Tuesday, March 31, 2015

Bersabarlah Untuk Menikah

Caraku Berterima Kasih 
kepada Kedua Orang Tua


Tak sedikit dan tak banyak yang kupikirkan tentang indahnya pernikahan setelah Rektor memindahkan tali togaku ke sisi kanan. Walaupun sedikit ada harapan besar mengenai bayangan seperti itu.

September 2013 - Januari 2015 bekerja di GO, Alhamdulillah mendapatkan banyak pengalaman mengenai manajemen pendidikan, sistem administrasi pendidikan, penanganan murid-murid yang bermasalah hingga penghitungan honorer pegawai membuat lebih yakin mengenai profesi yang saat ini kukerjakan. 

Setahun lebih bekerja di GO, tugas kedua adalah menabung, menabung, dan menabung. Sudah tersisihkan dengan baik uang untuk jajan dan uang untuk kebutuhan lainnya. Setiap kali gajian, alhamdulillah bisa membeli beberapa cokelat dan es krim kesukaan Bapak, bisa mengajak orang tua keluar sekedar jajan bakso atau lalapan dengan uang sendiri, memberikan hak jajan ke adik satu-satunya di tiap bulan, itu sudah termasuk cara saya berterima kasih kepada kedua orang tua yang entah bagaimana caranya beliau mendoakanku sehingga bisa sampai seperti sekarang ini. Masih banyak cara untuk berterima kasih kepada kedua orang tua selain mendoakan kesehatan beliau dan menjaga nama baiknya dengan tidak bertindak buruk di luar rumah.

Rejekiku pun bertambah ketika awal Januari 2015 diterima mengajar di SMA Vidatra Bontang. Sekolah ternama yang tidak pernah sedikitpun kupikirkan akan menjadi rumah keduaku. Tanggung jawab yang diberikan untuk mengajar siswa kelas XI nyaris kugadaikan dengan kelas 9 SMP saking takutnya menghadapi siswa SMA. Tapi tetap kulaksanakan sebaik-baiknya tanggung jawab di tempat baruku ini bersama murid-murid remaja yang usianya juga tidak begitu jauh dariku. 

Hampir tiga bulan mengabdi di tempat kerja ketigaku ini setelah sebelumnya saat kuliah aku pernah mengajar di Primagama Wahid Hasyim Samarinda, lalu balik ke Bontang aku bekerja di Ganesha Operation, dan insha Allah ini yang terakhir pengabdianku di SMA Vidatra. Awalnya aku tidak pernah merasa sangat ingin menjadi guru. Ketika hampir tiga bulan saya di SMA Vidatra, akhirnya aku menemukan apa yang menjadi cita-citaku. Masuk kuliah di keguruan akibat paksaan kedua orang tua, akhirnya akupun menemukan kenyamanan saat menjadi guru di SMA Vidatra. Aku bisa berinteraksi dengan anak-anak muda yang selalu menganggapku seperti kakak walaupun tiap bertemu di luar sekolah tetap memperlakukanku sebagai ibu guru mereka. Bangga melihat mereka antusias saat mengerjakan latihan dan menyatukan pandangan ke arahku saat menjelaskan materi pelajaran. Bahagiaku ketika mendengar mereka berhasil mendapatkan juara atas keahliannya, senang saat mereka selalu berpesan untuk disaksikan saat mereka bertanding atau tampil di pementasan luar sekolah, senangnya sangat dihargai dan mereka tidak merasa terkekang dengan metode pengajaranku.


Di tempat kerja yang baru, kadang terdiam dan memikirkan usiaku yang sudah 24 tahun tapi belum nikah-nikah, hahaha... Sering ditanya oleh guru-guru di kantor kapan nikah, cuma bisa senyum dan elus dada. Memang tidak punya jawaban dan tidak tahu mau jawab apa. 

