka yang sudah necis bepergian di adzan maghrib dan ashar.


6. Persaingan tidak sehat
Semakin banyak teman, semakin banyak permasalahan yang akan muncul. Mulai dari pakaian brand apa yang dikenakan teman, maka biasanya kita juga ingin yang sama atau yang lebih dari sebelumnya. Apa yang teman miliki, maka harus dimiliki juga dengan cara apapun. Terlebih bagi mereka yang tidak pernah punya hambatan apapun untuk minta duit jajan lebih dari orang tua. Lah, bagi yang sadar akan sulitnya orang tua mencari nafkah untuk duit jajannya, akan berpikir dua kali untuk tidak tergiur dengan segala sesuatu yang berlebihan, akan menurunkan gengsi dan berusaha bergaul dengan mereka yang biasa-biasa saja. Tidak perlu menjadi primadona untuk eksis di kampus, cukup dengan lulus tepat waktu dan menghasilkan prestasi cemerlang demi kebanggaan orang tua dan almamater, sudah bisa membuatmu menjadi primadona pujaan di kampus. 


7. Penantian Orang tua
Tiada lagi yang ditunggu orang tua selain masa wisuda anak-anaknya. Lebih baik lagi bila lulus tepat waktu agar bisa lebih lancar saat mencari pekerjaan dengan umur yang menjadi prioritas di beberapa perusahaan. Tetapi, mau kita lulus empat tahun, lima tahun bahkan sampai hampir kena DO dan akhirnya di wisuda, orang tua sudah bangga. Sudah bersyukur karena tidak lagi mengkhawatirkan diri kita di perantauan. Sudah bisa fokus berpikir lagi untuk masa depan adik-adik kita. Kita dikuliahkan karena mereka ingin masa depan kita lebih baik dari beliau. Semakin lama untuk menuntaskan kuliah, maka orang tua juga bisa jadi beban hati dan pikiran. Mulai dari pertanyaan nyinyir keluarga atau tetangga2 sampai pikiran untuk pembagian tabungan untuk adik-adik kita kelak. Semakin lama berkuliah, sudah pasti semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan orang tua. Sekalipun berasal dari keluarga yang sangat sangat sangat mampu, bukan berarti seenaknya minta hak ini itu tetapi kewajiban tidak terlaksana dengan baik. Sedih hati orang tua jika tidak lulus tepat waktu. Terlihat sangat berbeda ketika ekspresi orangtua melihat kita lulus tepat waktu dan ekspresi orang tua yang melihat kita tidak lulus tepat waktu.



Teruslah berkarya selagi orang tua masih kuat mendukung apa yang kita lakukan. Tetap bersabar ketika banyak masalah di perantauan yang seharusnya kita berbagi dengan kedua orang tua, tetapi demi niat menjadi diri yang lebih mandiri maka akan selalu siap menghadapinya sendiri. Teruslah mendoakan kesehatan kedua orang tua, dan kalau pulang ke kota asal jangan lupa selalu membelikan apa yang disukai oleh beliau dan adik-adik kita.





No comments:

Post a Comment