Ketika tiap pertanyaan aku anggap sebagai desakan, aku kembali memikirkan kerja keras kedua orang tuaku yang sudah susah payah merawat dan membesarkan, hingga membiayai perkuliahanku di Samarinda selama 4 tahun. Mau hidup 1000 tahun pun aku tetap tidak bisa membalas jasa orang tuaku. Tetapi, selagi kedua orang tua masih ada walaupun keadaan tidak sebugar dulu, kenapa tidak saya berusaha membuatnya bangga dan tidak lagi takut anaknya ini bandel seperti saat sekolah dulu. 

Selalu dipikiran saya adalah orang tua, orang tua dan adik saya. Adik cuma satu dan saat ini insha Allah mengikuti seleksi calon Brigadir Polisi. Tak ada orang tua yang tak khawatir ketika satu anaknya masih belum mendapatkan pekerjaan. Bahkan ketika aku sudah punya kerja pun, beliau masih suka khawatir apakah aku lanjut di SMA Vidatra untuk dalam jangka waktu lama. Apalagi, Si Bapak 3 tahun lagi akan masuk masa pensiun. Akan terasa sia-sia ketika kedua orang tua banting tulang demi masa depan anak-anaknya tetapi anaknya masih saja berkuliah bertahun-tahun belum lulus, belum mendapatkan pekerjaan, dan banyak lagi kekhawatiran orang tua. Karena sesungguhnya orang tua bekerja keras ya memang untuk anak-anaknya supaya bisa setingkat lebih maju dibanding kedua orang tuanya.

Orang tua yang memiliki anak laki-laki jangan dianggap tidak khawatir. Beliau pun khawatir tentang pekerjaan apa nantinya yang akan didapat oleh anak laki-lakinya, cukupkah untuk menghidupi keluarganya kelak, bisakah meniru kebaikan dan kerja keras bapak dalam menaungi istri dan anak-anaknya. Bagi anak gadis, khawatir orang tua juga sama besarnya. Ketika anak gadisnya menginjak usia di atas 23 tahun banyak yang memikirkan akan bersama siapakah anak gadisnya kelak, apakah akan berada dalam naungan yang penuh tanggung jawab dan penuh kasih seperti Bapak yang selalu melindungi kita kapanpun, akankah terbiasa dengan memulai hidup secukupnya dalam sementara waktu bersama keluarga barunya padahal sebelumnya setiap menginginkan sesuatu selalu terpenuhi karena memiliki Bapak yang tanggap dan peduli.


Semua sudah terpikirkan dengan baik di kepalaku. Itulah kenapa aku tidak begitu ngoyo harus menikah secepatnya selagi kedua orang tuaku masih ada. Kalau saja aku menikah setelah lulus kuliah, mungkin aku akan sulit mendapatkan pekerjaan sebaik sekarang ini, aku tidak bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tuaku saat baru gajian karena akan disibukkan dengan kegiatan belanja dengan suami, memikirkan tagihan-tagihan pajak, kedua orang tuaku juga pasti akan segan menghampiriku setiap hari karena menghargai keberadaan suami dan tidak ingin aku dianggap suamiku sebagai anak mami papi dan orang tuaku juga tidak ingin suamiku berpikir bahwa keseringan datang setiap hari akan mempengaruhi pola pikirku terhadap kebiasaan suami, resiko campur tangan orang tua dalam masalahku dengan suami pun akan terjadi. 

Jika aku menikah setelah lulus kuliah pun aku akan lebih canggung karena harus belajar sendiri tanpa tahu masalah apa kira-kira yang sering dialami oleh pasangan muda saat baru menikah, aku tidak akan bisa menghabiskan waktuku bersama murid-murid di luar sekolah karena mengingat ada suami yang menungguku pulang ke rumah, tidak lagi bisa sering berkumpul dengan sahabat-sahabat hingga lupa waktu, dan mungkin setelah aku menikah pekerjaan akan sulit didapatkan sehingga segala sesuatunya aku harus minta sama suami. Bahkan mungkin tidak akan pernah membiarkan adikku satu-satunya merasakan uang hasil jerih payahku sendiri. Terlalu sedih untuk kubayangkan. 

Semenjak aku bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, kedua orang tuaku sudah berpesan untuk tidak meminta dibelikan HP lagi. Segala sesuatu yang merupakan kebutuhanku harus kubeli sendiri dengan uang hasil kerja kerasku. Awalnya sedikit sulit tapi akhirnya terbiasa. Bukan hanya terbiasa mengeluarkan uang sendiri tapi sudah terlatih untuk lebih bersyukur dan IRIT yang paling utama, hahaa...

Terlatih untuk bekerja keras sebelum menikah insha Allah akan melatih untuk tidak malas membantu suami kelak. Beberapa kejadian yang saya temui adalah banyak yang lulusan sarjana dengan cepat menikah membuatnya menjadi tidak aktif dan pilih-pilih saat mencari kerja. Ya boleh pilih-pilih pekerjaan dengan pertimbangan masih memiliki waktu untuk menghabiskan hari dengan suami walaupun sudah kerja nanti. Tapi kalau pilih-pilihnya hanya ingin pekerjaan yang gajinya besar lalu gagal tes, kemudian tidak mencoba lainnya berarti terlihat seperti belum begitu ingin untuk membantu suami. 

Yaa hakekatnya memang istri adalah merawat dan melayani suami. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, kalau kedatangan keluarga dari luar kota untuk menghadiri acara keluarga atau sekedar ingin silaturahmi ke rumah kita, pasti tidak mungkin kita biarkan mereka pulang dengan tangan hampa. Setidaknya kita siap membelikan oleh-oleh untuk dibawa pulang ke asalnya tanpa adanya sokongan uang orang tua. Kalau orang tua membelikan, ya apa salahnya kita bisa membelikan juga dengan uang hasil keringat sendiri. 

Satu contoh lagi kalau adik kita masih menginginkan haknya padahal dia juga sudah kerja, kita masih bisa memberikan uang jajan tanpa harus meminta lagi pada suami. Jika ada keluarga atau orang tua kita mengalami kemalangan, ternyata kita harus membantu dengan sedikit mengeluarkan uang, kita sebagai istri dan masih anak kandung beliau bisa membantu dengan uang kita sendiri tanpa membebani suami walaupun suami mengikhlaskan dan menyarankan untuk menggunakan uang bersama. 

Contoh terakhir adalah jika suatu waktu ternyata kita sudah menikah dan terdapat satu kemalangan besar berupa perceraian, kita berpisah dengan suami, sudah pasti kita akan lari ke rumah orang tua lagi. Malu hati rasanya membebani kembali orang tua yang sudah membesarkan dan menyaksikan haru bahagia kita dan mengikhlaskan anak gadisnya berpindah tanggung jawab oleh suaminya. Orang tua sudah sangat tua masih terus kita bebankan pikirannya. Dengan bekerja dan sudah memiliki tabungan atau penghasilan sendiri, kita masih bisa survive sekalipun suami sudah tidak lagi membiayai dan bercerai dengan kita. Kita masih punya jaga-jaga kalau bekerja walaupun sudah menikah. Tiada yang salah dari wanita yang memegang prinsip akan terus bekerja jika sudah menikah nanti. 


Aku bekerja dan membiayai hidupku sendiri merupakan satu ucapan terima kasihku kepada kedua orang tuaku yang tiada lelah merawatku hingga kini, selalu mendoakanku saat ku terlelap, selalu mendoakanku di puasa-puasa sunnahnya, selalu mendoakanku saat ku lupa bahwa pagi hari pun masih bisa beribadah demi syukurku terhadap sang KUASA. 

Insha Allah kita selalu diberikan anugerah yang sangat baik.

Wanita itu kuat. 
Wanita itu mandiri. 
wanita itu hebat.




Selamat Malaaammm....

4 comments:

  1. hmm, cie ,cie, wah terharu bacanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaa ketahuan anak berbakti ini kalo terharu bacanya

      Delete
  2. Maaf mba..apakah benar setiap tahun ada peningkatan gaji pengajar?

    ReplyDelete
  3. Maaf mba..apakah benar setiap tahun ada peningkatan gaji pengajar?

    ReplyDelete